Menyambut Hari Reformasi; Membangun Persekutuan

Menyambut Hari Reformasi; Membangun Persekutuan 

Oleh Pdt Midian KH Sirait,MTh

Pendeta HKBP Resort Kalimantan Timur, Balikpapan.

 Hari Senin (31/10), hari Reformasi. Dalam 95 dalilnya, Martin Luther, 1517, mengedepankan pernyataan dogmatis dan pastoral yang pada prinsipnya berakar pada refleksi bahwa meski segala kekalutan dan situasi buruk menerjang gereja, namun Roh Tuhan, yang tidak pernah meninggalkan gereja, menyelamatkan juga dari segala situasi.

Atas dasar pemikiran di atas inilah maka pada tahun ini agaknya menyikapi pentingnya merayakan hari Reformasi tersebut, salah satu makna reformasi yang seharusnya dimiliki oleh setiap warga ialah membangun persekutuan. Yaitu di atas dasar bahwa Firman Tuhan (sola scriptura) sebagai dasarnya, disamping iman (sola fide) dan anugerah (sola gratia) yang diberikan Tuhan Yesus menjadi andalannya. Sebagai warga Lutheran, diharapkan gereja dapat hadir bertumbuh untuk bersekutu, melayani dan bersaksi. Kita dapat bertumbuh untuk bersekutu, melayani dan bersaksi. Kita dapat bertumbuh bersama-sama dalam persekutuan yang hangat, karena kita sebagai manusia beriman dan juga makhluk sosial membutuhkan orang lain, dan komunitas sebagai wadahnya.

Melalui komunitas persekutuan tersebut mendorong terwujudnya visi gereja sebagai yang inklusif, dialogis dan terbuka, dimana penampakannya yang dapat dirasakan ialah setiap anggota jemaatnya, pelayannya peduli dengan pembaharuan manusia dan lingkuangan dalam rangka mewujudkan misi Kerajaan Allah.

Sebelum dibicarakan bagaimana membangun persekutuan (fellowship) melalui komunitas, marilah kita simak Kolose 3:15 yang mengatakan: “Hendaklah damai sejahtera Kristus memerintah dalam hatimu, karena untuk itulah kamu telah dipanggil menjadi satu tubuh. Dan bersyukurlah”. Sejalan dengan nas tersebut, Mazmur 133:1 juga menyatakan: “Sesungguhnya, alangkah baiknya dan indahnya, apabila saudara-saudara diam bersama dengan rukun”.

Atas kedua nas di atas, kita mengerti bahwa Tuhan menghendaki agar kita menjalin kehidupan bersama, menjadi satu tubuh Kristus. Kita saling berbagi pengalaman dalam suatu kelompok orang percaya berdasarkan persahabatan dan persaudaraan yang biasa disebut “persekutuan” atau “fellowship”.

Namun dewasa ini kata “fellowship” atau “persekutuan” di dalam nampaknya sudah mengalami kehilangan makna alkitabiah. Masih adanya tembok-tembok pemisah yang sangat dipertahankan. Lebih dari itu, mengisolasi diri dengan menyebut dirinya paling benar, kadang mewarnai persekutuan di antara sesama warga jemaat atau gereja. Kita dapat melakukan kebaktian di gereja, tetapi kita tidak dapat melakukan persekutuan bersama orang banyak. Padahal, yang dimaksudkan dengan persekutuan bukan sekadar berkumpul bersama dalam pelayanan atau warganya, tetapi benar-benar menjalani kehidupan bersama yang saling berbagi dan tidak mementingkan diri sendiri, tetapi saling melayani, saling memperhatikan, menciptakan kenyamanan, dan hal-hal yang berkenan dengan inti dari Alkitab.

Demikian pula kehidupan dalam Tubuh Kristus, orang kristiani diharapkan dapat ikut serta membangun kebersamaan lewat persekutuan. Dengan adanya persekutuan maka sharing, saling memberi pendapat akan memperkaya wahana persekutuan tersebut lebih berarti dan bermakna. Tuhan telah memberikan janji yang luar biaa kepada setiap persekutuan yang dibangun di atas dasar NamaNya. Dalam Matius 18:20 mengatakan, “Sebab di mana dua orang atau tiga orang berkumpul dalam namaKu, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka”. Itu maksudnya, agar persekutuan dapat mencapai tujuan, maka persekutuan harus dibangun, dibina dan dipupuk untuk menjadi komunitas yang benar.

Sudah saatnya, gereja-gereja dan warganya hidup berdampingan dengan melakukan percakapan dengan mengungkapkan dari hati ke hati. Itu dapat terjadi apabila satu dengan yang lainnya saling jujur tentang keberadaan mereka. Mereka secara jujur mengemukakan kepedihan, mengungkapkan perasaan, mengakui kesalahan, keragu-raguan, dan ketakutan, serta menyampaikan kelemahan-kelemahan mereka dan minta dibantu dalam doa.

Harus diakui, membenarkan diri sering bertolak belakang dalam kenyataan, kadang-kadang kita temui di antara mereka terlihat menunjukkan sikap jujur dan rendah hati, namun kenyataannya hanya berpura-pura, berpolitik dan memainkan peran palsu serta membungkus pembicaraan dengan sopan santun yang dibuat-buat. Orang sering menggunakan topeng, memakai pelindung dan berlaku tidak wajar, oleh karena itu perilaku seperti ini akan mengakibatkan kehancuran persekutuan yang kita bangun.

Kita perlu hidup terbuka agar mengalami persekutuan yang nyata. Dalam 1 Yohanes 1: 7-8 mengatakan, “Tetapi jika kita hidup di dalam terang sama seperti Dia di dalam terang, maka kita beroleh persekutuan seorang dengan yang lain, dan darah Yesus, anakNya itu menyucikan kita dari pada segala dosa. Jika kita berkata, bahwa kita tidak berdosa, maka kita menipu diri kita sendiri dan kebenaran tidak ada di dalam kita”. Kegelapan akan menyembunyikan kesedihan, ketakutan, kesalahan, dan keretakan, tetapi di dalam terang kita membawa semua itu menjadi nyata dan terbuka serta berani mengaku siapa diri kita yang sebenarnya. Kita akan lebih bertumbuh bila kita berani mengambil risiko, dan risiko yang terberat adalah menegakkan kejujuran dalam diri kita sendiri dan juga kepada sesama. Dalam Yakobus 5:16a mengatakan, “karena itu kamu saling mengaku dan saling mendoakan, supaya kamu sembuh”.

Kata kunci yang lain yang agaknya penting membangun persekutuan tersebut ialah kesediaan untuk saling memberi dan menerima. Saling memberi dan menerima adalah merupakan seni di dalam membangun relasi antar sesama dan itu tergantung satu dengan yang lain. Dalam I Korintus 12:25 mengatakan, “Supaya jangan terjadi perpecahan dalam tubuh, tetapi supaya anggota-anggota yang berbeda itu saling memperhatikan”.

Saling memberi dan saling menerima adalah merupakan jantung dari persekutuan, yaitu: membangun relasi yang timbal balik, tanggung jawab dalam berbagi (sharing), dan saling menolong satu dengan yang lain. Dalam Roma 1:12 mengatakan, “Supaya aku ada di antara kamu dan turut terhibur oleh iman kita bersama, baik oleh imanmu maupun imanku”.

Seluruh anggota harus lebih berpendirian tetap dalam iman kita ketika orang lain berjalan bersama dan mendorong semangat kita. Alkitab memerintahkan kepada kita untuk selalu bertanggungjawab, saling mendorong, saling melayani dan saling menghormati. Kita bertanggungjawab kepada setiap anggota Tubuh Kristus, karena Tuhan menghendaki kita untuk mengerjakan apa saja untuk membantu mereka. Di samping itu agar persekutuan dapat dibina dengan baik, maka kita harus saling merasakan dukacita. Saling merasakan dukacita, bukan berarti memberi nasehat atau menawarkan jalan keluar, atau berpura-pura membantu, tetapi seharusnya kita “simpati”, yaitu ikut serta dan berbagi kepedihan hati seorang kepada yang lain. Namun kata yang lebih tepat adalah “empati” yaitu: mengenali perasaan, pikiran, sikap dan jiwa orang lain. Dalam empati, kita mengatakan: “Saya mengerti apa yang terjadi pada diri anda dan saya ikut merasakan bagaimana perasaan anda”.

Dengan demikian kita dapat mempertemukan dua kebutuhan manusia yang mendasar, yaitu kebutuhan untuk dimengerti dan kebutuhan untuk pembenaran perasaan. Setiap kali kita perlu mengerti dan menegaskan perasaan seseorang, berarti kita sudah ikut berperan serta membangun persekutuan. Namun kita ini sering terburu-buru untuk menentukan sesuatu dan tidak memiliki waktu untuk memberikan simpati atau empati kepada orang lain. Atau karena kita masih dikungkung oleh rasa sakit hati dan rasa kasihan pada diri sendiri, maka kita sering mengabaikan simpati atau empati pada orang lain.

Akhirnya, baiklah dalam memperingati hari Reformasi tersebut, komitmen kita bersama ialah, tiap manusia memerlukan persekutuan, dari orang-orang yang memiliki kesetiaan pada Tuhan untuk dapat menarik kita dan menguatkan kita, bila ada salah seorang yang mengalami dukacita. Hal itu diharapkan agar di dalam ini, tubuh Kristus semakin nyata keberadaannya. Saling memberi dan saling menerima adalah merupakan jantung dari persekutuan, yaitu: membangun relasi yang timbal balik, tanggungjawab dalam berbagi (sharing), dan saling menolong satu dengan yang lain. Persekutuan adalah suatu tempat untuk menyatakan kemuliaan Tuhan, dan persekutuan kemuliaan Tuhan, dan persekutuan akan menjadi lebih sempurna bilamana kemurahan hati kita masing-masing dapat mengalahkan penghakiman, saling menyalahkan. Mari bersekutu degan mengalaskan persekutuan dengan Tuhan Yesus. Amin Salam Reformasi.

(Penulis: Pernah menjabat Praeses HKBP Distrik X Medan Aceh, melayani Jemaat Kristen di Eropa lewat PGI dan PERKI di tiap kota di Jerman. Anggota MPL PGI di Jawa Timur, Anggota Yayasan Universitas Petra Surabaya, Anggota Pengurus Yayasan dan Dosen di Universitas HKBP Nommensen Medan.) Sekretaris FKUB Medan, Ketua BKAG Kota Medan. Ketua Yubileum 150 Tahun Regio II Kalimantan Borneo.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s