SENI MENDENGAR SUARA TUHAN

Oleh: Pdt Midian KH Sirait,MTh

Tahun 2012 telah menjadi tahun yang penuh dengan tantangan dan cerita keberhasilan bagi sementera orang lain. Namun sejumlah persoalan di negri ini masih terus berlanjut karena belum dapat dituntaskan, hidup dalam suatu masyarakat yang diwarnai dengan berbagai tindak kekerasan, individualdan massal, dengan latar belakang persoalan-persoalan kriminalitas, konflik sosial sebagainya. Korban-korban jiwa dan harta benda pun berjatuhan, dengan meninggalkan berbagai penderitaan

dan kesengsaraan bagi yang bersangkutan. Timbul kesan betapa nyawa manusia telah begitu merosot nilainya berhadapan dengan kebencian, kemarahan. Dalam situasi dan kondisi seperti itu, keadaan yang penuh dengan damai dan sejahtera, rasanya telah hilang atau hanya menjadi dambaan yang tak jelas lagi kenyataannya.

Ditengah perajalanan seperti itu tiap pemimpin di negri ini lebih banyak mendengar suara Tuhan. Terutama dari pihak gereja, dibutuhkan pemimpin yang peka dengan kondisi masyarakat yang ada. Gereja dan umat Kristen serta masyarakat perlu disadarkan pentingnya mendengar suara Tuhan. Tuhan sendiri mau berbicara kepada setiap orang yang percaya kepadaNya. Ia yang memulai pekerjaan yang baik di antara kamu, akan meneruskannya sampai pada akhirnya pada hari Kristus Yesus (Filipi 1:6)

Seni mendengar suara Tuhan

Adalah penting memberikan telinga kita dengar-dengaran kepada suara dan bisikan Tuhan. Maksudnya agar segala harapan, cita-cita dan impian hidup kita lebih ditentukan oleh Tuhan sendiri bukan karena rencana kita sendiri. Yesaya berkata tentang hal itu, manusia merencanakan tetapi Tuhan sendirilah yang akan menentukan. Seni mendengar suara Tuhan nyata juga diajarkan di dalam Alkitab. Alkitab menggambarkan bahwa Allah adalah mendengarkan.Ajaran Alkitab, mendengar suara Tuhan akan bermanfaat untuk menjadi pendengar yang lebih efektif dan mitra peduli kepada dunia, sesama, masyarakat serta lingkungan di mana kita berada. Segi positifnya kita benar-benar merasa, dengan sabar dengan orang lain sebagai kesempatan untuk belajar sesuatu, terbuka untuk mendengarkan. JaDi kemampuan untuk mampu mendengar membuat orang yang kita kasihi merasa layak, dihargai, menarik, dan dihormati. Ketika kita mendengarkan, kita memupuk keterampilan pada orang lain dengan bertindak sebagai model untuk komunikasi positif dan efektif. Citra kemanusiaan yang seperti itulah sepatutnya menjadi jati diri setiap orang Kristen. Akan lebih bermanfaat lebih banyak mendengar daripada banyak bicara. Zaman yang kita hadapi saat ini justru sebaliknya, lebih banyak berkata-kata tetapi dalam perbuatan belum sepenuhnya benar. Dalam rangka untuk menjadi pendengar yang lebih efektif, kita boleh belajar dari Samuel (1 Samuel 3,1-10).

Yakobus menggarisbawahi pentingnya mendengarkan ketika ia menulis bahwa kita “harus cepat untuk mendengar dan lambat bicara.” (Yakobus 1:19). Yesus,juga mengajarkan manfaat dari mendengar itu. Dia mengatakan: “Dia yang memiliki telinga untuk mendengar, biarkan dia dengar!” (Matius 11:15). Yesus memuji Maria kesabaran dan keinginan untuk mendengar firman Allah. Dia menginstruksikan Martha: “Kamu khawatir dan sedih tentang banyak hal, tetapi hanya satu hal yang diperlukan.” (Lukas 10:38-42). Mendengarkan tidak terjadi secara alami tetapi merupakan hasil dari sebuah pilihan sadar. Orang juga dapat membuat keputusan sadar untuk mendengarkan, seperti ketika Musa berkata: “Bicaralah kepada kami sendiri dan kami akan mendengarkan Tetapi tidak memiliki Allah berbicara kepada kita atau kita akan mati..” (Keluaran 20:19).

Samuel mendengar Tuhan berbicara dalam keheningan sebelum fajar. Kisah ini dimaksudkan untuk menjaga kita mendengarkan, mendengarkan panggilan Allah atas hidup kita, mendengarkan di zaman baik dari kehidupan dan yang buruk, mendengarkan saat kita sibuk, dan ketika kita di waktu luang, saat-saat yang berisik, dan saat keheningan itu memekakkan telinga. Dalam kunjungan berulang Samuel kepada Bai Allah, saat Tuhan memanggilnya, kita belajar peran Gereja dalam membantu setiap individu memahami dan memperjelas suara Tuhan bekerja dalam hidup mereka. Dengan demikian jika kita ingin berhasil dalam menapaki minggu, bulan di tahun 2012 ini, kepekaan mendengar suara Tuhan harus diberi tempat yang layak dalam setiap pengambilan kebijakan, pelayanan dan pekerjaan kita sehari-hari. Kepekaan membiarkan Allah berbicara kepada pribari-pribadi jemaat menjadi prioritas untuk mencapai cita-cita, tanpa harus merasa lebih baik seolah-olah sudah mampu berbuat sesuatu pekerjaan yang lebih besar.

Seni berkomunikasi sehat membantu mencari solusi

Berkomunikasi melalui lebih banyak mendengarkan daripada berbicara akan membantu mencari solusi diokala kita harus menghadapi kesulitan dan problema kehidupan. Orang mungkin akan merasa lebih dihargai jika mereka diberi kesempatan berbicara. Dalam era informasi di mana ide-ide baru yang dihasilkan pada tingkat yang cepat sebagai fakta, tiap orang Kristen bahkan gereja mampumengendalikan dirinya. Pengendalian diri juga amat bermafaat ketikakita mampu mendengar lebih bayak dari hanya berbiacara doang. Akan kah hal itu dimiliki oleh setiap hamba Tuhan, pelayaan, jemaat dalam menapaki tahun 2012 yang sudah berjalan itu?

Belajar mendengar adalah proses seumur hidup yang tidak pernah berakhir. Orang tua mendengarkan anak-anak mereka membantu membangun harga diri mereka. Dalam dunia bisnis, mendengarkan menghemat waktu dan uang dengan mencegah kesalahpahaman. Tegasnya, keterampilan mendengarkan bahan bakar kesuksesan. Panggilan kita di tahun 2012 juga mengajak setiap masyarakat, gereja, orang Kristen, termasuk Pelayan Pendeta, diajak untuk lebih banyak mendengar Firman Tuhan dalam melayani Tuhan dan sesamanya, yaitu jemaatNya. Merancang pelayanan gereja (HKBP) ke depan, terutama dalam menghadapi pemilihan fungsionaris, hendaknya pelayan yang rajin mendengar suara Tuhan yang dibutuhkan tahun 2012 ini, karena itu akan berlaku dari setiap aras bawah sampai ke atas. Tentu syarat lain, yaitu sikap rendah hati ini sangat menolong orang yang susah untuk mendengar suara Tuhan Yesus.

Akhirnya, mendengar suara Tuhan adalah “panggilan” Allah kepada kita di tahun ini. Semoga kita terus mendengar Allah berbicara agar setiap orang berusaha untuk memenuhi kehendak Allah setiap hari untuk yang terbaik dari kemampuan kita. Orang percaya harus hidup dalam terang, sehingga mendapat persekutuan seorang dengan yang lain, karena darah Yesus, telah menyucikannya dari segala dosa, 1 Yoh 1:7. Dengan itu, setiap anggota Tubuh Kristus, harus memperhatikan satu sama lain, sesama warga, tanpa membedakan suku, ras, golongan, dan jenis kelamin, dan semua latar belakang lainnya. Semuanya merupakan sesama saudara karena kasih TUHAN Yesus Kristus.

Warga dan gereja menunjukkan perhatian kepada masyarakat di luar gereja, “Bertolong-tolonganlah menanggung bebanmu! Demikianlah kamu memenuhi hukum Kristus. Karena itu, selama masih ada kesempatan bagi kita, marilah kita berbuat baik kepada semua orang, …,” Gal 6:1-10; Mat 25:31-46. “Inilah aku Tuhan, aku datang untuk melakukan kehendakMu.” (Mazmur 40). Amin. (Penulis: Pendeta HKBP Resort Kalimantan Timur.)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s