SPIRITUALITAS DAN HUBUNGAN YANG HARMONIS SESAMA PELAYAN

SPIRITUALITAS DAN HUBUNGAN YANG HARMONIS SESAMA PELAYAN

Oleh: Pdt Midian KH Sirait, MTh

PENDAHULUAN

Rapat Pendeta se-HKBP, sekali dalam 4 tahun, akan digelar pada bulan Augustus 2009 mendatang di Semanirum Sipoholon. Untuk menyambut Rapat Pendeta dimaksud, maka dalam Aturan dan Peraturan HKBP di tiap Distrik akan menggelar Rapat ditingkat Distrik. Sub-Tema dari Rapat Pendeta HKBP tsb menyoroti tentang hubungan sesama pelayan Walaupun “Parhahamaranggion” antar Pendeta sudah sering disinggung dalam rapat-rapat Pendeta yang lalu, tetapi tidak kurang pentingnya bagi kita untuk mendiskusikannya lagi saat ini. Hal ini sangat perlu untuk mengingatkan, agar kita selalu berusaha membangun dan memelihara hubungan yang harmonis antar Pendeta, bahkan sesama Pelayan. Parhahamaranggion atau hubungan yang harmonis hanya dapat terwujud apabila didukung spiritualitas Pendeta yang tinggi. Dan hendaknyalah setiap Pendeta memikirkan ini, dan selalu berusaha meningkatkan hidup spiritualitas demi terwujudnya parhahamaranggion yang harmonis antar sesama pelayan. Hal ini merupakan harapan kita semua sekaligus memenuhi harapan warga gereja yang tentunya sangat mendukung pelayanan kita di tengah-tengah gereja.

PENGERTIAN SPIRITUALITAS

Kata “Spiritualitas” sering dan banyak dipergunakan disana-sini, tetapi setiap orang memberi arti yang berbeda-beda. Spiritualitas bukanlah perilaku yang lahiriah yang hanya dapat dilihat, tetapi lebih dari situ, bahkan tidak dapat dilihat. Andar Ismael mengatakan : “Spiritualitas adalah getaran hati yang religius atau cita rasa religius”. Lebih lanjut dikatakan, bahwa spiritualitas adalah sebuah unsur untuk agama. Tanpa spiritualitas maka hidup keberagaman kita hanya terikat pada hal-hal lahiriah belaka. Kemungkinan sekali itulah yang dimaksudkan oleh Yesus kepada perempuan Samaria; Allah itu Roh dan barangsiapa menyembah Dia, harus menyembahNya dalam Roh dan Kebenaran (Yoh.4 : 24). Itulah spiritualitas katanya. Sekali lagi, spiritualitas adalah getaran hati yang halus atau cita rasa yang halus tentang yang Ilahi, yang terdapat dalam hati sanubari seseorang.

Spiritualitas adalah riak getaran insani yang timbul karena merasakan sentuhan halus dari yang Ilahi. Hal ini mengingatkankan kita, bahwa Allah itu Roh. Allah itu halus, tidak tampak dan tidak dapat diraba. Karena Allah itu halus, sepatutnya perilaku beragama kita pun halus. Selanjutnya dalam kamus Bahasa Inggris, Spiritualitas-Spirit berarti rohani-kerohanian. Agaknya itulah yang dimaksud dalam bahasa Batak : “Marpartondiaon”. Dalam tugas pelayanan sebagai Pendeta, apakah kita benar-benar “Mapartondion”, berkerohanian (Spiritualitas), berdedikasi yang disertai dengan kelemahlembutan dan cinta kasih yang adalah buah Roh Kudus (Gal.5 : 22).

ARTI DAN MAKNA SPIRITUALITAS BAGI PENDETA

Sukidi dalam buku New Age-nya mengutip perkataan Schumacher penulis buku Small Is Beautiful : “Segala krisis justru berangkat dari krisis spiritual dan krisis pengenalan diri kita terhadap yang absolut, Tuhan”. Kalau kita renungkan perkataan ini ada benarnya. Tidak dapat dipungkiri, bahwa Gereja menginginkan supaya Pendetanya berpendidikan tinggi, namun bukan hanya itu satu-satunya yang menjadi syarat utama, tetapi disamping itu harus memiliki spiritualitas ataupu “Marpartondion”. Apabila seseorang Pendeta tidak memiliki spiritualitas yang tinggi akan berakibat fatal terhadap diri, tugas pelayanannya, juga terhadap gereja kita. Oleh karena itu, sudah sepantasnya kita memelihara dan meningkatkan hidup spiritualitas kita sebagai Pendeta yang mengandung arti dan makna penting bagi diri, tugas kita sebagai pelayan, mencakup hubungan kita sesama pelayan. Tidak baik kalau kita hanya menggembalakan anggota jemaat melalui kotbah dan pengajaran, tetapi tidak menggembalakan diri kita sendiri dalam arti tidak memelihara dan meningkatkan hidup spiritualitas kita. Dalam Matius 7 : 29 dikatakan; “Sebab Ia (Yesus) mengajar mereka sebagai orang yang berkuasa, tidak seperti ahli-ahli Taurat-Ai marsahala do pangajarionna…!”. Yesus ‘marsahala’ karena kotbahNya sepadan dengan hidupNya.

Kalau tidak salah mengingat, itulah sebabnya ompui DR.J.Sihombing(+) pernah mengatakan; “Jamitana i do dihangoluhon, jala ngolunai do dijamitahon”. Banyak hal-hal yang menyebabkan seseorang hamba Tuhan jatuh. Salah satu diantaranya ialah karena dia tidak memiliki spiritualitas yang tinggi, dan tidak memiliki iman yang tangguh sehingga tidak mampu mengendalikan diri dan hawa nafsunya. Memang kita bukan manusia sempurna, tetapi setidaknya kita seharusnya menampilkan seperti itu. Demikian dikatakan oleh Merlin Carothers. Oleh karenanya, sebagai seorang Pendeta yang memiliki spiritualitas yang tinggi kita harus bisa menampilkan diri kita sebagai TELADAN.

Dalam Tata Kebaktian Penahbisan Pendeta dikatakan ; …..Hendaklah menjadi teladan bagi mereka yang dipercayakan bagi saudara. Pendeta tua dapat menempatkan diri mereka sebagai teladan kepda yang lebih muda, dan pendeta yang muda bersikap hormat kepada yang lebih tua misalnya. Supaya kita dapat menjadi teladan, kita harus memandang kepada Yesus, dimana Dia datang bukan untuk dilayani tetapi melayani (Mat.20 : 28, Mark.10 : 45) Selanjutnya, sebagai hamba Tuhan, kita harus mampu menampilkan diri kita sebagai ‘pelopor kasih’. Ompui DR.J.Sihombing(+) dalam ceramahnya pada rapat Pendeta mengutip ucapan Martin Luther; “Ia holong, ido puncu, ido mual ni nasa na targoar hadaulaton”. Didok muse; Sahalak Pandita na so adong holong ido na gabe basir-basir di dirina, ulaonna pe ndang tagamon marparbue. Ai nang pe godang halojaonna, godang parbinotoanna, malo marorganisasi, magopo do sudenai molo so adong holong. Kemudian seorang Pendeta harus mampu menunjukkan sikap yang penuh kerendahan hati. Ketika Yesus membasuh kaki murid-muridNya dengan sukarela dan rendah hati Dia mengambil peran seorang hamba (Yoh.13 : 1-7). Hal ini merupakan contoh bukan saja hanya kepada murid-muridNya tetapi juga kepada para Pendeta. Bagaikan seorang pelayan yang menghidangkan makanan di atas meja, demikianlah Pendeta menghidangkan makanan rohani anggota jemaat melalui pemberitaan firman Tuhan Allah.

TERCIPTANYA HUBUNGAN YANG HARMONIS ANTAR PELAYAN

Sejak dahulu sudah merupakan suatu kommit, bahwa hubungan sesama Pendeta HKBP adalah didalam hubungan “PARHAHAMARANGGION” tanpa memandang latar belakang kehidupan dan pendidikan. Hal ini perlu mendapat perhatian dari kita bersama; apakah masih tebal ‘parhahamaranggion’ atau apakah sudah semakin menipis (erosi). Tidak dapat dipungkiri, bahwa kadar spiritualitas seorang Pendeta sangat menentukan bagaimana dia bersikap kepada temannya Pendeta juga kepada sesama teman pelayan lainnya, apakah dia tinggal di kota metropolitan, kota dan semi kota, di huta-huta atau di pispisri. Apabila seseorang Pendeta memiliki spiritualitas yang tinggi, dia itu tidak pernah melihat dirinya lebih hebat atau lebih super dari temannya (Band.Pil.2 : 3), melainkan jauh dari segala bentuk kesombongan, keangkuhan, dan kecongkakan yang adalah merupakan racun didalam pergaulan. Selanjutnya, seorang Pendeta hendaknyalah memiliki spiritualitas yang tinggi yang didalamnya terkandung kerendahan hati. Dan didalam kerendahan hati sesama Pendeta ataupun sesama pelayan dapat saling menerima, saling menghargai, dan saling menghormati, sehingga terciptalah hubungan yang harmonis antar pelayan. Sehingga secara tidak langsung hilanglah anggapan orang; Ai so binoto be angka pandita on, ai nasida pe ndang sada be, ndang masihormatan be, isara na umposo tu na matua, jala nunga olo masiparoaan. Walaupun ada anggapan seperti itu, semuanya itu akan hilang apabila setiap Pendeta tetap menjaga dan memelihara hubungan ataupun parhahamaranggion yang harmonis.

Disinilah perlunya peningkatan hidup spiritualitas bagi seorang Pendeta. Kemudian di pihak lain, Yesus menunjukkan persaudaraan yang lebih dekat karena firman Allah daripada persaudaraan karena hubungan darah (Luk.8 : 18-21). Hal ini memberikan suatu gambaran bagi kita; Alangkah indahnya hubungan sesama pelayan apabila didasari dan dilandasi kedekatan kepada Tuhan melalui penghayatan yang mendalam akan firmanNya yang intinya adalah kasih. Apabila para Pendeta memiliki hidup spiritualitas atau hidup kerohanian yang tinggi-marpartondion, sudah barang tentu hubungan kita sesama Pendeta ataupun antar pelayan akan diikat cinta kasih, dan kita jauh dari saling menjelek-jelekkan, tetapi sebaliknya saling mencintai, seperasaan-sapangkilalaan, solidaritas atau kesetiakawanan semakin nampak dan nyata.

KESIMPULAN

Dari uraian-uraian di atas dapat kita tarik kesimpulan, bahwa : Hidup spiritualitas seorang Pendeta sangat menentukan akan hubungan yang harmonis sesama Pendeta yang pada akhirnya sesama pelayan. Sudah barang tentu, sangat diperlukan peningkatan spiritualitas Pendeta, sehingga dengan demikian kita dimampukan menjauhkan gaya hidup yang diwarnai kesombongan, dan mampu menempatkan diri menjadi teladan disertai sikap yang penuh kasih dan kerendahan hati. Sebagai hamba Tuhan, tidak saatnya lagi saling menjelek-jelekkan (masiparoaroaan-masihatahataan), tetapi dengan didasari cinta kasih dari Tuhan dapat saling menerima, saling menghormati, dan saling menghargai. Amin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s