Kesaksian Alkitab: Menyikapi Kekayaan, Uang dan Harta

Kesaksian Alkitab: Menyikapi Kekayaan, Uang dan Harta

Oleh: Pdt Midian KH Sirait, MTh

Pendahuluan

Dunia kita dewasa ini dibawa kepada semangat materialisme yang sangat kuat. Manusia menjadi manusia yang konsumeristis dan gaya hidup konsumtif. Iklan-iklan berbagai produk, dari kosmetik sampai kendaraan begitu memikat, sehingga membangkitkan minat banyak orang untuk memiliki apa saja yang disajikan oleh dunia ini. Korupsipun dilaksanakan asal memenuhi kebutuhan dimaksud. Keadaan ini membuat banyak orang tidak dapat membedakan antara “apa yang menjadi kebutuhan” dan “apa yang diingini atau dihasrati”.

Tidak semua barang yang diinginkan adalah kebutuhan. Kebutuhan dan keinginan merupakan sesuatu yang sangat berbeda. Kalau seseorang sudah tidak bisa membedakan manakah kebutuhan, yaitu apa yang benar-benar dibutuhkan untuk menjalani hidup ini dengan keinginan, maka rusaklah kehidupannya.

Rasul Paulus meminta kepada Timotius, supaya ia mengajarkan dan menasehatkan,bahwa ibadah yang benar adalah ibadah yang penuh rasa cukup dan syukur. Sebab sesungguhnya Tuhan telah memberikan banyak sekali hal kepada manusia, sehingga ia tidak pernah berkekurangan.Akibat kerasukan dan ketamakan, banyak orang telah menyimpang dari iman. Dengan menimbang-nimbang hidup kita sendiri,apakah kira-kira kita sudah tidak tergolong orang rakus dan tamak? Bagaimana sikap kita terhadap kekayaan dan uang? Apa sesungguhnya yang kita cari dan kejar dalam hidup ini?

Jauhilah hidup serakah

Iman Kristen pada prinsipnya tidak pernah melarang umat untuk menjadi kaya; dan juga tidak pernah menganjurkan umat untuk hidup miskin. Tetapi yang diingatkan dan dinasihatkan oleh iman Kristen terus-menerus adalah bahaya dari sikap keserakahan untuk memperoleh kekayaan.  Sikap serakah bukan bukan sekedar sikap yang ingin memperoleh banyak seperti uang dan harta benda, tetapi sesungguhnyanya sikap serakah merupakan suatu hawa nafsu yang liar dan tidak pernah terpuaskan sehingga orientasi hidup dialihkan secara total kepada keinginan yang duniawi.

Sikap seseorang yang serakah dalam kekayaan berarti mereka secara sengaja dan sadar untuk menjadikan mamon sebagai penentu hidupnya. Keserakahan ini ternyata di dalam Alkitab disamakan dengan berhala (Kolose 3:5; and covetousness, which is idolatry, ketamakan adalah berhala). Kata berhala di sini dalam bahasa Inggris diterjemahkan dari “idolatry”. Kata ini sebenarnya berasal dari bahasa Yunani “eidololatreia”. Dua kata yang digabung eidolo dan latreia. Edolo adalah berhala dan latreia berarti berbakti. Berhala itu berarti kebaktian kepada obyek lain di luar Tuhan. Tuhan menentang ini dengan hukum pertamaNya: Jangan ada padamu allah lain dihadapanKu.

Banyak orang modern yang menganggap keserakahan bukan dosa yang membahayakan bahkan tidak menyadari sama sekali bahwa ini suatu dosa utama. Inilah yang membuat kita tidak mau mengerti bahwa Tuhan menghendaki agar kita puas dengan apa yang ada. Kita harus bisa membedakan manakah kebutuhan manakah keinginan. Tuhan menghendaki kita merasa cukup dengan apa yang ada sehingga keinginan kita diisi oleh kerinduan perkara-perkara yang di atas (Kol 3:1-4).

Dalam  1 Tim 6:8 dikatakan : “Asal ada makanan dan pakaian cukuplah.” Maksudnya adalah, yang penting bagaimana seseorang dapat menjalani hidup ini. Berkenaan dengan hal ini, Tuhan Yesus mengajarkan kita agar mengucapkan doa Bapa kami: “Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya. Rasa cukup dalam teks aslinya adalah “autarkeias” yang berarti self-satisfaction (kepuasan pribadi), contentedness (kepuasan) juga berarti competence (kompetensi, wewenang). Autarkeias hendak menunjukkan sikap hati yang merasa cukup dengan apa yang dimiliki.

Rasa cukup memang relatif. Cukupnya seseorang berbeda dengan orang lain. Tetapi seseorang dapat menguji apakah yang diingini itu memang benar-benar kebutuhan atau ternyata berunsur keserakahan, kesombongan dan upaya meningkatkan harga diri. Keserakahan di dalam Alkitab sering dikemukakan sebagai dosa utama. Mengapa keserakahan disebut sebagai dosa utama? Sebab

Apabila kita serakah dan mengabdi kepada mamon, maka seluruh uang dan harta yang kita miliki akan kita gunakan untuk mendukung seluruh program kuasa duniawi, kita manfaatkan untuk menekan orang-orang yang lemah, kita gunakan uang yang ada untuk ketidakadilan dan kejahatan. Jika demikian, bagaimana orientasi hidup kita yang sesungguhnya? Apakah hidup kita kini makin tertuju kepada Allah dan Kristus, ataukah hidup kita tertuju kepada Mamon? “Tetapi mereka yang ingin kaya terjatuh ke dalam berbagai-bagai nafsu yang hampa dan yang mencelakakan, yang menenggelamkan manusia ke dalam keruntuhan dan kebinasaan” (1 Tim. 6:9).

Kasihilah sesamamu yang membutuhkan kekayaanmu!

Orang Kristen yang dengan semangat iman sungguh-sungguh mau bekerja keras, rajin, penuh dedikasi, dipercaya, dan terus mengembangkan seluruh talenta yang telah Tuhan percayakan kepada mereka pastilah mereka menjadi orang yang sukses. Karena, mereka sangat giat bekerja, terus mengembangkan karier dan makin profesional karena didasari oleh rasa tanggungjawab dan kasih kepada Allah. Mereka mendapat banyak berkat dari Allah, namun mereka tahu ke mana dan bagaimana mereka harus mengelola dan menyalurkan seluruh berkat Allah tersebut secara tepat dan berkenan di hati Allah. Sehingga walaupun mereka mendapat banyak berkat dari Allah, mereka juga dengan hati yang tulus dan penuh kasih mempersembahkan seluruhnya kepada Allah untuk karyaNya, untuk keselamatan dan kesejahteraan bagi sesamanya.

Manakala kita mengasihi Allah, dan juga mengasihi sesama seperti diri kita sendiri maka kita tidak perlu takut dipercayakan oleh Tuhan kekayaan yang berlimpah. Sebab kekayaan  berlimpah yang dipercayakan Tuhan kepada kita tersebut akan kita salurkan secara bertanggungjwab untuk pekerjaan dan kemuliaan nama Tuhan, serta akan kita gunakan untuk memberdayakan dan menolong sesama yang  miskin dan menderita.

Orang Kristen bolehkah menjadi kaya?

Banyak orang  ingin menjadi kaya secara mendadak sehingga akhirnya mereka terjatuh dalam berbagai nafsu yang hampa dan yang mencelakakan. Jadi hasilnya sungguh mengerikan, sebab kehidupan dan masa depan mereka hancur. Rasul Paulus berkata: “Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka” (1 Tim. 6:10). Kehausan untuk memburu kekayaan bagaikan seorang yang sedang terdampar kehausan di tengah laut, sehingga dia nekat untuk minum air laut. Akibatnya rasa haus yang luar biasa menyerang dia, dan makin menjadi-jadi rasa hausnya, sehingga akhirnya dia mati dengan keadaan yang sangat menderita. Kita perlu menentukan pilihan kita saat ini juga. Berbahagialah kita yang lebih memilih kesetiaan dan kasih kepada Allah.

Paulus tidak mengatakan ‘perintahkan orang kaya untuk berhenti menjadi kaya’ tetapi ‘perintahkanlah orang kaya supaya mereka kaya di hadapan Allah.’ Berarti kekayaan dan kelimpahan bukanlah hal yang salah dan berdosa. Tuhan tidak pernah memerintahkan orang kaya untuk berhenti menjadi kaya. Uang dan harta itu boleh datang secara akumulatif di dalam hidup kita karena tidak bertentangan dengan prinsip yang Alkitab.

Akhirnya, kita berharap, bahwa apa pun pekerjaan kita, baik di lingkungan sempit, atau di lingkungan luas; baik berpangkat rendah, terlebih berpangkat tinggi; hendaknya bekerja seperti untuk Tuhan, agar menghasilkan berkat bagi sesama. Banyak pihak menanti hasil kerja kita. Keluarga kita masing-masing, kelompok umat yang menugaskan kita, bangsa dan negara yang memilih kita dengan memercayakan pelbagai macam jabatan prestisius, juga Tuhan yang dari surga melihat kita hidup dan bekerja di dalam dunia ini. Bukankah kita boleh memiliki sesuatu, asal mendapatkannya dengan bekerja. Orang yang bekerja keras, orang yang sungguh-sungguh membanting tulang, orang yang berusaha dengan baik di dalam hidupnya, dengan sendirinya akan berkecukupan dan bahkan berkelimpahan. Ini adalah tanggung jawab kita. Dengan membagikan sesuatu kepada orang lain, berarti ada kelebihan dari miliknya, yang dipakai untuk kemajuan kerajaan Allah. Amin (Penulis: Pendeta HKBP, Direktur Unit Usaha Percetakan HKBP, Pematang Siantar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s