PEMBERDAYAAN JEMAAT AMA HKBP

PEMBERDAYAAN JEMAAT AMA HKBP dalam kerangka membangun tubuh Kristus

Oleh: Pdt Midian KH Sirait, MTh

Praeses HKBP Distrik X Medan Aceh

 Saudara yang dikasihi Tuhan Yesus, saya lebih senang kalau Parheheon Ama HKBP Distrik X Medan Aceh sore ini diberi judul “Pemberdayaan Jemaat Ama HKBP”. Apakah maksud yang terkandung di dalam judul tsb, “pemberdayaan Ama HKBP? Mungkin kita akan bertanya, apakah selama ini di HKBP itu belum diberdayakan? Jawabnyan, yang pasti sudah. Namun belum sepenuhnya diberdayakan. Masih ada Ama di gereja itu yang passif, tidak ambil bagian dalam pelayanan. Seolah-olah pelayanan di gereja itu hanya tanggung jawab dari Majelis Gereja. Atau ada sering memojokkan atau meplesetkannya, begini, soal-soal yang bersifat rohani bukan urusan Ama. Yang mengurus soal-soal keriohanian cukup diberikan kepada Sintua misalnya, Pendeta Guru dan Bibelvrouw, evangelis.

Ada saja Ama yang lebih senang, kalau yang hehe atau bangkit itu, adalah Sekolah Minggu, Remaja, Naposobilung atau kaum perempuan. Ama sering kurang mendapat tempat. Contoh lainnya, dalam Almanak HKBP, atau kalender gereja, tiap bulan November itu di HKBP adalah bulan kebangunan rohani Ama. Artinya setiap bulan itu, HKBP menghargai para kaum Ama, kaum Bapak sebagai jemaat, juga harus hehe bangkit. 

Yang pasti, dengan parheheon atau pemberdayaan jemaat Ama ini, ingin berbicara kepada semua Ama, bahwa sudah saatnya kita melaksanakan parheheon ini bukan hanya dimaksudkan sekedar upacara seremonial saja, hanya berpusat kepada ibadahnya saja. Bukan hanya tu maksud parheheon, pemberdayaan Ama ini.

Dalam panggilan gereja, yaitu HKBP, sebagaimana dimakisudkan dalam Aturan HKBP 2002, ada tiga tugas panggilan dari tiap gereja itu, yaitu dipanggil untuk melaksanakan koinoni, dipanggil untuk melaksanakan pekabaran Injil, misi sending. Dan dipanggil untuk berbuat sesuatu bagi orang lain, kalau selama ini gereja hanya mengurusi dirinya sendiri, sudah saatnya sesuai dengan tugas panggilan yang sering disebut tri tugas panggilan gereja tsb, kaum bapak jemaat Ama diikutkan berperan dalam melaksanakan ketiga pilar gereja tsb.

Seperti yang dimaksudkan di atas tadi, HKBP dalam melaksanakan tugasnya, agar menjadi gereja yang menjadi berkat bagi orang lain, tugas tsb tidak saja tugas para gembala sidang, tetapi tugas semua warga, tugas Am dari gereja. Terserah, apakah Ama itu akan berfungsi melaksanakan tugas koinonia, atau tugas sending dan diakona gereja. HKBP telah memberikan perhatian dan tempat bahwa Ama diikutkan.

Artinya, setelah kegiatan parheheon se ditrik ini, nantinya kembali ke pada gereja masing-masing supaya Ama itu berperan dalam penyelenggaraan tugas imamat Am, tugas panggilan semua jemaat dalam tujuan untuk membangun tubuh Kristus menjadi gereja yang punya aksi dan jangan jalan ditempat, tetapi arakarakan kepada semua orang untuk berbuat sesuatu.

Di sanalah jemaat Ama HKBP, bisa diberdayakan sesuai dengan talenta masing-masing.  Tak salah rasanya jika gereja kita mau ingin maju, dan saling menopang serta menghargai kelebihan yang lain, Ama bisa lebih banyak berbuat lagi.

Pertanyaan berikut, apakanya yang mesti dibersdayakan? Sebelum kita ikut dibersdayakan, maka kita harus mengevaluasi diri dulu, kiranya kira apa yang sudah dibuat gereja dengan lingkungannya dirinya dan orang lain? Tak salah jika HKBP harus berbenah diri, untuk meniti perjalanan gerejaNya  ke depan, mengevaluasi tentang peran yang harus ditunjukkannya sebagai gereja yang terpanggil sebagai gereja yang melayani, menjadi garam dan terang dunia, bahkan berperan untuk menegakkan keadilan dan kedamaian di segala linie kehidupan. Dan yang telah menetapkan derap langkahnya melalui visi misinya. Sebagai gereja yang terbuka, dialogis dan inklusif, pantas salah satu jemaat yang harus diberdayakan untuk ikut serta berak-arakan menyongsong hari kedatangan Tuhan Yesus, yaitu kaum Ama, Bapak, diikutsertakan lebih berperan aktif dalam setiap pelayanan gereja.

Wadah yang selama ini disebut, Seksi Ama, pantas melalui program kegiatannya dapat lebih dibangkitkan lagi agar menjadi jemaat yang memerankan dirinya ikut membidani pelayanan HKBP menjadi lebih berarti dalam kerangka kemandirian HKBP dapat menjadikan berkat kepada orang lain. Menjadi berkat bagi sesamanya. Dengan peran seperti itu Ama dapat diberdayakan disetiap kegiatan gereja.

Oleh sebab itu , pantas pertanyaan ini kita jawab. Mengapa Ama harus Bangkit? Itulah pertanyaan kita. Bukankah Ama selama ini telah bangkit? Yang pasti, di tengah era globalisasi, semua gereja seharusnya memberdayakan (empowering) warga jemaatnya  jika gereja mau bertumbuh secara sehat. Pemberdayaan warga jemaat tujuannya untuk dan memberikan kesempatan semua pihak untuk ikut serta menumbuhkan gerejaNya. Meskipun kita sadar, pertumbuhan hanya dimungkinkan oleh Allah sendiri. Namun, kita ketahui bahwa tiap jemaat juga diikutsertakan Yesus untuk menumbuhkan GerejaNya, baik melalui ibadahNya dan talenta yang dimilikinya.

Tujuan dari semua pemberdayaan dimaksud ialah untuk memberlakukan Kerajaan Allah, sekarang dan besok. Kerajaan Allah yang harus diberlakukan di dunia dan di mana kita berada, yaitu memberlakukan di mana ada damai, ada kesejahteraan, ada perhatian, ada saling menolong, ada saling menghormati di antara sesama jemaat dan sesama orang lain. Hanya dengan itu maka kerinduan untuk memberi kesempatan dan peluang kepada warga jemaat,khususnya seksi Ama, mereka telah diikutkan untuk menumbuhkan gereja menjadi gereja yang bersekutu, bersaksi dan berdiakonia.

Dengan kata lain, pemberdayaan di setiap jemaat atau gereja harus diberlakukan . sebab itu kita boleh belajar dengan metode dan cara yang telah dirintis oleh Rasul Paulus, dalam suratnya ke jemaat Korintus. Rasul Paulus, secara filosofi dia berkata jika gereja mau bertumbuh dan bersatu kalau prinsip satu tubuh menjadi bagian tak terpisahkan dari pelayanan gereja tersebut.

Paulus melalaui teologi pemberdayaannya dengan mencontohkan kesatuan mata, hidung, mulut, telinga, kaki, jantung, tangan dan sebagainya, dan ada pembagian tugas yang proporsional pasti dapat mengatasi setiap persoalan-persoalan jemaat. Tidak saja persoalan gereja, tetapi masalah peran gereja menjadi berkat kehadirannya. Agar menjadi berkat, maka Ama juga bagian dari alamat berkat itu. Ketika Tuhan Yesus memberkati seksi Ama, kaum Bapak, yang menurut Rick warren dalam bukunya berjudul “The Purpose Driven Church” menulis: Allah mengendaki gerejaNya bertumbuh. Kalau jemaat anda sehat secara murni, anda tidak usah kuatir tentang pertumbuhannya”. Itu sebabnya gereja dengan memberdayakan jemaatnya akan berpeluang menjadi gereja yang bertumbuh dan sehat tanpa ada persoalan di dalamnya.

Atas dasar pengertian di atas inilah, alangkah sedihnya jika gereja tidak mau membuka diri dan ikut bersekutu dengan yang lain. Jemaat HKBP, Ama, tidak zamannya lagi harus tertutup bekerja secara kebersamaan melalui pemberdayaan sumber-sumber daya dengan terencana.

Di banyak gereja yang masih asyik berselisih tidak memiliki tanda-tanda kesatuan disana, karena di dalamnya kepentingan pribadi lebih dominan. Pada hal Tuhan Yesus mengendaki agar gerejaNya  dapat bangkit dan menjadi terang secara efektif bagi banyak orang yang belum diselamatkan. Gereja yang sehat harus mempunyai visi untuk menjangkau dunia dan membuat rencana untuk menerangi dan menggarami dunia (mat 5:13-14).

Tak heran dewasa ini, jemaat semakin kritis dan mengkritisi pelayanan gereja. Oleh sebab itu saatnya Ama di dalam pelayanan gereja harus tertantang, peran apa yang semestinya dapat dicita-citakan dan dirindukan oleh Yesus. Ang pasti, kita harus berusaha melakukan apa yang dapat kita lakukan semaksimal mungkin dan dengan sebaik-baiknya untuk keselamtan manusia dan demi kemuliaan nama Tuhan. Tugas dan panggilan itu agung dan besar kita tidak boleh bersandar pada kepandaian, pengalaman dan keterampilan sendiri.

Melalui upaya memberdayakan kaum Bapak, tujuannya agar pertumbuhan gereja itu semakin menyatakan kasih, iman dan pengharapan. Gereja yang sehat harus mengalami pertumbuhan keluar (tidak hanya ke dalam), yaitu dengan terlibat dalam pengutusan pemberitaan Injil sebagai tugas kesaksianNya. Gereja yang bertumbuh cirinya adalah memberikan dorongan semangat dan contoh teladan bagi gereja-gereja dan masyarakat lainnya.

Atas dasar di atas, maka gereja melalui pemberdayaan jemaat harus mengembangkan pengaruh sosialnya di masyarakat di mana gereja itu berada. Makin orang beriman dan bertaqwa kepada Allah maka orang itu makin menghargai orang lain. Makin seseorang dekat dengan Allah maka ia makin dekat dengan semua manusia hanya dengan mendekatkan diri dengan semua  orang maka seseorang akan makin dekat dekat dengan Allah. Pesan Injil akan lebih relevan dan kredibel apabila kita dapat merelevansikannya dalam hidup bersama dan demi kemajuan bersama. Itu dapat tercapai jika kemampuan warga jemaatnya “dilibatkan”, termasuk kaum bapak untuk ikut serta merelevansikan Injil agar mampu merespons masalah kemasyarakatan.

 Maka berbicara soal pemberdayaan jemaat erat kaitannya dengan tujuan utama Yesus mendirikan gerejaNya di dunia ini. Yaitu dalam rangka pelaksanaan Amanat AgungNya (mat 16:18; 28:19-20), yang mana setiap pribadi yang telah menjadi anggota tubuhNya telah dipanggil keluar untuk memberitakan perbuatan-perbuatanNya yang besar dari Dia.

 Tugas dan panggilan umat beriman ialah melaksanakan misi Allah. Berita itulah yang dipoklamirkan oleh gereja-gereja Tuhan sepanjang Kitab Kisah Para Rasul, berita itu adalah berita penuh kasih karunia dan kuasa Allah. Sehingga setiap orang yang mendengarnya, percaya serta mengaku dan menerima dalam hati dan hidupnya akan diselamatkan: “karena dengan hati orang percaya dan dibenarkan dan dengan mulut orang orang mengaku dan diselamatkan.” (Rom 10:10). Inilah sumber dinamika gereja yang utama seperti yang terjadi dengan gereja-gereja perdana, gereja mula-mula.

 Dokter Lukas mencatat bahwa gereja mula-mula bukan hanya bertumbuh karena keikutsertaan jemaat melayani Tuhan. Hal itu tampak mereka (jemaat) disukai semua orang. Yang disukai semua orang bukan Petrus, yohanes atau Rasul.

 Akhirnya, lewat kebangunan rohani Ama HKBP dalam merayakan hari jadi HKBP ke-150 mendatang, peran ama di setiap gereja harus diberdayakan agar pertumbuhan rohaninya semakin kuat ditengah hidup yang semakin kompleks akkibat perubahan-perubahan yang ada. Artinya, gereja harus menawarkan solusi mengajak semua umat, warga jemaat untuk memikirkan distribusi sumber-sumber daya. Selamat kepada seluruh Ama HKBP, kiranya lewat kebangunan rohani Ama dibersdayakan menjadi Ama yang dapat menjadi berkat  bagi hidup keluarganya, lingkungannya, sesamanya. Amin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s