Arti dan makna: Perayaan Minggu Pentakosta

Arti dan makna:

Perayaan Minggu Pentakosta

Oleh Pdt Midian KH Sirait,MTh

H

ari Minggu Pentakosta, yaitu Minggu perayaan pencurahan Roh Kudus. Sebagai salah satu perayaan hari raya gerejani terbesar pantas dirayakan mengingat makna dan arti kedatanganNya justru memberi penghiburan dan penyertaan untuk jemaatNya, setelah Yesus naik ke surga.

Perayaan hari Pentakosta, kita beribadah sekaligus mendoakan saudara kita yang terbeban. Rasanya, Minggu Pentakosta ini menjadi evaluasi agar nilai-nilai kebersamaan itu akhir-akhi ini mulai  memudar untuk tidak mengatakan kehilangan makna. Kini boleh dibilang tantangan agar umat Kristen menggalang kebersamaan kita atas kuat kuasa Roh Kudus. Kesulitan apapun yang menimpa masyarakat harus menjadi urusan bersama. Bisa jadi gempa akan melahirkan orang miskin baru, emnjadi tanggung jawab bersama. Kebersamaan itu sendiri diinginkan Tuhan Yesus dalam doaNya:…”supaya mereka menjadi satu…(Yoh 17:21). Itu juga yang kita maksudkan dengan tujuan keesaan (gerakan oikumene) ialah mewujudkan keesaan itu dalam fungsi dan pelayanan, yang biasa disebut “keesaan in action”.

Masalahnya sekarang bagaimana menumbuhkembangkan “kekitaan” kita, yaitu bagaimana mengurangi penonjolan “keakuan” dengan lebih mengedepankan kekitaan. Terus terang hal ini merupakan tugas sangat berat. Sebab menyangkut sikap mental, perilaku dan paradigma. Membutuhkan waktu. Mengingat kompleksitas permasalahan bangsa akhir-akhir ini, ditambah makin tipisnya kebersamaan sedangkan musibah serta bencana nasional datang beruntun sudah waktunya ditinggalkan ke-aku-an, kemudian menonjolkan kekitaaan sebagai bangsa yang senasib sepenanggungan. Kembali ingin diingatkan justru kebersamaan modal utama kita inilah salah satu arti kehadiran Roh Kudus yang telah dicurahkan di tengah-tengah dunia yang terus berubah dengans egala masalahnya.

Gaya hidup menurut Roh itu bertolak belakang dengan gaya hidup menurut daging. Karena keduanya bertentangan, maka sebenarnya hanya ada satu pilihan, orang hidup menurut Roh atau hidup menurut daging. Paulus mengatakannya dengan istilah “hidup di dalam Roh”. Yang dimaksud dengan ‘hiduplah oleh Roh” tentu saja “oleh Roh Kudus” dan bila seseorang hidup oleh Roh maka ia tidak mengikuti keinginan daging. Istilah ini (daging) menunjuk kepada kondisi manusia yang berdosa dan karenanya hanya dapat melakukan perbuatan-perbuatan yang berdosa pula. Kedua gaya hidup itu saling bertentangan. Gaya hidup menurut Roh itu bertolak belakang dengan gaya hidup manurut daging. Karena keduanya bertentangan, maka sebenarnya hanya ada satu pilihan, orang hidup menurut Roh atau hidup menurut daging.

Dengan kedatangan Roh Kudus ini kita menemukan tiga pelajaran penting. Pertama, pada waktu Roh Kudus hadir mereka dipenuhi oleh Roh Kudus dan bersaksi dengan penuh kuasa. Kedua, Roh Kudus akan mebuka telinga yang tuli, mata yang buta, hati yang bebal sehingga mereka dapat mendengar, melihat dan membuka hati mereka untuk Kristus. Ketiga, pada saat Roh Kudus dicurahkan kita melihat adanya kuasa penghakiman yang menghidupkan atau yang mematikan. Ketiga hal inilah yang kita lihat ketika Roh Kudus bekerja di dalam hidup anak-anak Tuhan.

Tiap orang Kristen adalah orang yang hidup oleh Roh. Roh Kudus adalah sumber kehidupan orang percaya. Karena itu orang Kristen juga harus selalu hidup dipimpin oleh Roh Kudus. Itu juga yang menjadi sasaran sekaligus melahirkan gereja di dunia ini, adalah pertumbuhan bukan hanya dalam arti fisik saja tapi lebig bersifat rohani. Dengan kata lain penekanan pelayanan gereja adalah pada aspek yang bersifat rohani dan karena itu tidak mungkin bisa dilakukan dengan hanya bersandar kemampuan manusia saja. Dari ajaran Alkitab secara keseluruhan dan dari catatan sejarah gereja dapat disimpulkan bahwa kunci utama yang menetukan keberhasilan dalam mengerjakan pekerjaan Tuhan tidak terletak pada faktor manusia dan faktor teknis, melainkan pada peran kuasa Roh Kudus, “dunamos” yang dijanjikan sebelum Tuhan kembali ke sorga dan telah digenapi pada hari Pentakosta.

Dari catatan Kisah Para Rasul dapat dilihat bagaimana peran Roh Kudus di dalam penginjilan dan pengembangan gereja mula-mula: Roh Kudus memberi  hikmat dan kuasa (Kis 6:10); Roh Kudus menetapkan dan mengarahkan (Kis 13:2-4); Roh Kudus memimpin pelayanan (Kis 16:7); Roh Kudus menetapkan penilik Jemaat (Kis 20:28). Kenyataan bahwa Roh Kuduslah yang menjadi peran penentu di dalam pelayanan gereja kemudian dikonfirmasikan juga oleh Paulus di dalam pelayanannya bahwa dia melayani bukand engan kekuatan dan pelayanan dirinya sendiri, tetapi dengan bersandar penuh dengan kuasa Roh Kudus (1 Kor 2:4-5,13).

Roh Kudus yang dicurahkan pada hari Pentakosta memapukan mereka menghayati kembali relasi mereka dengan Kristus selama ini di dalam perspektif yang benar. Relasi orang Kristen dengan Tuhan, dengan Allah yang menjadi Bapanya adalah Kunci yang menentukan keberhasilan atau kegagalan hidup dalam pelayanannya. Hidup Kristen dari awal hingga akhir terjadi dan terpelihara karena kasih, dan oleh kasih. Kasih menjadi hakekat atau sifat dasar paling utama dalam kekristenan yang memberi nafas kepada seluruh hidup dan pelayanan Kristen. Demikian saling melayani samapi tercipta suatu kehidupan bergereja dinamis, di mana jemaat mengalami pertumbuhan kerohanian secara sehat. Pertumbuhan internal seperti itu yang akhirnya menjadikan gereja siap untuk keluar mengerjakan tugas dan panggilan Tuhan yang lebih besar. Indonesia pasti dipulihkan Tuhan. Selamat Berhariraya Pentakosta

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s