Kritis berpikir, Santun Berkarya

Oleh: Pdt. Midian KH Sirait, MTh

 

Banyak orang ingin sukses tapi tidak santun. Ada orang pintar karena tidak santun maka sulit diterima keberadaannya. Ada pemimpin karena pribadinya tidak santun maka kepemimpinannya juga sulit diterima kehadirannya. Dalam hal hubungannya dengan iman Kristen aktifitas berkirir yang kritis itu dan dalam upaya unt

uk berkarya, maka judul di atas erat kaitannya dalam kerangka untuk mengerti dan melakukan kehendak Tuhan.

Dalam kerangka itulahlah tiap orang Kristen harus kritis dan berkarya. Oleh sebab itu judul tsb menarik untuk dibaca bagi mereka yang hidupnya ingin sukses. Sebab berbicara tentang kata “kritis” dan “karya”, adalah dua kata yang saling melengkapi. Misalnya, Firman Tuhan berkata, “Sebab itu, janganlah kamu bodoh, tetapi usahakanlah supaya kamu mengerti kehendak Tuhan” (Efesus 5:17). Tetapi juga kita dituntut untuk berkarya. Firman Tuhan berkata:  “Apa pun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia” (Kol.3:23).

Ke dua nats di atas ini, tujuannya agar agar hari-hari hidup setiap umat dapat bermakna dan bernilai. Tegasnya, menjadi orang yang paling sukses. Kesuksesan yang akan kita capai tidak bergantung pada bukan berapa banyak uang yang kita kumpulkan, atau berapa besar karya-karya yang akan kita capai. Kesuksesan juga bukan terletak pada berapa banyak pekerjaan yang kita lakukan, atau berapa tingginya posisi yang kita miliki. Kesuksesan kita diukur dari seberapa jauh kita mengerti dan melakukan kehendak Tuhan.

Kritis berpikir dan santun berkarya tujuannya agar kita mengerti dan melakukan kehendak Tuhan. Bagaimana kita bisa mengerti kehendak Tuhan kalau kita tidak memahami dan hidup di dalam Firman Tuhan tsb? Tak heran kalau Yesus sendiri berpesan kepada semua pengikut-Nya sepanjang zaman, agar jangan takut.  Kita perlu terus belajar, terus menambah pengetahuan dan belajar dari kegagalan atau keberhasilan, pada waktu sulit atau tenang, bahkan diharuskan untuk belajar atas perubahan yang ada, bukan lihai atau licik, tapi cerdik.

Jadi, dalam mengkritisi zaman ini agar orang-orang percaya jangan hanyut terbawa arus atau tergilas atau ketinggalan, tercecer, dalam perkembangan zaman. Para pemimpin gereja harus membantu umatnya menyadari bahaya zaman ini dengan melengkapi mereka melalui upaya perlengkapan iman yang terus bertumbuh dewasa, agar mampu mengahadapi serigala zaman ini.

Dengan demikian hidup beragama itu ialah berpikir dan berkarya berdasarkan Kitab Suci atau Alkitab. Di dalam Firman tsb dijelaskan, manusia tidak diciptakan Tuhan Allah seperti robot yang kemampuan berpikirnya sebatas yang terprogram. Tetapi diciptakan dengan penuh kesadaran akan dirinya, alam dan Tuhannya. Maksudnya, beragama yang benar, atau beriman kepada Tuhan Pencipta langit dan bumi dengan segala isinya, tujuannya agar dalam memelihara ciptaanNya tiap orang Kristen terpanggil untuk  setia dan mengasihinya dengan caraNya sendiri.

Di sanalah sifat santun itu menjadi penting. Yaitu, mengkiritisi panggilanNya agar membawa pengenalan akan Tuhan secara benar (Kel 3:13 – 4:1ff).  Semuan itu diarahkan agar iman kepercayaan kita semakin bertumbuh dan bekerkembang sesuai dengan talenta yang dimilikinya. Demikianlah proses mengerti dan melakukan kehendak Allah. Manusia tidak berjalan dalam kehendak yang kaku, tetapi selalu ada di dalam pembaruan, baik itu kebudayaan, ilmu pengetahuan, teknologi dan sebagainya.

Lebih dari itu, berpikir kritis, santun berkarya bagaikan kompas hidup yang tepat bagi manusia melihat pemandangan yang  luas (ke depan) dan beragam objek yang memukau perhatian dan sekaligus mengundang banyak pertanyaan tentang objek-objek yang terpapar di depan kita. Tuhan menghendaki agar kita membangun pekerjaan dan pelayanan yang sungguh-sungguh berkenan kepada-Nya. Itu berarti kita tidak bekerja atau melayani secara sembarangan, atau mengambil muka kepada pimpinan (Ef.6:6), tetapi “dengan rela menjalankan pelayanannya seperti orang-orang yang melayani Tuhan, bukan manusia.”

Atas dasar itulah, sifat mengkritisi harus ditopang sikap santun agar karya-karya yang kita lakukan menjadi berkat bagi diri kita sendiri, tentu juga bagi orang lain. Dalam hal ini, kita dapat belajar dari hamba Tuhan abad 1 itu, Yaitu Rasul Paulus. Karena dia juga berpikir kritis terhadap tradisi umat Israel yang sangat dikenalnya dan diihayatinya itu, tetapi dia terbuka pada tuntutan baru dari iman yang berpusat pada  Yesus Kristus yang mati dan bangkit itu, sehingga dia melihat dan percaya bahwa kita tidak dapat diselamatkan oleh Taurat (Yahudi), melainkan hanya oleh Yesus Kristus sebagai penggenapan Hukum Taurat itu. Berdasarkan pernyataannya itulah, kepada orang-orang percaya sepanjang zaman dia menyerukan melalui tulisannya kepada jemaat Tessalonika itu : “ujilah  segala sesuatu dan peganglah yang baik  ( 1 Tes 5 : 21 ).

Berpikir kritis adalah senana dengan tuntutan Alkitab itu sendiri, seperti kita lihat dalam sikap Rasul Paulus di atas. Mengkritisi dengan demikian agar kita bertindak hati-hati atau waspada (santun). Sebagai gereja yang memang berpusat pada Alkitab – ingat prinsip dasar Martin Luther “Sola Scriptura” abad XVI itu  Dengan kata lain, Alkitab adalah buku kesaksian iman, bukan buku tentang fakta-fakta historis (historia), fakta-fakta biologis, antropologis atau fakta-fakta  ilmu-ilmu lainnya.

Berpikir Kritis dan santu berkarya sangat tepat dihubungkan dengan merespons  Firman Tuhan. Itu yang dimaksudkan dengan  tetap selalu memegang yang baik. Yaitu, adanya kesadaran dan tindakan menjadi sesuatu yang urgen dalam tata sosial dan orde kehidupan kita agar lebih beradab dan bermartabat, sekaligus menjadi daya hidup dan autentisitas iman agar hidup semakin bermakna.

Tuhan menghendaki agar kita makin mengenal dan mengasihi Dia, serta semakin dewasa seperti Kristus (Efesus 4:13 dan 5:21). Hal itu juga yang ditegaskan Allah melalui Nabi Yeremia: “… Barangsiapa mau bermegah, baiklah bermegah karena yang berikut, bahwa Ia memahami dan mengenal Aku” (9:24).  Seruan itu telah menjadi kerinduan dan ambisi rasul Paulus: “Yang kukehendaki adalah mengenal Dia” (Fil.3:10).

Akhirnya,  berpikir kritis, dan santun berkarya, kita akan menguji segala sesuatu dengan tujuan  supaya kita memegang yang baik, melakukannya dalam tindakantindakan konkrit dalam pelayanan di gereja. Sebab gereja dan umat Kristen  yang menyatakan Ktistus mestilah seirama dengan tindakan Kristus di dunia  ini. Oleh karena itu, betapa pun sibuknya, jangan melalaikan hubungan pribadi dengan Tuhan. Pelihara dan tingkatkan kualitas saat teduh. Tuhan menghendaki agar kita membangun keluarga yang berpusatkan Kristus (Efesus 5:21-6:4). Amin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s