Membangun Perekutuan Berbasis Jemaat

PELAYANAN KATEGORIAL DI HKBP:

Membangun Perekutuan Berbasis Jemaat

 

Pdt Midian KH Sirait,MTh, Praeses HKBP Distrik X Medan Aceh

Persekutuan Keluarga

Dalam pandangan umum keluarga biasanya dipahami sebagai persekutuan dimana ada unsur: ayah, ibu dan anak. Ketiga unsur ini menekankan adanya pertalian darah yang mengikat antara yang satu dengan lainnya. Namun istilah keluarga telah memiliki perkembangan yang luas di kalangan masyarakat dengan adanya ikatan keluarga oleh lembaga atau institusi yang tidak berkaitan dengan hubungan darah.

Dalam pandangan kekristenan keluarga merupakan persekutuan yang suci-kudus dan memiliki missi khusus sebagaimana diperintahkan oleh Allah. Disebut kudus karena keluarga merupakan lembaga yang didirikan dan ditetapkan oleh Allah bagi manusia (Kej 1: 27-28). Lembaga ini sekaligus menerima mandat illahi demi pemeliharaan ciptaan (Kej 1:29-30 ‘beranak cucu’, memelihara bumi). Karena keluarga merupakan lembaga yang ditetapkan oleh Allah, umat Kristen harus menjaga kesucian keluarga. Hal  ini ditegaskan oleh Yesus yang mengatakan “apa yang dipersatukan oleh Allah tidak boleh diceraikan oleh manusia” (Band. Mark 10:9).

Alkitab amat peduli terhadap upaya membangun persekutuan keluarga. Bahkan Paulus menganalogokan hubungan persekutuan di dalam keluarga dengan Kristus terhadap jemaatnya. Itulah sebabnya Paulus menasihatkan agar suami mengasihi istrinya sebagaimana Kristus mengasihi jemaatNya. Demikian juga istri harus tunduk terhadap suami sebagaimana jemaat tunduk kepada Kristus. Orangtua harus mengasihi dan mengasuh anak dan sebaliknya anak harus menghormati orangtuanya (Band. Ef 5;22 – 6: 4).

Pelayanan gereja berbasis koinonia di dalam persekutuan keluarga berarti memberikan pemahaman akan arti keluarga dan memberikan pendampingan terhadap keluarga yang memiliki pergumulan dan persoalan agar mampu memelihara kesucian keluarga serta dapat melaksanakan mandat Allah melalaui keluarga. Beberapa pergumulan dan persoalan yang sering terjadi dalam keluarga saat ini adalah : perceraian, broken home, kekerasan dalam rumah tangga, komunikasi orangtua – anak yang tidak baik dll. Pelayan gereja harus memberikan pelayanan guna membangun persekutuan keluarga, seperti : melaksanakan Pastoral Konseling Pra Nikah (setiap anggota jemaat yang menikah harus dijelaskan akan makna pernikahan), mendampingi keluarga dalam setiap pergumulannya melalui kunjungan Pastoral dan melakukan pembinaan-pembinaan.

Persekutuan Anak-Anak

Anak adalah anugrah Tuhan bagi setiap keluarga. Di dalam Alkitab kita menemukan tanggungjawab orangtua yang cukup besar terhadap anak yakni mengasihi dan mengasuh, bertanggungjawab atas perkembangan dan kesejahteraan anak, pendidikan dan perlindungan (Band. Ul 6: 6dst). Yesus sendiri menyambut anak-anak dalam pangkuanNya (Mark 10: 13-16). Dia juga memberikan perintah kepada muridnya agar melakukan penggembalaan terhadap anak-anak (Yoh 21 :16 Terj Batak; ‘parmahani ma anak ni birubirungku’). HKBP dalam agenda Sakramen baptisan menekankan tanggungjawab setiap orangtua membawa anak-anaknya untuk dididik memahami Firman Tuhan agar imannya bertumbuh menjadi Kristen yang dewasa. Dari sini kita melihat bahwa pelayanan terhadap anak merupakan perhatian alkitab dan gereja sejak awal.

HKBP dalam melakukan pelayanan terhadap anak telah dilakukan dengan membangun persekutuan Sekolah Minggu. Namun amat banyak pelayan HKBP tidak memberikan perhatian yang cukup serius terhadap sekolah minggu. Kita tidak tahu secara pasti apakah sermon guru sekolah minggu dilaksanakan dengan baik di setiap jemaat atau huria. Bahkan ada pendeta yang sama sekali tidak pernah mengajar anak sekolah minggu. Hal ini amat penting diperhatikan oleh setiap pelayan agar memberikan perhatian yang serius terhadap anak.  Karena masa depan dan pertumbuhan gereja tentu terletak pada pembinaan dan pelayanan terhadap sekolah minggu. Umpama orang Batak mengatakan : ‘sala mandasor sega luhutan’ (jika salah mendidik sejak awal pada akhirnya akan rusak). Umpama ini harus menjadi kerangka acuan kita untuk membenahi persekutuan gereja, yakni membangun persekutuan anak secara baik dengan berbagai metode pelayanan. Jika persekutuan  gereja HKBP ingin maju ke depan maka pelayanan persekutuan anak harus dilakukan secara baik sejak dini.

Selain itu, gereja juga harus turut mendukung konvensi Anak Sedunia yang menekankan : Hak-hak asasi anak (seperti : hak untuk hidup, pendidikan dan pengasuhan serta perlindungan). Gereja harus turut menentang upaya pemerasan tenaga kerja anak dan menentang segala bentuk tindak kekerasan terhadap anak.

Melalui Departemen Koinonia, HKBP telah mencoba mengeluarkan buku panduan terhadap Guru Seklah Minggu. Hal ini harus dipelajari dan dikembangkan oleh setiap pelayan HKBP di huria masing-masing guna membentuk persukutuan anak lebih baik. Atau dengan mencari metode lain guna mencari dadn menerapkan metode pelayanan terhadap anak yang secara kreatif untuk membangun persekutuan anak.

Persekutuan Remaja dan Pemuda

Di kalangan psikolog masih banyak perbedaan pendapat mengenai batasan siapakah remaja dan pemuda. Perbedaan itu biasanya didasarkan pada batasan umur, pertumbuhan biologis, tingkat pertumbuhan intelektual dan kedewasaan emosional. Demikian halnya dalam gereja kita belum ada batasan yang baku mengenai batasan remaja dan pemuda. Tetapi pada umumnya gereja HKBP telah banyak melakukan pelayanan terhadap remaja dengan pemuda di jemaat masing-masing. Batasan remaja biasanya anak-anak yang telah mengakhiri masa sekolah minggu, tetapi belum lepas sidi. Dalam pandangan umum (HKBP) remaja adalah anak-anak yang duduk dibangku SMP. Di dalam Alkitab istilah remaja tidak kita temukan namun ada istilah ‘taruna’ (Kitab Kidung Agung). Sedangkan istilah pemuda di HKBP cukup terkenal dengan istilah NHKBP. Batasan yang termasuk NHKBP adalah anak-anak yang telah lepas sidi hingga belum menikah.

Alkitab memberikan perhatian terhadap pemuda, hal itu dapat kita lihat dalam Pengkotbah 11:9-10. Petunjuk ini mengingatkan kita beberapa hal dalam memberikan pelayanan terhadap persekutuan pemuda :

Alkitab menyadari bahwa masa remaja dan pemuda adalah masa pertumbuhan. Pertumbuh adalah hak dan kebebasan bagi setiap pemuda. Alkitab mengingatkan bahwa masa pemuda saat dimana seseorang memiliki banyak tantangan dan pergumulan. Dalam semua itu pemuda ingat dan takut akan Tuhan. Kebebasan yang bertanggung jawab. Alkitab memberikan kebebasan terhadap pemuda dalam berkarya dan berprestasi namun diingatkan agar mempertanggungjawabkan segala tindakannya di hadapan Tuhan.

Dalam gereja HKBP besarnya tanggungjawab terhadap remaja-pemuda disebut dengan istilah : “naposo na uli bulung”  dan “bunga ni huria”. Kedua ungkapan ini menggambarkan kesinambungan dan keindahan. Kesinambungan pelayanan gereja terletak pada pelayanan terhadap remaja pemuda (generasi penerus). Keindahan itu harus dilakukan dengan berbagai aktifitas yang terpuji dri kalangan remaja – pemuda. Untuk membina persekutuan remaja pemuda ini pelayan gereja harus memperhatikan beberapa hal : melakukan pengajaran sidi secara serius, melakukan pendalaman alkitab untuk memelihara pertumbuhan iman, ibadah khusus (remaja – pemuda) dan menampung berbagai aspirasi pemuda dalam berkreasi dan berkarya di dalam gereja melalui KKR (Parheheon). Atau aktifitas lain yang berguna dan bermanfaat guna membangun persekutuan remaja pemuda.

Membangun persekutuan remaja dan pemuda tentu tidak terlepas dari kejelian pelayan untuk melihat masalah-masalah/tantangan yang dihadapi oleh remaja pemuda. Disini peran pelayan agar tetap mengingatkan bahaya-bahaya yang senantiasa mengancam dan menggrogoti kehidupan remaja – pemuda, seperti : narkoba, kekerasan/tawuran dll. Bagaimana mengantisipasi hal ini tentu pelayan harus kreatif dan responsive guna mencari bentuk pelayanan yang relevan dan kontekstual terhadap mereka.

HKBP melalui Departemen Koinonia telah mencoba mengeluarkan bahan PA bagi remaja pemuda serta majalah ‘Lam Magodang’. Ini merupakan dasar yang harus dikembangkan oleh masing-masing pelayan HKBP guna meningkatkan pelayanan terhadap persekutuan remaja dan pemuda.

Persekutuan Perempuan dan Kaum Ibu

Dalam pengalaman HKBP persekutuan perempuan telah memiliki perobahan. Pada awalnya persekutuan perempuan disebut dengan Persekutuan Ina (Punguan Ina), pada tahun 1990an berubah menjadi  Persekutuan Wanita (melalui Departemen Wanita di HKBP) pergantian ini dilakukan agar pelayanan persekutuan ina tidak melulu pada wanita yang telah menikah saja (ina), tetapi terbuka terhadap semua wanita baik yang belum dan sudah menikah. Atas pengaruh reformasi istilah persekutuan wanita diganti lagi dengan ‘seksi perempuan’. (Perubahan-perubahan ini dapat dijelaskan dalam pelayanan kategorial). Dinamika ini tentu merupakan bagian dari percakapan dan keseriusan gereja untuk pemberdayaan wanita/perempuan di dalam persekutuan gereja.

Persekutuan Perempuan dalam pelayanan HKBP merupakan motor penggerak pelayanan gereja. Hal itu tentu amat terasa di dalam pelayanan di jemaat. Persekutuan perempuan di dalam pelayanan gereja adalah seperti seperti kisah Martha dan Maria yang menjamu Yesus di rumahnya. Kisah Martha dan Maria ini merupakan gambaran peran persekutuan wanita dalam pelayanan gereja yakni sebagai pelayan (Martha) cekatan dan kreatif menyiapkan hal yang lazim bagi seorang tamu demikianlah peran persekutuan perempuan dalam pelayanan gereja. Dalam pelayanannya itu persekutuan perempuan sekaligus memperoleh yang lebih utama seperti Maria yang mendengar nasihat dan Firman yang disampaikan oleh Yesus.

Pelayan HKBP harus mengupayakan berbagai bentuk pelayanan terhadap perempuan, seperti : PA (Sermon Perempuan), ceramah yang berkaitan dengan pengetahuan dan pemberdayaan perempuan, mendampingi dan mendoakan perempuan dalam menghadapi pergumulannya agar mereka dapat melaksanakan peran Martha dan Maria di dalam gereja dan di rumah tangga mereka masing-masing. Gereja harus turut mendukung gerakan perempuan yang memerangi tindak kekerasan terhadap perempuan.

HKBP melalui Departemen Koinonia tetap melakukan pelayanan persekutuan perempuan dengan menerbitkan ‘Surat Parsaoran Ina’ (Surat Parsaoran Parompuan). Tentu hal ini harus disosialisasikan dan dikembangkan oleh para pelayan HKBP guna meningkatkan pelayanan persekutuan perempuan dalam gereja HKBP.

Persekutuan Kaum Bapak

Sama halnya dengan membangun persekutuan perempuan, persekutuan kaum bapa juga perlu ditingkatkan dalam gereja HKBP. Bagaimana mungkin ada ibu tanpa bapa? Namun dalam gereja sering terjadi persekutuan ibu ada tetapi persekutuan kaum bapa tidak ada. Hal ini telah merupakan salah satu masalah yang menonjol dalam pelayanan gereja HKBP. Di mana tidak seimbangnya kaum bapa yang hadir dalam kebaktian minggu dibandingkan dengan kaum ibu. Tidak seimbangnya peran kaum bapa dalam pelayanan gereja dibanding kaum ibu. Jika hal ini telah seimbang maka telah ada kemajuan di dalam gereja tersebut.

Pada umumnya persekutuan kaum bapa di dalam gereja dianggap dengan adanya Paduan Suara Ama (Koor Ama). Padahal tidak semuanya kaum bapa yang hobby atau berminat koor. Maka untuk membangun persekutuan kaum bapa di dalam gereja  pelayan gereja harus memikirkan berbagai metode dan bentuk pelayanan yang tepat bagi kaum bapa. Jika ada paduan suara kaum bapa di dalam suatu gereja hal ini telah menjadi basis membina persekutuan kaum bapa, maka harus ditambahkan pula dengan melakukan pendalaman alkitab bagi kaum bapa.

Membangun persekutuan kaum bapa pada dasarnya bertujuan untuk membantu dan menolong kaum bapa agar mampu menjadi kepala keluarga yang baik sebagaimana pesan Alkitab. Tentu sebagai bapa, mereka memiliki tanggung jawab yang besar seperti; memenuhi kebutuhan keluarga, memberikan perlindungan bagi keluarganya dan menciptakan komunikasi yang harmonis di dalam rumah tangga mereka masing-masing. Dalam menjalankan tanggungjawab yang besar ini kaum bapa harus memiliki iman yang kokoh.

Persekutuan Lanjut Usia (Lansia)

Lansia memang bukan salah satu unsur kategorial dalam pelayanan HKBP karena Lansia tersebut terdiri dari kaum ibu dan kaum bapa. Namun persekutuan Lansia dibutuhkan karena pergumulan hidup di usia lanjut berbeda dengan kaum ibu dan bapa pada umumnya. Batasan umur Lansia pada umumnya 60 tahun ke atas.

Pada usia seperti ini hal yang umum terjadi adalah : telah pensiun dari pekerjaan (khususnya bagi yang bekerja di pemerintahan, lembaga dan swasta/terkecuali usaha sendiri) secara alamiah umur 60 tahun telah memiliki penurunan energi dalam melakukan aktivitas (‘usia paskah produktif’)

Dalam hal ini perlu pelayanan khusus untuk mempersiapkan mereka menerima proses alamiah yang terjadi dalam dirinya dan sekaligus memberikan pengharapan yang hidup bagi mereka yang akan menerima ajal – bahagia di usia lanjut.

Dalam pelayanan gereja HKBP penanganan persekutuan lansia ini belum dilakukan secara serius dan terpadu. Namun seluruh pelayan HKBP melalui pelayanan di tingkat jemaat diharapkan dapat melaksanakan pelayanan terhadap lanjut usia. Amin. (Pdt, Midian KH Sirait,MTh, Bahan Pembinaan Bidang Koinonia Se HKBP Distrik X Medan Aceh, di Pardede Jalan Binjei Medan, Oktober 2005)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s