Menyambut Bulan Oikumene: Gereja Bagi Orang Lain

Menyambut Bulan Oikumene:

Gereja Bagi Orang Lain

Refleksi: Bekerjalah untuk Mendatangkan Kesejahteraan Bangsa

opik tersebut idealnya ditujukan untuk menyambut bulan oikumene yang jatuh pada bulan Mei. Di tengah-tengah kesibukan gereja dalam menunaikan tugas dan panggilannya, selama bulan Mei ini ada baiknya gereja juga memperdulikan pentingnya peran oikumene dalam hidup berdampingan dengan gereja lainnya untuk menyatu di dalam wujud beroikumene. Dengan terbentuknya Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia, disingkat PGI (dulu DGI), lahir 25 Mei 1950, para penggagas berdirinya PGI merelakan dirinya untuk hidup bersama dengan gereja-gereja lain.

Sehubungan penyambutan bulan oikumene tersebut, pertanyaan yang tengah kita pergumulkan dewasa ini adalah, tantangan pokok macam apakah yang dihadapi oleh gereja dan masyarakat di masa datang? Apa yang harus dilakukan gereja-gereja.

Berangkat dari pertanyaan tersebut, rasanya masih tetap aktual pernyataan teolog D. Boenhooffer dan Jurgen Moltmann, pada zamannya menjawab pergumulan tersebut dengan menyebutkan, bahwa kehadiran gereja di dunia ini diutus untuk menjadi gereja bagi orang lain. Hal itu didasari ketika Yesus mendirikan gereja menjadi bagian dari sebuah keluarga, menjadi saudara di dalam Kristus, untuk melayani Yesus. Artinya, gereja menjadi tempat bagi kita untuk bersekutu dan saling menolong satu sama lain.

Gereja bagi orang lain itu adalah gambaran dari suatu keyakinan teologis dan ikrar bahwa Yesus adalah manusia bagi orang lain, kata AA Yewangoe (Ketua Umum PGI). Selanjutnya dikatakan, manusia bagi orang lain berarti menurut kepercayaan Kristiani justru karena Dia mau menjadi manusia bagi orang lain maka Dia sampai mengorbankan diriNya. Dengan pemikiran seperti ini, gereja harus melakukan hal yang sama.

Gereja bagi orang lain akan berdampak kerinduan untuk membagikan berkat Yesus ke seluruh dunia. Gereja berguna bagi orang lain diimplementasikan dalam aksi bersama. Aksi tersebut terwujud dalam perbuatan, dan bermakna bahwa gereja-gereja mesti sungguh-sungguh perduli dengan masalah-masalah kemanusiaan. Kepedulian tersebut menunjukkan bahwa gereja bagi orang lain. Gereja bagi orang lain itu adalah gambaran dari suatu keyakinan teologis dan ikrar bahwa Yesus adalah manusia bagi orang lain.

Tak salah jika gereja dapat berfungsi bagi orang lain, seharusnya gereja memandang dunia ini sebagai panggilan dan tantangan untuk berkiprah dalam mendayagunakan segala potensinya untuk memberitakan kabar baik (eugangelion). Gereja yang memberitakan kabar baik mestinya juga memberitakan membebaskan manusia dari berbagai persoalan hidup yang dihadapi sehari-hari. Untuk mengakses kerinduan tersebut, gereja yang dinamis pada zaman para rasul yang memberdayakan pria dan wanita ke dalam satu persekutuan yang penuh sukacita yang meluas (Kis.2).

Dengan pemahaman seperti itu gereja dengan warganya memikul tanggungjawab dalam kedudukannya untuk memulihkan dunia ini kepada kehidupan yang bergerak, produktif, dan kreatif. Oleh sebab itu, gereja telah dirancang untuk berbuat bagi orang lain sesuai dengan talenta dan karunia-karunia rohani serta charisma pada setiap anggota jemaat.

Tantangan di milinium ini dengan segala bentuk perubahannya, gereja menyikapi dunia ini dengan realisme dan rasa percaya diri. Terutama dalam memberikan informasi dan menerbitkan pesan-pesan kristiani. Gereja yang hidup, pastilah menyiapkan perjumpaan dengan Kristus dalam jemaat, dan dalam mendukung anggota beriman yang baru pada permulaan perjalanan imannya.

Penggunaan karunia-karunia tersebut menyumbangkan kegiatan yang paling penting yang sedang terjadi di dunia sekarang ini, yaitu dalam kerangka pembangunan gereja sebagai tubuh kristus. Dengan pengertian seperti itu, gereja dirancang secara unik oleh Allah untuk melayani kebutuhan dunia. Di sana gereja harus bertumbuh menjadi pribadi yang stabil, penuh kasih, dan hidupnya berpusatkan pada Kristus (Ef.4:12-16). Tentu diharapkan, masing-masing anggotanya bisa memiliki pengaruh yang besar terhadap bisa memiliki pengaruh yang besar terhadap di setiap lingkungan kemasyarakatannya.

Kepekaan seperti itulah memudahkan gereja merumuskan persoalan dengan jelas, tiap gereja harus punya komitmen yang sungguh-sungguh terhadap masa depan. Gereja yang memberitakan kabar baik mestinya juga memberitakan hal-hal yang membebaskan manusia dari berbagai persoalan hidup yang dihadapi sehari-hari.

Gereja Indonesia hendaknya memberi dukungan terhadap berbagai usaha untuk mengembangkan perekonomian rakyat. Itu berarti, gereja harus lebih peduli kepada masalah-masalah sosial. Gereja menjadi bagi orang lain adalah manifestasi kerajaan Allah di tengah dunia dan oleh sebab itu gereja merupakan tempat bagi seluruh umat Kristen  berkewajiban dan bertanggungjawab untuk mengembalikan apa yang seharusnya menjadi hak milik Allah.

Dalam keadaan semacam itu diperlukan pemikiran terobosan sebagai alternatif guna mengawali komitmen berteologi yang berangkat dari pengalaman nyatan. Namun gereja dituntut mengali dan menggunakan daya kreativitas dan imajinasi yang segar agar pesan gereja untuk orang lain itu diterima masyarakat lingkungannya secara positif. Termasuk di dalamnya bagaimana gereja berjumpa dengan aneka budaya dan tradisi setempat. Misalnya dibangunnya dialog kehidupan, dialog karya, dan dialog iman dan selanjutnya menegaskan bahwa dalam keadaan apa pun tidak alasan bagi kita untuk tidak membina hubungan antar umat beragama demi mewujudkan Indonesia baru yang damai dan harmonis.

Di jaman yang penuh masalah ini dan multikompleks, umat Kristen sebaiknya melibatkan diri dalam pergumulan bangsa ini mewujudkan Indonesia baru yang lebih adil, lebih manusiawi lebih damai dan memiliki kepastian hukum. Yaitu perubahan ke arah perdamaian, keadilan dan solidaritas nyata dengan orang-orang miskin. Gereja sebagai persekutuan ikut mewujudkan kehidupan beriman dan menggereja yang lebih aktif serta menjadi lebih siap untuk ikut berperan di tengah masyarakat kita. Dengan demikian diharapkan bisa lebih mengakar, leabih kontekstual dan mampu menjalankan perannya dalam menggarami dunia dengan lebih baik.

 

Gereja menjadi benar-benar hidup jika didalamnya dibina persaudaraan dalam kasih yang membangun persekutuan untuk bersama-sama membawa pesan Injil Yesus Kristus ke dalam masyarakat. Dengan itulah, maka gereja bergerak proaktif, dalam masyarakat, dalam dunia, membawa daya penyelamat Allah. Dunia yang telah diselamatkan itu wajar menyatu dengan masyarakat, ia diutus ke dalam masyarakat. Gereja menjadi nyata ditugasi untuk menjadi garam di tengah-tengah masyarakat di mana ia ada. Maka berbicara soal makna dan fungsi kehadiran gereja di masa depan apalagi berhadapan daengan keterpurukan bangsa, secara menyakinkan menjadi saksi kasih yang diakses atas dasar solidaritas Allah. Gereja sadar bahwa ia harus pertama-tama menjadi gereja bagi orang miskin. Kemiskinan merupakan keadaan yang seakan-akan terus semakin membelenggu mereka yang terbelenggu olehnya. Gereja harus menjdai saksi dan pembawa kebaikan Allah ke dalam masyarakat. Itu berarti bahwa gereja secara konsisten menyuarakan perdamaian, penghormatan terhadap harkat kemanusiaan, keadilan serta solidaritas. Hal itu mengimplikasikan bahwa gereja perlu mengambil sikap yang positif perlu menciptakan budaya saling menghormati dan inkulusif. Gereja ikut bersama kekuatan-kekuatan lainnya berkehendak baik dalam usaha menyelamatkan masyarakat dari keterbelakangan, kebodohan dan kemiskinan. Gereja harus memperjuangkan hak-hak orang miskin, kaum buruh, orang kecil. Gereja sahabat orang miskin.

 

Gereja perlu secara konsisten bersikap positif terhadap umat lain. Gereja harus secara menyakinkan membawa sikap yang pluralistik dan inklusif sangat mendesak karena melalui diakonianya dapat berperan aktif. Perlu kita bangun hubungan dengan umat beragama lain untuk bersama-sama menyelamatkan bangsa. Dalam hal ini gereja perlu berusaha supaya dapat dialami dalam masyarakat sebagai sahabat, sebagai ramah, dapat dipercaya.

 

Gereja sesuai dengan makna, dipanggil untuk dimana mereka hidup dan bekerja menjadi kekuatan ke arah perdamaian, kebaikan, kejujuran, keadilan. Semua cita-cita luhur ini tentu dimaksudkan untuk kesejahteraan rakyat kita. Gereja perlu memperoleh sikap mau belajar terus menerus dari orang lain. Membangun secara konsisten hubungan baik dengan agama-agama lain. Mereka perlu diberi kesempatan untuk belajar menerima realitas hidup masyarakat dan mengembangkan sikap yang bersedia memandang ke luar.

Dari ajaran Alkitab secara keseluruhan dan dari catatan sejarah gereja dapat disimpulkan bahwa kunci utama yang menentukan keberhasilan dalam mengerjakan pekerjaan Tuhan terletak pada faktor peran kuasa Roh Kudus, “dunamos” yang dijanjikan sebelum Tuhan kembali ke sorga, dan yang telah digenapi pada hari Pentakosta Roh Kudus yang menjadi sumber kekuatan untuk hidup mengikuti dan melayani Tuhan.

Akhirnya, agar gereja dapat menjadi bagi orang lain, seharusnya memberdayakan jemaat menjado ujung tombak yang diutus membawa berita Injil ke dalam masyarakat, ke dalam dunia. Tugas tersebut seharusnya menjadi bagian dari tugas jemaat awam yang memang paling langsung berhubungan dengan dunia di dalam kehidupan keseharian mereka. Demi menciptakan suasana damai dalam masyarakat dan sinergi usaha untuk memajukan bangsa. Karena kasih Allah akan terus secara aktif bekerja di dalam kehidupan orang-orang percaya, untuk menjaga dan memelihara iman mereka sampai akhir. Karena kasih Allah menggerakkan hati orang-orang percaya, memberi mereka beban untuk memberitakan Injil keselamatan kepada orang lain, termasuk manusia Indonesia yang peduli kepada nasib manusia. Selamat buat PGI di Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s