PANGGILAN MENJADI GURU SEKOLAH MINGGU

PANGGILAN MENJADI GURU SEKAOLAH MINGGU

Oleh: Pdt. Midian KH Sirait, MTh

Praeses HKBP Distrik X Medan Aceh

1.  Pengantar:

S

ekolah Minggu adalah merupakan suatu institusi formal maupun informal untuk setiap anak untuk belajar akan nilai-nilai agama dan moral. Sekolah Minggu adalah merupakan sarana pendukung dalam pembinaan rohani anak-anak. Sarana pendukung untuk setiap orang tua mengajarkan nilai-nilai Kristiani bagi anaknya hal ini sebagai usaha supaya anak-anak bisa mengenal Juru Selamatnya secara pribadi sejak usia dini. Oleh sebab itu panggilan menjadi Guru Sekolah Minggu  (GSM)[1] ini, pada hakekatnya respons atas keselamatan yang telah ia terima dari Tuhan Yesus. Sebagai bagian dari anggota tubuh Kristus (bd. 1 Kor.12, 13+17, Efesus 5,2-3) para GSM memiliki tanggung jawab agar Anak Sekolah Minggu (ASM) memiliki iman dan tumbuh menjadi dewasa dalam semangat yang sama: saling melayani sebagaimana Tuhan sendiri menghendakinya..Perannya ialah memperlengkapi dan membukakan wawasan pembina/guru sekolah atau sekolah minggu untuk berperan aktif sebagai pena Allah dalam menggores sejarah di dalam hidup anak-anak didiknya

Sesuai dengan tugasnya mengajar ASM (anak sekolah minggu), maka mereka harus dipandang juga sebagai anggota tubuh Kristus yang juga bagian dari penyelamatan Tuhan Yesus. Dalam eksistensinya, wadah anak untuk bersekutu dan berkumpul ialah oleh HKBP disebut dengan Sekolah Minggu. Kata “sekolah” berarti disana yang diperankan adalah pengajaran atau pendidikan, yaitu berhubungan dengan iman kepada Yesus. Kata “Minggu” pengajaran itu dilakukan pada hari Minggu (Pagi). Hubungan Guru dengan Murid tidak lain adalah sebagai anggota tubuh Kristus yang bersekutu di dalam wadah tsb.

Inti pokok yang perlu diperhatikan para GSM ialah tugas utamanya ialah pertama, membawa anak itu datang kepada Yesus. Kedua, supaya mereka belajar takut akan Tuhan, Allah. Dan ketiga supaya ASM melakukan dengan setia segala perkataan hukum Taurat Tuhan (Ulangan 31:12-13).

Masalahnya, kebanyakan gereja menempatkan  pelayanan  Sekolah Minggu sebagai  “pelengkap penyerta.”   Walaupun  Sekolah Minggu  diselenggarakan,  namun  kerap dilakukan  secara “asal ada saja, ketimbang  tidak  ada.” Umumnya orientasi pelayanan gereja  lebih  diarahkan kepada pelayanan orang dewasa. Anak-anak, juga remaja, tidak dianggap sebagai bagian penuh dari komunitas jemaat. Tak heran, GSM direkrut tanpa proses pelatihan khusus yang memperlengkapi mereka untuk terlibat  dalam pelayanan anak. Siapa saja, asal mau,  bisa menjadi guru Sekolah Minggu.

2.  Menjadi Guru Sekolah Minggu adalah pengabdian

Untuk memenuhi ke-3 panggilan tsb tiap GSM dibutuhkan kerendahan hati, kesederhanaan, dan kejujuran, sebagai dimaksudkan dalam Yoh 3:30: “Ia harus makin besar, tetapi aku harus menjadi makin kecil” [Yoh 3:30].  Surat pertama Petrus secara gamblang menasihatkan: “… Gembalakanlah kawanan domba Allah yang ada padamu, jangan dengan terpaksa, tetapi dengan sukarela sesuai dengan kehendak Allah, dan jangan karena mau mencari keuntungan, tetapi dengan pengabdian diri [1 Ptr 5:1-4]. Dengan demikian panggilan menjadi GSM itu adalah pengabdian.

Pengabdian itu adalah kebahagiaan.  Kebahagiaannya, karena setiap GSM diberi kesempatan mengemban tugas yang amat mulia. Di tangan GSM itulah para Anak Sekolah Minggu (ASK), diberi kesempatan untuk  memperkenalkan Yesus Kristus di dalam hidupnya. ASM yang memiliki kepolosan, kejujuran, belum banyak dicemari kebiasaan buruk itu amat ditentukan oleh GSM untuk dapat menjadi anak-anak yang berguna. Seperti Amsal menyebutnya, “Sekali mereka dibentuk dengan benar maka ketika menjadi dewasa mereka akan selalu mengingat dan mereka tidak akan melenceng jauh dari kebenaran” (Amsal 22:6).

Kebenaran Firman Tuhan itulah yang harus ditanamkan di dalam diri, pribadi ASM. Sungguh suatu hal yang memprihatinkan jika gereja lebih banyak menyerahkan pendidikan rohani anak-anak jemaat kepada orang-orang yang seringkali belum berpengalaman dan tidak dipersiapkan dengan bekal yang cukup.

Jadi panggilan untuk menjadi pelayan, pada hakekatnya menjadi pergumulan sepanjang waktu Yesus dalam karya singkat-Nya di dunia ini,  Ia mewartakan kedatangan kerajaan Allah dan memanggil semua orang yang mau mendengarkan dan menjadi murid-Nya untuk mengikuti Dia dalam pelayanan. Panggilan tsb menjadi pergumulan karena menjadi bagian kehidupan; perhatian, pemikiran, ucapan, sikap dan tindakan. Pergumulan, karena berhadapan dengan seluruh unsur kehidupan: Pemberi hidup dan ciptaan. Pergumulan, karena menghadirkan suasana yang tersendiri dalam kehidupan orang yang dipanggil tersebut. Oleh karena itu, memahami kehidupan seorang yang menerima panggilan Tuhan sama artinya memasuki suatu kenyataan pergumulan hidup manusia yang tidak ada habis-habisnya.

Panggilan menjadi pelayan, menurut Alkitab ada sepanjang rentang waktu. Ia hadir bersamaan dengan pengenalan manusia akan Tuhan. Karena ia memperkenalkan nama dan perintahNya, kasih, penebusan, larangan, murka dan hukumanNya. Ia adalah alat yang Tuhan pakai dalam rencana dan pemeliharaan Tuhan atas ciptaannya. Dengan demikian dipahami sebagai pengabdian, tugas, tanggung jawab dan ketaatan kepada Tuhan, yang sungguh agung, berharga, sakral, berat sekaligus membahagiakan.

Dalam Perjanjian Baru, istilah “dipanggil” (‘kletos’) dan “panggilan” (‘klesis’) muncul 2 kali. Semuanya menyatakan panggilan Tuhan kepada umat-Nya untuk sesuatu maksud yang rohani. Seluruh jemaat dipanggil (“the called-out ones”) oleh Tuhan.  Hal itu sesuai dengan dengan Confessie HKBP Pasal 9: “kita percaya dan menyaksikan tiap-tiap orang Kristen terpanggil menjadi saksi Kristus”. Artinya, semua warga jemaat terpanggil menjadi saksi Kristus. Sebagai umat pilihan Allah terpanggil untuk memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Allah   (I Petrus 2 : 9). Dalam Mat. 4: 18 – 22; Mk. 1: 16 – 20; Luk. 5: 1 – 11, Yesus memanggil  Simon Petrus dan Andreas dari tempat bekerjanya di Danau Galilea dengan ajakan “mari ikutlah Aku, dan kamu akan kujadikan penjala manusia”.  Ajakan inilah yang kita sebut panggilan. Yesus memanggil muridNya berjalan dibelakangnya  (deute opisoo mou) yang  terjemahannya:  mari ikutlah Aku dari belakang atau mari berjalanlah dibelakangKu (Mat 4:19-20).

Yang dipanggil itu tidak mendahului atau tidak pergi ke kiri dan kekanan Yesus, bahkan tidak dikatakan berjalan sejajar tetapi selalu mengikut Yesus dari belakang (ekolouthesan= mengikuti). Tuhan Yesus memanggil murid-muridNya untuk berjalan dibelakang-Nya. Pengertianya jangan diartikan sempit. Dalam pemikiran umat Israel di zaman PL mengikuti seseorang atau berjalan di belakang mengandung arti mengiringi, menaati, mencintai, menyerahkan diri, dan mengabdikan diri. Untuk berjalan dibelakangNya Yesus tidak membebani kita, tetapi yang diinginkan Yesus merespons ajakanNya. Ajakan Yesus itulah yang mesti kita jawab. Sebab sambil berjalan itu kita terus mendengar dan melihat kepadaNya. Artinya mengikut Yesus berarti mendengar dan melihat serta menjadi prioritas.

Seorang pelayan atau murid, pasrah menyerahkan hidupnya kepada orang yang diikuti dengan segala risikonya. Karena kemauannya mengikuti panggilan Yesus, secara otomatis dia merubah hidupnya dengan kemauan Yesus yang diikutinya. Dia mau meninggalkan segala jalan kehidupan semula dan mengikuti jalan Yesus. Meski berat dan susah tetapi  kita tidak akan ditinggalkanNya. Jadi mari ikutlah Aku dari belakang telah mengubah hidup duabelas (oi dodeka) orang Galilea dan dikemudian hari ribuan juta orang lainnya.  Rahasia kesuksesan dari orang yang bersedia memenuhi panggilan Yesus ini, tertulis dalam Mk. 9:35; 9:35-50, “Jika seseorang ingin menjadi yang terdahulu, hendaklah ia menjadi yang terakhir.

3.  Tantangan Melayani Anak Sekolah Minggu

Tidak semua anak-anak anda adalah anak-anak yang ceria, yang polos dan yang haus untuk belajar. Tidak jarang mereka datang dari lingkungan yang kurang mendapat perhatian dan kasih sayang. Banyak diantara mereka adalah korban kejahatan orang dewasa dan lingkungan sekitarnya. Bahkan di lingkungan yang kurang beruntung anak-anak dijadikan pengemis, pekerja di bawah umur dll. Kejahatan terhadap anak- anak pada masa Alkitab pun ada. Dalam Kel 1:16, Firaun memerintahkan untuk membunuh semua bayi laki-laki bangsa Israel yang lahir. Kejahatan terhadap anak-anak dialami hampir oleh tiap bangsa, sebagai contoh bangsa Samaria. Kejahatan terhadap anak-anak ini sangat bertentangan dengan rencana Tuhan.

4.  Rencana Tuhan Bagi Anak-anak dan sejarah sekolah minggu

Alkitab sangat memberi perhatian kepada ASM ini. Dalam sejarahnya, jaman Perjanjian Lama, maka sebenarnya Alkitab telah memberikan perhatian yang serius terhadap pembinaan rohani anak. Pada masa itu pembinaan rohani anak dilakukan sepenuhnya dalam keluarga (Ulangan 6:4-7). Tujuan pendidikan  tsb  anak di didik oleh orang tuanya untuk mengenal Allah Yahweh. Pada masa pembuangan di Babilonia (500 SM), ketika Tuhan menggerakkan Ezra dan para ahli kitab untuk membangkitkan kembali kecintaan bangsa Israel kepada Taurat Tuhan, maka dibukalah tempat ibadah sinagoge di mana mereka dapat belajar tentang Firman Tuhan, termasuk diantara mereka adalah anak-anak kecil. Orangtua wajib mengirimkan anak-anaknya yang berusia di bawah 5 tahun ke sekolah di sinagoge. Di sana mereka dididik oleh guru-guru yang mahir dalam kitab Taurat. Anak-anak dikelompokkan dengan jumlah maksimum 25 orang dan dibimbing untuk aktif berpikir dan bertanya, sedangkan guru adalah fasilitator yang selalu siap sedia menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka.

Ketika orang-orang Yahudi yang dibuang di Babilonia diijinkan pulang ke Israel, maka mereka meneruskan tradisi membuka tempat ibadah (sinagoge) ini sampai masa Perjanjian Baru. Tuhan Yesus ketika masih kecil, juga sama seperti anak-anak Yahudi yang lain, menerima pengajaran Taurat di sinagoge. Dan pada usia 12 tahun Yesus sanggup bertanya jawab dengan para ahli Taurat di Bait Allah. Tradisi mendidik anak-anak secara ketat terus berlangsung sampai pada masa rasul-rasul (1 Tim 3:15) dan gereja mula-mula. Namun, tempat untuk mendidik mereka perlahan-lahan tidak lagi dipusatkan di sinagoge tetapi di gereja, tempat jemaat Tuhan berkumpul.

Rencana Tuhan terhadap manusia meliputi rencana Tuhan terhadap anak-anak juga. Dalam Kej 1:28, Tuhan memerintahkan manusia untuk berkembang dan bertambah banyak. Tuhan pula yang telah membentuk manusia sejak dia menjadi bakal anak di dalam kandungan ibunya dan Tuhan telah merancang kehidupan yang akan dilaluinya (Mazmur 139). Tuhan juga ingin memulihkan bangsa Israel dengan membentuk generasi baru yang bisa masuk ke tanah Kanaan (Bil 21:4-9). Tuhan juga merencanakan membangun Yerusalam baru dimana penuh anak-anak laki-laki dan perempuan bermain di jalanan (Zakaria 8:3).

Sejak kejatuhan manusia dalam dosa, anak-anak yang lahir telah mewarisi dosa (Mazmur 51:7), dan anak-anak juga akan menghadap tahta pengadilan Allah (Wahyu 20:15-16). Oleh karena itu anak-anak juga membutuhkan keselamatan dari Tuhan Yesus (Matius 18:14). Melalui kuasa kelahiran baru Roh Kudus, Tuhan memberikan rencana baru bagi manusia, termasuk anak-anak. Mereka akan bertumbuh menjadi milik kepunyaan-Nya dan berkarya bagi kemuliaan-Nya (Rom 11:36).

Anak-anak yang memiliki hati yang lemah lembut, merupakan tanah yang baik dan ladang yang paling cocok untuk ditanami kebenaran Alkitab. Alkitab pun mencatat bahwa anak-anak dapat percaya kepada Tuhan, dapat menyesali dosanya dan dapat memperoleh keselamatan dari Tuhan, bahkan orang dewasa patut meneladani sikap anak-anak ini (Markus 10:15).

5.   Panggilan Melayani Anak Sekolah Minggu

Tuhan ingin agar anak-anak ini mengenal Pencipta mereka; bertemu dengan Dia dan diubahkan menjadi ciptaan baru. Pelayanan ASM tidak semata-mata dibentuk untuk mendidik anak-anak menjadi anak- anak yang manis yang mempunyai sikap baik budi. Itu bukan tujuan utama Tuhan bagi anak-anak. Tujuan mengajar ASM  ialah supaya mereka harus berjumpa secara pribadi dengan Tuhan Yesus Kristus. Kita harus meyakini bahwa apa yang telah dimulai olehNya, maka Ia juga yang akan menyempurnakan nya.

Pendidikan melalui pelayanan ASM akan menjadi dasar pertumbuhan rohani seorang anak untuk dapat mengenal kebenaran Alkitab, menyembah Tuhan dan memuji Tuhan dan mengasihi pekerjaanNya. Apabila mereka telah dimenangkan maka berarti generasi selanjutnya juga telah dimenangkan, karena mereka adalah penerus dan pemimpin generasi yang akan datang. Dan tidak bisa disangkal bahwa jika kita memenangkan anak-anak maka kita tahu gereja memiliki masa depan.

6.  Syarat menjadi pelayan anak sekolah minggu

Yang dimaksudkan syarat di sini ialah tujuannya agar setiap guru sekolah minggu menyadari bahwa pendidikan ASM itu dituntut agar memberikan hasil yang sesuai dengan yang diharapkan. Dengan demikian menjadi GSM tidak semudah yang kita bayangkan. Karena tiap orang yang menjadi GSM itu harus senantiasa merenungkan firman Tuhan seperti tertulis dalam  “janganlah banyak orang diantara kamu mau menjadi guru; sebab kita tahu, bahwa sebagai guru kita akan dihakimi menurut ukuran yang lebih berat.” (Yakobus 3:1) “Mereka (diaken/pelayan Tuhan) juga harus diuji dahulu, baru ditetapkan dalam pelayanan itu setelah ternyata mereka tak bercacat.” (1 Timotius 3:10) “sebagai pangatur rumah Allah seorang penilik jemaat (pelayan Tuhan) harus tidak bercacat, tidak angkuh, bukan pemberang, bukan peminum, bukan pemarah, tidak serakah …” (Titus 1:7) “Seorang hamba Tuhan tidak boleh bertengkar, tetapi harus ramah terhadap semua orang. Ia harus cakap mengajar, sabar dan lemah lembut menuntun orang yang suka melawan,” (2 Timotius 2:24)

Dari data di atas, Firman Tuhan di atas ini, menjadi GSM itu diharuskan memenuhi syarat atau tuntutan firman tsb. Untuk maksud tujuan inilah maka pembinaan GSM itu penting.  Sebab GSM itu juga adalah pelayan Tuhan. Atas dasar itulah semua GSM harus memenuhi syarat tsb.

Syarat menjadi GSM, (1) di atas bahu GSM  inilah tergantung masa depan generasi penerus gereja Tuhan. Yang menjadi syarat bukan masalah pandai atau bodoh, kaya atau miskin, tapi masalah hati. Jika seseorang telah menyerahkan hatinya kepada Tuhan maka Tuhan akan membentuk dan memperlengkapi mereka dengan kemampuan yang sesuai dengan panggilan yang Tuhan berikan.

(2) Tugas utama GSM ialah memiliki kewajiban untuk memperkenalkan Kristus pada anak-anak. Hal ini hanya akan mungkin terjadi bila guru telah mengenal Tuhan Yesus secara pribadi. Hanya guru yang telah mengenal Allah dengan sungguh-sungguh dan mengalami kasihNya yang luar biasa, yang dapat memberikan gambaran yang benar tentang Allah (Yohanes 3:3; 1 Korintus 2:14; 2 Korintus 5:17).

(3) Tiap GSM harus memiliki kerajinan untuk membaca, merenungkan firman Tuhan siang dan malam. Dari persekutuan dengan Firman Tuhan, guru akan bertumbuh dan selalu siap memberi berkat karena dengan berakar di dalam Firman Tuhan maka hidupnya akan menjadi seperti aliran air hidup yang tidak akan menjadi kering (1 Petrus 2:2; Yohanes 6:35). Pelayan ASM dan GSM yang telah mengalami kasih Tuhan akan sanggup mengasihi anak-anak didiknya, sekalipun kadang mereka nakal, bandel dan sulit dikasihi. Setiap anak adalah berharga di mata Tuhan. Oleh karena itu Tuhan ingin supaya kita mengasihi mereka sebagaimana Tuhan mengasihi kita. Kasih Tuhan memungkinkan kita mau berkorban memberikan yang terbaik bagi Tuhan dan anak didik kita (Yohanes 3:16; Efesus 4:1-2).

(4) Ketaatan GSM kepada Tuhan menjadi penentu keberhasilannya. Karena mengajar adalah ketaatan menjalankan Amanat Agung Yesus Kristus. Hidup seorang pelayan Tuhan adalah hidup dalam ketaatan, ia rela menjalankan kehendak Tuhan karena hidupnya adalah milik Kristus (Filipi 1:21-22; Galatia 2:20-21). Ukuran ketantaatan ialah bersandar pada Tuhan dan bukan kepada kekuatan sendiri, karena Dialah yang memimpin dan menolong kita (Amsal 3:5; 2 Timotius 1:12). Hidup suci adalah modal utama bagi seorang pelayan Tuhan yang ingin memberikan teladan hidup yang benar dan berkenan kepada Tuhan.

(5) Tidak mungkin GSM itu berhasil jika ditunjang oleh disiplin. Disiplin menolong kita untuk senantiasa melayani secara konsisten, berapi-api dan tanpa pamrih (Roma 12:11; 2 Korintus 4:8). Guru harus rendah hati, termasuk mau dikritik dan ditegur supaya ia bisa terus belajar (Yesaya 50:4; 1 Timotius 4:6).

Jadi syarat yang paling penting untuk menjadi seorang GSM, mengasihi Tuhan dengan segenap hati, dan mengasihi anak-anak seperti diri kita sendiri (Ulangan 6:5). Mengasihi Tuhan berarti juga mengenal Firman-Nya, dan Firman inilah yang harus kita nyatakan pada anak-anak dari dalam hati kita, bukan hanya dari otak kita.  Mengasihi anak berarti kita terpanggil untuk menyampaikan Firman Tuhan pada anak-anak, meski dengan konsekuensi yang tidak gampang. Sebagai GSM harus banyak memperlengkapi diri dengan berbagai pengetahuan dan ketrampilan untuk dapat menyelami dan memahami alam pikiran dan jiwa anak-anak.

7.  Tugas seorang GSM ialah mengajar

Proses belajar mengajar adalah proses seumur hidup, berawal dari kehidupan seorang bayi mungil yang belajar melalui orangtua dan lingkungannya, sampai menjadi seorang dewasa yang terus menerus menjalani proses pembentukan, baik melalui pendidikan formal (sekolah atau institusi pendidikan lainnya) maupun non formal (keluarga, masyarakat, lingkungan, dsb.). Proses belajar mengajar ini juga dialami oleh Tuhan Yesus, meskipun Dia adalah Sang Guru Agung.

Seluruh konsep mengajar dalam Perjanjian Lama (PL) dan Perjanjian Baru (PB) melibatkan tiga aspek paling penting bagi anak didiknya:  Pertama, mendengar ajaran-ajaran/nasehat-nasehat yang diberikan oleh orang tua/orang yang lebih bijaksana. Dalam konteks bangsa Yahudi ajaran-ajaran itu berasal dari Firman Allah yang mereka dengar turun menurun dari nenek moyang mereka. Sedangkan fokus ajaran/nasehat itu adalah untuk pembentukan karakter yang saleh (godly life) dan takut akan Allah (Ulangan 31:12-13). Kedua, merenungkan supaya apa yang didengar di atas, diproses di dalam hati anak untuk menjadi pengalaman hidup yang transformasional, yang membawa kepada perubahan hidup (Roma 12:2).  Ketiga hidup dalam komunitas orang percaya (Efesus 3:15-18), sehingga pengajaran berlangsung dalam konteks hubungan pribadi antara:  => Tuhan dan guru – guru dan anak – anak dan Tuhan <=
Alkitab adalah sumber utama dalam mengajar.Mengajar anak sangat berbeda dengan mengajar orang dewasa. Pada orang dewasa, pada umumnya telah terbentuk cara berpikir dan pandangan/prinsip-prinsip hidup yang sudah mapan (permanen) dan hal itu sering kali sulit untuk diubah. Tetapi mengajar anak adalah seperti mengisi botol yang masih kosong, masih banyak hal yang dapat diisi dalam pikiran anak, dan belum terbentuk pola pikir dan pandangan-pandangan tertentu secara permanen. Oleh karena itu GSM  mempunyai banyak kesempatan emas untuk membangun suatu dasar yang kuat dan benar bagi kehidupan rohani ASM.
Memberikan pengajaran yang sesuai dengan Alkitab sangat penting supaya anak belajar mengenal Allah dengan benar. Guru harus belajar untuk senantiasa setia pada Alkitab, biasakan untuk menjadikan Alkitab sebagai buku sumber yang paling utama dalam mengajar. Pokok-pokok kebenaran yang diajarkan guru Sekolah Minggu harus didukung oleh kebenaran dari ayat-ayat Firman Tuhan.

8.  Kedudukan Sekolah Minggu dalam Gereja

Kedudukannya di dalam pelayanannya tak terpisahkan dari semua program pelayaanan ASM. Gereja tidak boleh memandang rendah atau menyepelekan anak kecil. Sebaliknya sudah sewajarnya bila gereja memberi perhatian pada pelaksanaan dan pertumbuhan ASMS. Melalui ASM, gereja memiliki tanggung jawab yang besar, yaitu membimbing dan mempersiapkan angkatan muda, generasi penerus di masa yang akan datang. Sungguh suatu hal yang indah bila gereja dapat mengatakan kepada anak-anak, “Marilah anak-anak, dengarkanlah aku, takut akan TUHAN akan kuajarkan kepadamu!” (Mazmur 34:12)

Amanat Agung Tuhan Yesus, “…. Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk.” (Markus 16:15) “…. jadikanlah semua bangsa muridKu …. dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu ….” (Matius 28:19-20) . Perintah Tuhan Yesus di atas ditujukan pada segenap orang percaya (Gereja yang kudus dan am) untuk meraih dan membimbing orang mengenal kebenaran, termasuk di dalamnya adalah untuk menjangkau dan membimbing anak-anak. Semasa hidup di dunia, Tuhan Yesus dalam beberapa kesempatan menunjukkan perhatian-Nya pada anak-anak. Di kala orang-orang dewasa “menganggap sepele” kehadiran anak kecil, Tuhan Yesus justru meluangkan waktu bersama dengan anak-anak (Markus 10:13-16).  Bahkan, Tuhan Yesus sempat memberikan peringatan yang cukup keras pada orang dewasa untuk memperhatikan pengajarannya pada anak kecil. “Tetapi barangsiapa menyesatkan salah satu dari anak-anak kecil ini yang percaya kepadaKu, lebih baik baginya jika sebuah batu kilangan diikatkan pada lehernya lalu ia ditenggelamkan ke dalam laut.” (Markus 9:42)

9.  Kesimpulan

Dari penjelasan di atas ini, peran pembinaan kepada ASM itu sangat memegang peranan penting di dalam tubuh gereja itu. Jikalau ASM berhasil, berarti gereja telah melatih dan mempersiapkan para pemimpin gereja untuk masa yang akan datang. Memang “anak-anak kecil” yang terlihat hadir di Sekolah Minggu, tapi “anak-anak kecil” itulah yang beberapa tahun ke depan akan menjadi para pemimpin gereja. Kualitas para pemimpin gereja di masa yang akan datang, sedikit banyak dapat dilihat dari bagaimana kualitas Sekolah Minggu yang ada saat ini.

Oleh karena itu, penting dipikirkan bersama, bagaimana membuat ASM menjadi program yang terintegrasi dengan gereja secara utuh. Bagaimana merangkai program pembinaan anak secara berkesinambungan hingga kelak mereka remaja dan dewasa. Melayani ASM merupakan suatu tugas dan tanggung jawab yang berat. Tapi sesuai dengan janji-Nya, Tuhan Yesus akan senantiasa menyertai dan memberikan kekuatan bagi setiap kita yang terpanggil melayani di Sekolah Minggu. “…. ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” (Matius 28:20)

Tanggung Jawab GSM hanya dapat bertahan kalau pengajar-pengajarnya adalah orang-orang yang berkepribadian kuat. Gereja dan Sekolah Minggu milik kita bersama. “Jadilah teladan bagi orang-orang percaya,” (1Timotius 4:12). Sekolah Minggu diselenggarakan di semua gereja di  Indonesia, namun   pengembangan pelayanannya belum diusahakan secara maksimal.  Mengingat pentingnya Sekolah Minggu sebagai wadah persemaian, bukan hanya pengetahuan tentang iman Kristen, melainkan juga nilai-nilai yang mendukung kehidupan, khususnya kasih terhadap sesama,  keadilan dan perdamaian,

Menyadari dampak kemajuan zaman dengan diikuti derasnya pengaruh perkembangan teknologi informasi pada anak-anak saat ini, menjadi pergumulan yang tidak mudah bagi sekolah minggu untuk mendapatkan guru-guru yang memiliki hati dan motivasi yang kuat sehingga dapat mendidik anak mengintegrasikan iman di dalam ilmu dan moral. Amin.


[1] Bahan Pembinaan Guru Sekolah Minggu HKBP DIstrik X Medan Aceh, Angkatan ke-2, Tahun 2005. Lantai 3 Kantor Distrik Jln Uskup Agung Sugiopranoto 6 Medan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s