Makna Mengucapkan Amin dan Haleluyah

“Kedua puluh empat tua-tua dan keempat makhluk itu sujud dan menyembah Allah yang duduk di atas takhta itu, dan mereka berkata, ‘Amin, Haleluyah'”. Wahyu 19 : 4

Kata Amin dan Haleluyah merupakan dua kata yang begitu populer dan berkuasa dalam kekristenan ini. Walaupun sebagian orang Kristen ada yang masih enggan untuk mengucapkan kedua kata ini dalam kehidupan sehari-hari. Dalam ayat di atas kita membaca bahwa kata Amin dan Haleluyah diekspresikan di sorga pada pesta perkawinan Anak Domba. Kenapa kita perlu mengikuti pola surga? Surga adalah tujuan kita! Surga adalah model kekristenan di dunia ini. Surga adalah satu keadaan yang real, yang nanti kita alami. Tetapi suasana sorga dapat juga kita alami di bumi. 

Kata A m i n

Amin dalam bahasa Ibrani disebut “ammen” artinya setuju, teguh, benar, setia. Amin adalah suatu respon kepada kebenaran. Wahyu 3:14….inilah firman dari Amin, Saksi yang setia dan benar….” Amin adalah gelar dari Tuhan. Jadi apabila kita mengucapkan amin berarti menyebutkan Tuhan yang adalah benar.

Dalam Ulangan 27:15, 17-26 dijelaskan bahwa semua orang Israel harus menjawab amin apabila ada firman Tuhan dalam bentuk peringatan. Gunanya adalah supaya peringatan Tuhan itu diingat. Jadi keliru besar jika ada orang menggunakan atau mengucapkan kata amin itu hanya untuk mengakhiri sebuah doa. Kita harus membiasakan mengatakan Amen, bilamana pengkhotbah atau pemimpin ibadah menyatakan suatu kebenaran firman Tuhan. Kita katakan Amin bilamana ada firman atau nubuatan atau kata-kata berkat. Amin harus diucapkan! Mengucapkan amin berarti kita memberikan respon kepada Firman Tuhan. (Mazmur 106:48).

Kata H a l e l u y a  h

Haleluyah dalam bahasa Ibrani disebut “halelluyah” yang terdiri dari dua kata yaitu halel dan Yahweh yang berarti pujilah Tuhan. Dan dalam bahasa Yunani disebut denan “aleluya” yang artinya pujilah Tuhan.

Wahyu 19:1,3,4,6. Di sorga kata haleluyah adalah kata pujian dan sembahan yang ditujukan kepada Allah yang Mahatinggi. Kata haleluyah adalah kata yang penuh dengan kuasa. Iblis sering memperdaya sebagian orang Kristen untuk tidak mengucapkan kata amin dan haleluyah, karena iblis tahu bahwa kedua kata ini mempunyai kuasa yang sangat besar. Dengan ilhaman Roh Kudus pemazmur menekankan betapa pentingnya mengucapkan haleluyah. Mazmur 146:1; 147:1; 148:1;149:1; 150:1,6. Semua yang bernafas selalu harus memuji Tuhan dan selalu mengatakan : Haleluyah!

Oleh sebab itu jadikanlah pengucapan “Amin” dan “Haleluyah” sebagai gaya hidup kita. Saudara akan diberkati lewat mengucapkan kedua kata ini. Tuhan Yesus memberkati!

Iklan

HENTIKAN KEKERASAN DENGAN KEBAIKAN DAN PENGAMPUNAN

HENTIKAN KEKERASAN DENGAN KEBAIKAN DAN PENGAMPUNAN

Oleh: Pdt Midian KH Sirait,MTh

Aksi kekerasan di tanah air seolah tiada hentinya. Masyarakat mengalami atau berada dimana ikatan sosial, solidaritas sosial dan segala bentuk kerja sama sosial yang terpelihara selama ini mengalami keretakan. Bangsa kita menghadapi berbagai permasalahan serius, yang terutama adalah kekerasan yang terus menghiasi pemberitaan media elektronik dan media televisi.

Sebagai orang-orang yang sudah menjadi anak-anak Tuhan, maka setiap orang Kristen dituntut untuk memperlihatkan karakter pembawa damai di tengah masyarakat yaitu mengalahkan kekerasan dengan kebaikan dan pengampunan.

Secara filosofis, fenomena kekerasan merupakan sebuah gejala kemunduran hubungan antarpribadi, di mana orang tidak lagi bisa duduk bersama untuk memecahkan masalah. Hubungan yang ada hanya diwarnai dengan ketertutupan, kecurigaan, dan ketidakpercayaan. Dalam hubungan seperti ini, tidak ada dialog, apalagi kasih. Semangat mematikan lebih besar daripada semangat menghidupkan, semangat mencelakakan lebih besar daripada semangat melindungi. Inti kekerasan adalah pembenaran mutlak diri sendiri atau peninggian mutlak diri sendiri disertai perendahan mutlak orang lain.

Peran gereja dan umat amat dibutuhkan perhatian dan kontribusi dalam menanganinya. jangan bersikap menunggu dalam berbuat. Ketegasan gereja dan umat menjadi kunci utamanya, yaitu menciptakan dan membangun Indonesia yang ditandai solidaritas dan perdamaian, terciptanya penghormatan, dialog, dan persaudaraan. Yaitu dengan cara membangun komitmen bersama diantara umat dan masyarakat lainnya sehingga terlihat kerjasama yang baik di dalam menggembalakan kawanan domba Allah di dunia ini.

Kekerasan dihadapi dengan kebaikan Gereja sebagai bagian dari masyarakat, tidak bisa mengacuhkan tanggung jawab sebagai pembawa damai. Ketika gereja secara proaktif mengupayakan dan mempromosikan perdamaian di tengah masyarakat, maka pada akhirnya dunia akan melihat gereja sebagai komunitas yang merepresentasikan karakteristik Allah yang senantiasa menghendaki perdamaian.

Ajaran agama tidak mungkin membenarkan kekerasan sebagai alat atau cara untuk mengakhiri sebuah kekerasan. “Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu” (Mat 5:44). Tidak membalas, merupakan sikap sejati yang diajarkan Tuhan Yesus. Kepada orang-orang yang menfitnah dan menganiayanya Ia berdoa supaya Tuhan mengampuni mereka sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat (Luk 23:34). Sebagai warga dan umat Kristen yang tinggal di Indonesia tentu berharap terciptanya kedamaian, ketentraman, persaudaraan, tidak ada lagi kerusuhan, semua persoalan tidak diselesaikan dengan kekerasan.

Hentikan kekerasan dengan kebaikan, lebih jeli untuk mengatasinya. Itulah idealnya. Perlu digunakan kearifan. perlu diupayakan dialog. Karena itu peristiwa-peristiwa kekerasan harus dijadikan pembelajaran agar bisa diambil jalan keluar yang memuaskan masing-masing pihak. Kekerasan dihadapi dengan pengampunan

Alkitab menggolongkan orang hidupnya penuh dengan kekerasan adalah orang yang tidak percaya memiliki keinginan merusak rencana Tuhan. Untuk menyelesaikan rencananya, yang diinginkannya menghancurkan benih kebenaran. Alkitab mengatakan, “Orang yang menggunakan kekerasan menyesatkan sesamanya, dan membawa dia di jalan yang tidak baik” (Ams 16:29). Janganlah meniru orang lalim dan janganlah memilih satupun dari jalannya (Ams 3 : 31). Orang lalim akan menderita karena kekerasan.

Kutipan Kitab Amsal ini ingin memberikan kepada kita saran mengatasi kekerasan kesabaran dan kelembutan untuk mengatasi masalah kekerasan. Dari kutipan nats di atas, maka Alkitab mengajarkan kita bahwa satu solusi terhadap kekerasan adalah pengampunan. Yesus mengajarkan murid-muridnya untuk berdoa. Ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami (Mat 6:12). Mengampuni memutus mata rantai tudingan dan sakit hati, memutus lingkaran setan kebencian.

Di Perjanjian Baru, kata dalam bahasa Yunani yang umum dipakai untuk pengampunan bermakna secara harfiah “melepaskan”, “membebaskan diri” dari sesuatu. Pengampunan karena kasih yang memampukan untuk tetap bertahan dan bertumbuh dalam kesabaran dan kelemah-lembutan adalah buah dari Roh Allah yang sangat dibutuhkan dalam mengatasi kekerasan. Mengampuni membawa kita untuk maju, tetapi mendendam mengikat kita pada masa lalu, kepahitan yang sudah terjadi, sakit hati yang sudah dialami, dan seterusnya.

Pengampunan, menawarkan sebuah jalan keluar. Ketika Yusuf mengampuni saudara-saudaranya di, dia berteriak dan menangis dengan suara nyaring (Kej 45). Pengampunan yang diberikannya adalah kemerdekaan bagi dirinya. Kekuatan dahsyat dari pengampunan adalah transformasi. Teladan pengampunan kita adalah Tuhan yang telah mengampuni kita, karena itu pengampunan kita juga tidak diberikan batas. Hanya pengalaman kasih Allah yang dapat mengubah hati manusia yang seperti batu, membebaskan manusia dari perhambaan dan membuatnya mampu untuk melepaskan diri dari struktur-struktur yang beku K

ekerasan dihadapi dengan akal sehat.  Bersama Allah, kita akan gagah perkasa. Dialah yang mengalahkan musuh kita. (Maz 60:12-13). “Ya Allah, tolonglah kami menghadapi musuh-musuh kami, karena bantuan manusia tidak berguna. Dengan pertolongan Allah kita akan melakukan perkara-perkara yang ajaib, karena Ia akan menginjak-injak musuh kita.” Bersama Allah kita akan mengajak masyarakat untuk tidak pesimistis dalam menyelesaikan permasalahan kekerasan karena tidak sedikit kasus yang menunjukkan jalan keluar atas ketidakadilan ketika Allah terdepan. Segala sesuatu mestinya bisa dibicarakan dan diatasi secara damai dan dengan akal sehat. Inilah solusinya dalam menjawab kerentanan sosial yang semakin meningkat karena masyarakat semakin frustrasi.

Kekerasan tidak mungkin dapat dipakai sebagai alat atau cara mengakhiri kekerasan. Yesus mengajarkan cinta damai sebagai salah satu nilai tertinggi dalam relasi antar-manusia. “Berbahagialah mereka yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah” (Matius 5:9). Kedamaian atau shalom selalu menjadi visi keagamaan. Karena itu, ajaran agama tidak mungkin membenarkan kekerasan sebagai alat atau cara untuk mengakhiri sebuah kekerasan. Akhirnya, kekerasan tidak mendapat tempat dalam dalam Alkitab. Sehingga peran gereja seharusnya terus dikedepankan dan ditonjolkan dalam membangun relasi antar-manusia dan antar-bangsa, sihingga dunia kita ini benar-benar menjadi dunia cinta damai.

Yesus mengajarkan kasih universal antara manusia, dan ketaatan pada kehendak Allah. Pembawa damai adalah orang-orang yang didorong oleh semangat dan komitmen untuk membawa perbaikan di tengah masyarakat yang sedang dilanda kekerasan. Hanya hati yang sudah diubah mampu membangun komunitas manusiawi yang baru, mampu melakukan yang baik.

Jadilah menjadi pembawa damai di setiap waktu dan tempat, mulai dari kesediaan mengembangkan bahasa kelembutan, membiasakan persahabatan hingga membudayakan perdamaian. “Jawaban yang lemah lembut meredakan kegeraman, tetapi perkataan yang pedas membangkitkan marah” (Amsal 15:1). Amin. (Penulis: Pendeta HKBP Resort Kalimantan Timur)

Tebarkanlah damai kepada setiap orang!

Tebarkanlah damai kepada setiap orang!

                                

Oleh: Pdt Midian KH Sirait,MTh

 Sejatinya bangsa Indonesia adalah bangsa yang ramah dan cinta damai. Damai memang merupakan syarat mutlak dapat diciptakannya kondisi kondusif  dalam kaitan dengan kemampuan untuk beraktifits dan dapat menghaslkan  sesuatu yang diinginkan. Kita sungguh mendambakan perdamaian semesta bumi. Namun, akhir-akhir ini, bentuk kekerasan dan kejahatan bertambah di mana-mana.

Tiap hari di sepanjang deretan berita konflik itu semakin meluas. Konflik ada di mana-mana. Dalam realitasnya, kekerasan lebih merupakan lingkaran yang sulit dilacak ujung pangkalnya. Dari hari ke hari, modus dan eskalasi kekerasan terus bermanuver dan bereproduksi sedemikian rupa sehingga mengancam ketenteraman dan kenyamanan hidup masyarakat dan warga jemaat.

Tiada hari tanpa konflik dan kekerasan. Inilah fenomena terkini yang sedang melanda di beberapa daerah negeri ini yang patut didoakan. Dan untuk konflik macam ini pulalah kita harus berani menghadapinya, bukan menjauhi atau bahkan berupaya menghindarinya. Yesus berkata, berbahagialah orang yang membawa damai (Mt 5:9). Membawa damai adalah sikap aktif, kreatif, dan berinisiatif untuk mencari solusi atau jalan pemecahan demi perdamaian, meski jalan penuh tantangan. Orang yang demikian itulah akan disebut anak-anak Allah.

Damai itu indah

Pada hakekatnya semua orang ingin hidup berbahagia dan damai-sejahtera. Kondisi damai dan nyaman yang didambakan oleh seluruh  manusia itulah yang harus selalu diciptakan oleh semua pihak. Damai bukanlah hal yang mustahil, namun damai butuh pengorbanan. Bahkan perdamaian membutuhkan pengorbanan yang lebih besar. Pembawa damai itu mempunyai kedudukan dan peran yang sangat penting dan mulia.  Damai itu indah. Hidup damai dan bersaudara itu indah, tidak ada saling mengkotak-kotakkan antara agama, suku budaya.

Karena itu damai itu memang harus diciptakan, dikehendaki dan diinginkan oleh semua pihak, namun dibutuhkan  saling pengertian dan bahkan sangat mungkin pengorbanan. Itu harapan kita bersama.Berharap Indonesia dapat menjadi negara yang aman dan menjadi contoh negara yang memiliki banyak suku dan agama, tetapi tetap damai selalu. Komitmen cinta damai ini secara formal diabadikan dalam pembukaan UUD 1945 dalam frasa ‘ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial…’

Berharap di Indonesia dapat terjadi hal di atas, tetapi kenyataannya sekarang bangsa kita yang dahulunya aman dan tentram yang dikenal keramah tamahannya, saat ini berubah menjadi krisis mengalami penurunan. Padahal bangsa kita adalah bangsa yang Bhinneka Tunggal Ika, berbeda-beda agama dan suku tetapi tetap satu dan padu. Kondisi tenang, tenteram, tertib, aman, dan kondusif itulah cerminan dari damai, sehingga siapapun akan sepakat kalau damai itu indah dan menyenangkan.

Kesaksian Alkitab

Jauh sebelum semboyan di atas dinyatakan di Indonesia, Yesus sendiri juga berbicara tentang pentingnya damai. Bahkan Yesus berkata: “Berbahagialah orang yang membawa damai”. (Mat 5:9a) Kata Yunani yang diterjemahkan dengan “berbahagia” itu ialah makarios. Arti asli dari makarios sebenarnya lebih luas dan lebih kaya dari sekadar “bahagia”. Sebab, makarios mengandung pula janji akan berkat, ucapan selamat, dan anjuran.  Oleh sebab itu, siapa saja yang mau bertindak sebagai pembawa damai itu mempunyai kedudukan dan peran yang sangat penting dan mulia.

Implikasi dari perkataan Yesus ini ingin mmenyampaikan pesan bahwa para pengikut Yesus di dunia ini bertugas untuk membawa atau menebarkan keadaan dan suasana damai dalam kehidupan ini, tidak utamanya bagi diri sendiri, melainkan juga untuk semua orang. Atas dasar itulah Rasul Paulus menyampaikan imbauannya, “Marilah kita mengejar apa yang mendatangkan damai sejahtera dan yang berguna untuk saling membangun.” (Rom 14:19).

Ucapan bahagia Yesus ini, yang lebih dikenal khotbah di bukit tsb,  menugasi para pengikut-Nya untuk menjadi pembawa damai itu menyiratkan makna bahwa di tengah kehidupan ini, betapapun buruknya situasi dan kondisi yang ada, ancaman tindak kekerasan yang menghancurkan kehidupan itu, keadaan damai itu sesungguhnya masih tetap mungkin dan bisa diwujudkan. Kita harus yakin akan hal itu. Apa yang tidak mungkin, adalah mungkin bagi Allah (Luk 1:37).

Pembawa damai yang difirmankan Yesus itu, harus diupayakan untuk merukunkan orang-orang yang bermusuhan, untuk menciptakan suasana dan keadaan di mana keselamatan dan kesejahteraan lahir dan batin dapat dirasakan dan dinikmati oleh siapa saja dalam kehidupan ini. Damai yang sesungguhnya, harus mampu menciptakan rasa dan keadaan sejahtera.

Dengan kata lain, mengupayakan damai, itu berarti harus pula mengupayakan terwujudnya kebenaran, keadilan dan kasih dalam kehidupan. Menjadi pembawa damai harus berarti menjadi pembawa kebenaran, keadilan dan kasih. Dalam hal ini damai lalu menjadi sebuah kata atau istilah yang dinamis dan sensitif, penuh upaya dan bahkan perjuangan. Tuhan sendiri  mendorong agar terjadi perdamian diantara keluarga, suami dan istri, tetangga, masyarakat dan bangsa. Untuk itulah  dalam menciptakan damai tersebut dibutuhkan  kesadaran semua pihak dan sekaligus kemauan untuk  damai, dengan mengorbankan sedikit kepentingan pribadi.

Kasihilah sesamamu manusia

Keadaan damai karena kehidupan umat dan masyarakat terciptanya kondisi saling mengasihi di antara warga. Secara historis kasih Allah itu sudah ada jauh sebelum dunia dijadikan ( Yoh 17:24 ). Kasih dan damai sejahtera itu bersumber dari Allah Dalam kelimpahan kasih Allah, Dia menciptakan manusia dan alam, supaya kelimpahan kasihNya tercurah untuk manusia dan alam yang diciptakanNya itu. Kasih Allah yang melimpah itu diperkenalkan dan dinyatakan melalui karya penebusan Yesus  untuk memelihara  manusia dalam kekudusan Allah.

Kasih selalu hidup berdamai seorang dengan yang lain tanpa rekayasa politik. Kasih itu bukan implementasi kata dan perbuatan dibalik slogan filosofi politik, tetapi kasih itu implementasi Firman Tuhan, yakni mengasihi sesama manusia seperti dirimu sendiri, dan mengasihi sesama manusia dengan segenap hati dan dengan segenap jiwa dan dengan segenap akal budi yang luhur.

Akhirnya, berbahagialah si pembawa damai. Sebab dimana ada kebenaran disitu akan tumbuh damai sejahtera, dan akibat kebenaran ialah ketenangan dan ketentraman untuk selama-lamanya. yah kedamaian memang indah, bikin hati tenang. Keindahan ciptaan Ilahi mendamaikan setiap hati insan yang dambakan ketenangan.

Marilah kita hidup damai dan memeliharakan persekutuan kasih kita dengan sehati sepikir, dalam satu jiwa, satu tujuan, dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia, sebaliknya dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri (Filipi 2:1-4). Marilah kita menyelesaikan segala masalah dengan damai. Damai itu indah karena ada kasih di dalamnya, dan kasih itu ada di dalam Kristus. Amin. (Penulis Pendeta HKBP Resort Kalimantan Timur)

JAHOWA PANGURUPI DI HAGOGOTAN

JAHOWA PANGURUPI DI HAGOGOTAN”

Nas: Jesaya 33 : 2 – 6

Diragam ni parungkilon na taadopi di portibi on, isara na torop ni napogos lam martamba, hademakon na so adong martontu, songoni nang keadaan ekonomi na so martontu, (minyak tano, dll maol jumpang laho tuhoron ni masyarakat), lampu listirikpe sipata mintop, songoni muse di situasi politik na holan mamingkiri hadirionna angka kalangan elit politik dohot lan angka naasing dope. Saluhutna sitaonon i boi do masa alani hadirionta jala boi do tong alani halak na asing.

Dibagasan turpukon mangadopi sitaonon do bangso Israel hinorhon ni pangalaho ni angka panggomgomi dihatihai ima di tingki harajaon ni raja Hizkia, na sai holan mangasahon gogona dohot pikiranna laho manguluhon bangso i tung so diparrohahon be angka poda, tona dohot hata ni Debata. Ditahi rohana do naeng pabidanghon nanirajaanna ima naeng laho manaluhon bangso Asyur marhite na manjalo pangurupion sian halak palistim dohot Misir. Alai diujungna ditaluhon bangso Asyur do nasida songoni nang Misir. Hinorhon ni hamongkuson ni raja Hiskia i, gabe mampanghorhonma tu ngolu ni bangso Israel (Juda) alani angka namasa i, marungkil jala marporsuk Ditongatonga ni kondisi na sisongoni ro ma Tuhanta marhite panurirang Jesaya, paboahon na parasiroha do Tuhan Debata tu bangsoNa jala sai marpangulahi do rohaNa. Adong tolu namansai ringkot dipaingothon panurirang Jesaya tu angka panggomgomi ima :

1. Taringot tu ngolu parugamoon : Ingkon tongtong satia bangso Israel tu Debata Jahowa jala hasatiaon i, patar marhite angka kegiatan peribadahan. 2. Taringot tu ngolu sekuler : Mencakup ngolu social dohot ekonomi, ingkon marojahan jala manghatindangkon hasintongan dohot hatigoran ni Debata. 3. Taringot tu ngolu Politik : Ingkon manghatindanghon jala manghajongjongkhon Debata Jahowa do raja ni sude angka raja marhite namanangihon hataNa.

Natolu sipaingothon, ndang dianturehon angka panggomgomi ima raja dohot angka siihuthon ibana, ujungna gabe lam tamba ma parungkilon dohot parsorion ni bangso i. Torop do di partingkian on pangalaho sisongoni, na sai holan mamingkiri dohot patujolohon na di rohana. Anggo lomo ni roha ni donganna dohot lomo ni roha ni Debata tung so dianturehon do. Molo ndung solot pangalaho sisongoni tu diri ni sasahalak gabe tubu ma pangalaho haginjangon ni roha na mambahen lomolomona sambing so parduli angka aturan dohot uhum songoni tu angka donganna lumobima tu Debata. Somalna saleleng so jumpang “sipaingot” sian Debata taringot tu pangalahona i, tongtong do datdatanna mangulahoni rap dohot sibolis i.

Molo ndung jumpang “sipaingot i” jala ndang tolapsa laho mangadopi dung jolo sian nasa gogona, ipe asa ro tu Debata mangido asi ni rohaNa. Pangalaho na songoni do jumpang hita di pardalanan ni ngolu ni bangso Israel mulai sian na haruar nasida sian tano Misir i. Mauliate situtu ma tapasahat tu Amanta Debata na burju i na sai tongtong manarihon ngolunta. Ndang hea dijujur saluhut angka hahuranganta i, Alai sai tongtong do marpamuati roha ni Debata. Ai ndada di halomohon Debata hamatean ni parjahat, alai hamubaon ni rohana do tahe asa mangolu (Hes. 18 : 23). Hamu angka dongan na hinaholongan ni Tuhanta i, Marhite hagogoon dohot asi ni roha na sian Tuhantai hamonangan do ujung ni harajaon ni Debata jala i do pos ni rohanta molo manahan hita marhabengeton. Alai dipardalanan ni ngolunta siganup ari dipartingkian on godang do taadopi angka hasusaan jala memang ari hasusaan do angka ariari nataboluson molo so manat hita mamparhaseang tingki napinasahat ni Tuhani (Epesus 5 : 16).

Alani i ma mansai porlu tangiang laho mangido pangaramotion sian Tuhani. Dibagasan tangiang ni angka na mangasahon asi ni roha jala marhaposan tu Debata dipataridahon do paboa na so margogo ibana jala holan mangasahon hatigoran na sian Tuhani do sihirimonna. Di angka halak na sisongoni sai tarpaimaima do i “di haroro ni Tuhan i” di tingki ari manogot manang bornginnai (ay.2). Tangkas taboto molo ari manogot, jotjot do i dipangke angka parjahat (musuh) laho pataluhon sadasada bangso manang huta natarpodom dope. Alai ndada dipasombu Debata angka napinarmahannai mago ditaluhon angka parjahat, ala sai rap do hita dohot Tuhanta i di ari manogot dohot bornginnai. Alanii tung holan Tuhantai do haluaonta di ari hagogotan i, tung saluhut do boi tarpatupa Ibana.

Dihagogoon ni Tuhantai digombarhon do di ayat tolu i, paboa tangan ni Jahowa sambing pe dilaluhon (menghardik) tu angka parjahat pintor mabiar do saluhutna. Lumobima molo ro Tuhani marhite parngongos ni soarana pintor marserak jala martimpalan do saluhutna angka musu i (Psalm 2:5). Tung torop pe angka bangso laho mangagohon bangso ni Debata jala manggomahi angka tabantabanna, tung so loason ni Debata do i. Ai nunga gok uhum dohot hatigoran ni Sion dibahen. Ganup halak na marhaposan jala manghaporseai Jahowa di ngoluna ndang tagamon ibana maporus. Marasing situtu do Ibana sian angka debata ganaganaan (dewa-dewa) angka na disomba bangso sipelebegu. Ia Debata ni Israel ima Debata na sangap jala nabadia nahundul diatas ni angka langit dohot bangso saluhut jala huasoNa diginjang ni saluhut angka huaso nadi tanoon. Ima hajongjongan ni Debata alai rade do Ibana mian di Sion nagabe sada huta na gok hasintongan, hatigoran dohot hadameon.

Digoari do tongtong Sion nagabe huta na gok haluaon marhite hatuaon, hapistaran, parbinotoan dohot biar mida Jahowa ima arta partondion sian Jahowa. Huria na hinaholongan ni Tuhanta, Sai tong do mangaranap matangku tu Jahowa, ima goar ni minggunta di tingki on. Alanii jamita on manogihon hita asa tangkas ngolunta manatap tu Jahowa, unang holan na ditanoon tapingkiri jala tahirim. Molo tung pe rongom ro angka sitaononi marsingkatsorin di parngoluonta naeng ma hita manat laho mangadopisa. Unang gamang (gegabah) laho mangadopisa gabe mambuat sada haputusan na salah holan ala mamingkiri na ringkot di haporluan ni ngolu parsatongkinan, alai ingkon tangkas ma hita mangaranap tu Jahowa nanaeng pasahathon haluaonta di huta nauli huta ni Debatanta i, na so adong be siaeon angka na hansit disi. Molo tung porsuk tataon nuaeng on, tung so pasombuon ni Jahowa do hita laho mangadopi i. Alani i pasahatma dalanmu tu Jahowa jala haposi Ibana, asa Ibana paturehon, Amen.

”MARLAS NI ROHA”

”MARLAS NI ROHA” 

Nas: Poda 15:13-17

Marlas ni roha sada hal na sangat mendasar do i di ngolu ni angka na marugamo. Ala ni i do disosohon Aposte Paulus tu huria na di Pillipi: ”Marlas ni roha ma hamu di bagasan Tuhan i”. Huulahi ma mandok: Marlas ni roha ma hamu”. (4,4). Molo sai boi hita marlas ni roha, na sai tahilala do pandonganion dohot panarihonon ni Debata di bagasan ngolunta. Ia mangolu pe hita ndang ala ni na adong di hita i mambahen hita mangolu, ia godang pe arta/sinamot di hita ndang ala ni kemampuanta mangalului i. Ngolunta on holan ala ni asi ni roha ni Debata do.

 

Tung pe sasahalak i mamora, pogos, marpendidikan manang ndang berkedudukan manang so berkedudukan, sude jolma ciptaan ni Debata do molo mangolu hita di bagasan na gok sitaonon, jala jotjot ngolunta ndang mardalan hombar tu keinginan, jotjot kecewa, saleleng boi dope hita marlas ni roha di bagasan Tuhan na patuduhon na adong dope panghirimon di hita.

 

Jamita on di enet sian poda ni Raja Salomo 15:13-17, na  paingothon paboa las ni roha i do na songon motor penggerak pahilas, pahisar, panaili, alai molo marsak roha margundukpong ma tondi. Di na mandalani ngolu hita pajotjothu do holan mamerang aha na masa tu hita saonari aha na terjadi di na humaliang hita. Ala ni i jotjot ma hita kecewa ala sai mengalami kegagalan, masa nang angka bencana, porang, mambahen hita mabiar, cemas dan bingung. Tangkas do i diantusi Raja Salomo, ala ni i ma didok: Roha na hilas pasihar, pamaili, alai molo marsak roha margundukpong ma tondi (ay 13). Angka sinta-sinta salah satu naluri alamiah ni jolma do i mangonjar jolma i, bertindak, berbuat, alai ringkot unang lupa hita di sude sinta-sinta na ringkot melewati pengujian. Si Adam dohot si Hawa marsinta-sinta asa gabe dos dohot Debata ala ni bage di oloi tawaran ni ulok i.

 

Apostel Paulus paingothon: Alai solukhon hamu ma Tuhan Jesus Kristus jala unang sarihon hamu dagingmuna laho manungguli hisaphisapna (Rom 13:14). Songon i panurat 1 Tesalonik paingothon: tangkasi hamu ma saluhutna, na denggan i ma tiop hamu (5:21). Roha na pantas mangalului parbinotoan, alai anggo bohi ni halak na oto lilian mida haotoon (Ay 14). Didok do Poda 9:10: Biar mida Jahowa do parmulaan ni hapistaran, jala parbinotoan ni angka na badia do hapantason.

 

Dibereng si Salomo do hinaringkot ni pengendalian diri na gabe hapataran ni haporseaon. Na gabe sada keterampilan  do pengendalian diri di ngolu na bermasyarakat, mangadopi hamajuon ni zaman nang na mangalului parbinotoan. Lumobi di na mandalani ngolu on ringkot situtu pengendalian diri asa boi sahat tu tujuan. Di Poda 14:30 didok: Ngolu tu pamatang do roha halambohon, alai manggagat tu holiholi do anggo roha pangiburuon. Songon i do Poda 21:23 didok: Manang ise mangaramoti pamanganna dohot dilana i ma na mangaramoti tondina maradophon hagogotan.

 

Dipaboa si Salomo do hasintongan na sederhana, ia ngolu ni angka na jahat sai susa do, alai ngolu ni halak na sai marlas ni roha marolopolop do (ay 15). Ndang boi torus mangolu jolmai, margogo, alai na boi ro do parsahiton, hagaleon, dohot parungkilon nang angka hamaolon na so umboto mandok mauliate tu Debata, ala sai holan mangasahon hagogoonna, hapistaranna, hamoraonna, i ma simbol ngolu ni jolma na jahat do i. Mamuji Debata mansai ringkot di ngolu on,nang pe ngolunta ndang berkecukupan, godang mangadopi masalah tongtong marlas ni roha jala marsabam ni roha. Perbaikan kesejahteraan ni ngolu ni margantung tu pusat ni diri do i ma roha na sonang.

 

Molo sai marlas ni roha di bagasan Tuhan Jesus hita denggan ma mardalan pardalananta, ulaonta, rohanta dohot pingkiranta. Roha na marlas ni roha gabe cerminan do i di aksi, otik manang godang, metmet manang balga, na jinalona di ngoluna tongtong berdampak positif tu angka dongan, huria nang masyarakat pe (ay 16-17). Amen.

MELIHAT KESELAMATAN

MELIHAT KESELAMATAN

Nats: Lukas 2: 27-35

Oleh: Pdt Midian KH Sirait, MTh

Lukas mencatat Simeon, orang tua yang benar dan saleh, yang menantikan penghiburan bagi Israel (Luk 2:25). Ia adalah representasi dari ‘sisa Israel’ yang dengan rindu menantikan penggenapan janji penyelamatan dari Allah. Kelahiran Yesus yang telah dinubuatkan ratusan tahun sebelumnya, membuat Simeon yang penuh dengan hikmat Allah mewakili para nabi terdahulu bertemu dengan Mesias yang telah dijanjikan.

Sikap Simeon saat dia melihat bayi Yesus yang dibawa oleh Maria dan Yusuf ke Bait Allah mengungkapkan isi hatinya yang digenangi oleh perasaan syukur tak terkira, langsung mengenali bahwa bayi yang dibawa Maria dan Yusuf, adalah bayi yang ditunggu-tunggu kelahiranNya. Penantian dari generasi kegenerasi akan janji yang kudus itu, Simeon yang berhati tulus dan saleh hidupnya, bisa melihat bahwa kelahiran bayi Yesus tidak hanya membawa keselamatan bagi bangsa Yahudi tapi juga menjadi kemuliaan bagi bangsa Israel. Ia justru membawa kebangkitan bagi banyak orang Israel untuk menerima keselamatan. Digerakkan oleh Tuhan sendiri Simeon menanti di Bait Suci, dan meyambut Yesus yang dibawa masuk oleh kedua orang tuanya. Simeon berkata demikian: “Sekarang, Tuhan, biarkanlah hamba-Mu ini pergi dalam damai sejahtera, sesuai dengan firman-Mu, sebab mataku telah melihat keselamatan yang dari pada-Mu, yang telah Engkau sediakan di hadapan segala bangsa, yaitu terang yang menjadi penyataan bagi bangsa-bangsa lain dan menjadi kemuliaan bagi umat-Mu, Israel” (Luk. 2:29-32)

Firman Tuhan yang disampaikan melalui Simeon ini memberi tahukan kepada orang tua Yesus, dan juga kepada kita, bahwa Yesus akan menjadi keselamatan bagi segala bangsa. Sayangnya tidak semua bisa melihat apa yang dilihat Simeon tetapi karena karya Roh Kudus yang tidak pernah berhenti, kita dibawa kedalam pengertian satu ke pemahaman lainnya sehingga kita sampai pada pengenalan akan kasih Tuhan yang menyelamatkan. Dengan demikian khotbah ini ingin menyampaikan beberapa hal kepada kita semua, yaitu: Penjelasan khotbah Sebagai orang yang percaya akan karya Roh Kudus, tidak ada yang kebetulan terjadi dalam hidup kita. Simeon pun tidak tiba-tiba berada di Bait Allah, tapi karena pimpinan Roh Kudus, ia berkenan berjumpa dengan bayi Yesus.

Setiap orang yang percaya akan adanya Roh Kudus, percaya akan penyertaan Allah (Providentia Devina). Semua yang terjadi pasti membawa kita pada kebaikan untuk kembali kepada Tuhan. Hanya mereka yang mau mencari Tuhan dengan tulus dan menjaga hidupnya pasti bisa melihat apa yang dimaksud Simeon. Ia bisa mengenali penyertaan Tuhan senantiasa bahkan dalam setiap momen terkecil sekalipun dalam kesehariannya.

1. Harapan Yang Terwujud Simeon bersukacita karena harapan imannya terpenuhi. Dia diperkenankan Allah untuk melihat bahkan menatang bayi sang Messias. Di Luk. 2:25, harapan dan penantian Simeon sebenarnya sangat ditentukan oleh sikap hidupnya yang benar (“dikaios”) dan saleh (“eulabes”) di hadapan Allah. Pengertian kata “dikaios” dapat berarti: benar dan adil; sedang pengertian kata “ eulabes” berarti: saleh, sangat berhati-hati dan takut akan Tuhan. Sehingga pengertian “benar dan saleh” di sini menunjuk kepada suatu kedalaman hidup rohani yang dipraktekkan oleh Simeon sedemikian rupa sehingga sepanjang hidupnya dia senantiasa berlaku benar, adil, sangat berhati-hati, hidup saleh dan takut akan Tuhan. Arah hidupnya hanya ditujukan kepada penantian akan datangnya Messias yang diutus oleh Allah. Tidaklah mengherankan jikalau kehidupan Simeon senantiasa dipenuhi oleh Roh Kudus. Itu sebabnya pula secara sengaja Allah memperjumpakan Simeon dengan Messias yang dinantikan dan diharapkan di Bait Allah. Mata Simeon dapat melihat secara langsung wujud inkarnasi Firman Allah, dan juga kini dia dapat menatang dengan kedua tangannya sendiri. Bukankah benar bahwa hanya orang yang suci hatinya saja yang diperkenankan untuk melihat Allah (Mat. 5:8)? Kita sering melupakan bahwa harapan dan penantian pada hakikatnya tidak dapat dilepaskan dari hidup kudus dan benar. Padahal harapan dan penantian kita menjadi bermakna dan kokoh manakala diintegrasikan dengan hidup yang kudus. Itulah sebabnya harapan dan penantian yang jauh dari kekudusan tidak akan pernah menuntun kita kepada keselamatan Allah. Saat rohani kita cemar dan dinajiskan oleh dosa, maka mata fisik kita menjadi “buta” untuk melihat hal-hal yang rohaniah sehingga kita tidak dapat melihat kehadiran Allah dalam kehidupan kita. Jika demikian efektivitas mata rohaniah kita yang mampu melihat keselamatan dari Allah sangat ditentukan oleh keterbukaan diri terhadap proses pembaharuan dalam kehidupan kita. Semakin kita terbuka terhadap pekerjaan Roh Kudus dengan senantiasa hidup saleh dan benar seperti Simeon, maka kita dimampukan untuk melihat keselamatan Allah di setiap bidang dan peristiwa yang terjadi dalam kehidupan kita. Semakin hidup kita saleh dan benar, maka kita dimampukan untuk melihat secara jeli dan jernih karya Tuhan yang terjadi dalam kehidupan kita. Jadi dengan pola spiritualitas iman yang semakin jeli dan jernih, maka kita tidak akan jatuh dalam sikap yang mengasihani diri sendiri atau berputus-asa dengan apa yang menimpa kehidupan kita. Karena sikap yang demikian tentunya bertentangan dengan sikap iman dan spiritualitas yang dia hayati selama ini.

 2. Damai-sejahtera Yang Melampaui Maut Bagi Simeon dapat melihat dan menatang bayi Yesus sebagai Messias merupakan berkat keselamatan Allah yang tak terkira. Hatinya digenangi oleh damai-sejahtera yang berlimpah, sehingga dia tidak gentar apabila ajal menjemput. Simeon tidak takut menghadapi ajal yang akan menjemput sewaktu-waktu bukan karena dia telah lanjut usia dan bosan hidup, tetapi karena dia secara langsung telah mengalami keselamatan Allah dalam kehidupannnya. Itu sebabnya Simeon berkata: “Sekarang, Tuhan, biarkanlah hamba-Mu ini pergi dalam damai sejahtera, sesuai dengan firman-Mu, sebab mataku telah melihat keselamatan yang dari pada-Mu” (Luk. 2:29-30). Keselamatan Allah dialami oleh Simeon dalam suatu perasaan damai-sejahtera yang berlimpah. Inilah pengalaman “syaloom”, sebab keselamatan Allah terintegrasikan secara utuh dan eksistensial dengan damai-sejahtera. Bukankah pengalaman “syaloom” yang demikian merupakan kepenuhan hidup di mana makna dan tujuan hidup telah tercapai dalam perjumpaan manusia dengan Allah? Sikap yang sama diungkapkan oleh nabi Yesaya: “Aku bersukaria di dalam TUHAN, jiwaku bersorak-sorai di dalam Allahku, sebab Ia mengenakan pakaian keselamatan kepadaku dan menyelubungi aku dengan jubah kebenaran, seperti pengantin laki-laki yang mengenakan perhiasan kepala dan seperti pengantin perempuan yang memakai perhiasannya” (Yes. 61:10). Syaloom Allah dalam konteks ini seperti pakaian kebesaran yang dipakai oleh orang-orang yang layak mengenakannya, yaitu para “pengantin Allah”. Jelas realitas syaloom Allah bukan sesuatu yang datang dari dalam diri manusia, tetapi sesuatu yang dianugerahkan dari “luar”. Seperti Simeon yang memperoleh karunia untuk dapat melihat dan menatang bayi Messias, maka demikian pula umat Israel memperoleh pakaian keselamatan Allah dalam sejarah hidupnya. Dalam hidup sehari-hari kita justru sering merasa begitu jauh dari syaloom Allah. Bukan hanya kita tidak digenangi oleh damai-sejahtera yang berlimpah, tetapi justru kehidupan rohani kita begitu kering dan jauh dari perasaan damai-sejahtera. Sehingga kenyataan hidup sering dirasakan tanpa makna dan kering. Apabila Simeon dapat melihat dan menatang bayi Yesus, maka yang sering kita lihat dan tatang adalah berbagai persoalan, kegagalan, kesedihan dan penderitaan. Bukan pakaian keselamatan yang megah seperti pakaian indah yang dikenakan oleh sepasang pengantin, tetapi pakaian kabunglah yang sering kita kenakan. Dalam konteks ini kita perlu bertanya apakah kehidupan kita telah ditandai oleh jalan hidup yang benar dan saleh di hadapan Tuhan? Karena betapa banyak orang yang merasa hidupnya penuh dengan kesedihan dan penderitaan yang disebabkan karena jalan hidup mereka menyimpang dan jauh dari kebenaran. Mereka menderita dan mengalami kesusahan karena mereka menuai dari apa yang telah mereka tabur. Mereka tidak memecahkan persoalan yang menimpa hidup mereka, tetapi membiarkan diri mereka menjadi bagian dari persoalan. Tetapi seandainya kehidupan kita benar dan saleh seperti yang dilakukan oleh Simeon, bagaimanakah kita menyikapi dan memaknai penderitaan dan kesusahan yang terjadi? Seandainya hidup kita benar dan saleh seperti Simeon, maka pemaknaan tentang pakaian kabung dan kesedihan yang kita kenakan tergantung oleh sudut pandang dan seberapa jauh mata rohani kita mampu melihat berkat Allah yang tersembunyi di balik semua hal yang menyedihkan dan mendukakan itu?

3. Apakah Keselamatan Allah itu? Sosok kehadiran bayi Yesus tentunya bukan sekedar kehadiran seorang anak di tengah-tengah kehidupan umat manusia, tetapi juga merupakan wujud kehadiran dari karya keselamatan Allah yang mendatangkan damai-sejahtera. Namun pada saat yang bersamaan, kehadiran Kristus juga merupakan kehadiran dari misteri kasih Allah. Kristus yang adalah Tuhan, juga adalah manusia. Dia Allah yang mahatinggi sekaligus berkenan hadir merendahkan diriNya. Dia berkuasa atas seluruh semesta tetapi kini hadir dalam lingkup yang serba terbatas. Sehingga tidak mengherankan jikalau kehadiran dan karya Kristus sepanjang sejarah senantiasa diliputi oleh berbagai perbantahan karena tidaklah mudah bagi manusia untuk memahami rahasia dan jati-diri Kristus yang sesungguhnya. Karena itu iman kepada Kristus membutuhkan karunia atau anugerah dari Allah. Kita tidak mungkin dapat percaya kepada Kristus hanya karena pengertian dan akal-budi kita yang serba terbatas. Simeon yang diliputi oleh perasaan damai-sejahtera dan sukacita keselamatan saat menatang bayi Yesus menyadari permasalahan tersebut. Dia berkata kepada Maria, ibu Yesus: “Sesungguhnya Anak ini ditentukan untuk menjatuhkan atau membangkitkan banyak orang di Israel dan untuk menjadi suatu tanda yang menimbulkan perbantahan dan suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri–,supaya menjadi nyata pikiran hati banyak orang” (Luk. 2:34-35).

Kehadiran Kristus dan kedatanganNya ke dalam dunia bukan sekedar membawa suatu revolusi perubahan pemikiran dalam perjalanan sejarah, tetapi juga kedatangan Kristus membawa arah perjalanan sejarah bergerak ke arah dirinya. Kehidupan umat manusia bergerak ke arah diriNya. Ini berarti kehadiran, pemikiran, dan karya Kristus menjadi parameter atau tolok ukur yang terus-menerus menyeleksi dan memberi pencerahan kepada umat manusia sepanjang abad. Bahkan keselamatan dan hidup kekal tidak dapat dilepaskan dari iman kepadaNya. Itu sebabnya di hadapan Kristus setiap orang dipanggil untuk berani melepaskan segala kebanggaan dan kebenarannya.

Selama kita masih memiliki kebanggaan-kebanggaan duniawi dan kebenaran-kebenaran yang bertentangan dengan kehendak Allah, maka Kristus yang adalah batu penjuru Allah dapat berubah menjadi batu sentuhan bagi kita. Sebab kita tersandung jatuh karena kita berbenturan dengan Kristus. Tetapi sebaliknya bagi setiap orang yang rendah-hati, terbuka terhadap anugerah dan keselamatan Allah; maka kehadiran Kristus justru akan membangkitkan dia untuk menjadi alat Tuhan yang efektif.

Apabila kehidupan kita berproses ke arah keselamatan Kristus? Saat kita berjalan bersama dengan Kristus, maka segala pertanyaan dan perbantahan tentang Dia berubah menjadi sumber inspirasi, kekuatan dan pencerahan hidup yang menyegarkan. Dengan demikian saat kita berjalan bersama dengan Kristus, kita tidak hanya melihat keselamatan Allah, tetapi kita seperti Simeon diperkenankan untuk menatang keselamatan yang dianugerahkan Allah kepada kita. Akhirnya, dalam menmpersiapkan mengakhiri akhir tahun 2009 ini sambil menunggu memasuki tahun 2010 sikap dan hidup kita bisa belajar melalui sosok Simeon kita menemukan gambaran umat Allah yang hidup benar dan saleh serta senantiasa menantikan kedatangan Messias.

Selaku umat percaya dalam mengakhiri tahun 2009 ini, kita dipanggil untuk senantiasa hidup kudus, benar dan saleh dengan terus tertuju kepada Kristus yang akan datang di tahun 2010 dan sampai pada akhir zaman. Dengan spiritualitas yang demikian kita akan dimampukan oleh anugerah Allah untuk melihat keselamatan Allah dalam kehidupan sehari-hari. Amin.

Peran Gereja Ditengah Permasalahan Bangsa:Berfikir dan Bertindak Mencari Solusi

Berfikir dan Bertindak Mencari Solusi

Oleh: Pdt Midian KH Sirait,MTh

Sungguh tepat jika gereja dapat memberi kontribusi atas semua persoalan masyarakat dan bangsa, haruslah dengan hati, tulus dan sungguh-sungguh. Pada zaman yang sudah sangat demokratis ini, khususnya di Indonesia, peran jemaat dan gereja serta masyarakat mencari solusi atas permasalahan yang ada yang amat dibutuhkan.

Dengan harapan, sumbangsih pemikiran yang kita beri dapat membantu satu sama lain untuk kemajuan gereja secara khusus dan bangsa secara umum. Berbuat nyata untuk bangsa merupakan agenda mendesak bangsa. Seluruh elemen gereja bersama bangsa memiliki tugas dan tanggung jawab sesuai kedudukan dan kapasitasnya.

Hanya di dalam Allah solusi itu tersedia

 

Zamannya Nabi Yesaya (Yes.40) juga disuarakan ketika umat sedang menghadapi penekanan dan kuasa raja yang menindas umat Allah. Nabi mengajak bahwa Tuhan yang menjadi Pencipta dan Pemelihara umat senantiasa mencari solusi kehidupan umat agar dapat keluar dari masalah-masalah yang menekan kehidupan setiap umat. Dalam terang hikmat-Nya mereka dimampukan untuk terus berproses memaknakan segala peristiwa yang sudah lewat untuk menarik pelajaran berharga. Melalui ajakan Nabi, bangsa dan umatNya diberikan pengharapan dan semangat yang baru bersama dengan Allah yang setia yang tidak pernah meninggalkan perbuatan tangan-Nya.

Allah menetapkan rencana-Nya dalam kehidupan setiap orang. Allah menetapkan siklus hidup, kesempatan bagi orang untuk menjalankannya. Ada masalah-masalah yang akan dihadapi oleh setiap orang. Tetapi tanpa Allah, masalah-masalah dalam hidup tidak akan memiliki solusi yang kekal. Hanya di dalam Allah solusi itu tersedia. Kemampuan orang untuk menemukan kepuasan dalam bekerja tergantung dari sikap dasar mereka. Umat akan menikmati pekerjaannya kalau ia ingat bahwa Allah sudah memberikan kemampuan kepadanya dalam bekerja dan menyadari bahwa hasil pekerjaannya adalah pemberian dari Allah (Pkh 3:13). Dalam hikmat itu gereja dan umat percaya diajak untuk melihat pekerjaannya sebagai jalan untuk melayani Allah.

Tentu dengan syarat, agar umat lebih percaya kepada Allah daripada kepada kuasa-kuasa dunia. Kuasa dunia tidak pernah member solusi selain menindas, ingin lebih baik dari orang lain, ingin agar pribadinya lebih menonjol ketimbang kuasa Tuhan yang dimilikinya. Inilah suara Nabi Yesaya kepada masyarakat kala itu yang sedang tertekan dan tertindas akibat ulah pemerintahaan yang tidak berfihak kepada rakyat. Ya politik pemerintahan sulit ditebak, siapa yang lebih berkuasa ingin berkuasa, tanpa memikirkan solusi terbaik agar rakyat itu sejahterah hidupnya ada kearifan yang bisa kita tempuh.

Tak ayal lagi jika Nabi-nabi yang diutus Allah pada zamannya, senantiasa bersuara lantang memberitakan solusi terbaik kepada setiap umat yang masa depannya tidak bisa dijamin dengan baik. Solusi terbaik, menurut Nabi-nabi utusan Allah agar lebih mengimani cara dan tindan tindakan Allah dalam memberi solusi terbaik. Yesaya hidup pada zaman ketika Yehuda, kerajaan selatan, diancam oleh Asyur, mendorong rakyat serta para pemimpin mereka untuk hidup menurut kehendak Tuhan dan berlaku adil.

Nabi mengingatkan bahwa umat Tuhan akan celaka dan binasa kalau tidak mau mendengarkan Tuhan. Percaya kepada Allah dan bersandar kepada-Nya jauh lebih baik ketimbang bersandar kepada cara-cara dunia. Di dalam Allah ada jaminan hidup kekal, dimana keselamatan manusia sudah terjamin. Dalam percaya pada Allah ada solusi terbaik yang tidak dimiliki dunia atau manusia.

Pemberdayaan SDM Warga Jemaat

Ajakan Nabi agar memulai aktivitas hidup dengan selalu bersandar kepada TUHAN akan mengantarkan kita kepada keberhasilan. Untuk mencapai keberhasilan tsb gereja dapat memakai sumber daya manusia yang dimiliki setiap umat dengan bekal pengetahuan yang memadai. Peningkatan ketrampilan dan intelektual merupakan kebutuhan yang tidak bisa ditawar lagi. Umat dapat memberikan kontribusi memberikan solusi terbaik dari setiap masalah kita bersama. Para pimpinan gereja duduk bersama untuk merumuskannya dan selanjutkan untuk dijalankan bersama bahwa apa yang telah dimulai dengan baik, akan berakhir juga dengan baik.

Itulah yang diharapkan bahwa Allah selalu serius dengan ketidakseriusan manusia. Bagi orang percaya ialah tetap menjadikan Allah pegangan yang kokoh dalam mencari solusi bagi masalah-masalah kehidupan. Allah mempercayakan kepada manusia tanggungjawab untuk mengelola dan memelihara segala sumber daya yang diberikan-Nya. Allah senantiasa berkarya menciptakan kebaruan yang baik sampai pada kegenapan-Nya. Nilai-nilai Kerajaan-Nya berupa kasih, kebenaran dan keadilan harus merambah semua aspek hidup manusia. Tindakan-tindakan iman yang mencerminkan kasih, kebenaran dan keadilan menjadi keharusan dalam proses pembaruan dunia yang Allah kerjakan bersama umat-Nya, sampai kegenapan-Nya

Oleh sebab itu dalam mencari solusi terbaik, bahwa setiap peristiwa dalam hidup ada waktunya. Syukur kepada Tuhan karena Dia tidak menghendaki umat-Nya kebingungan tanpa akhir! Dia telah memberikan Firman-Nya yang seharusnya menolong kita. “Demikian kamu bukan lagi orang asing dan pendatang, melainkan kawan sewarga dari orang-orang kudus dan anggota-anggota keluarga Allah, yang dibangun di atas dasar para rasul dan para nabi, dengan Kristus Yesus sebagai batu penjuru.” (Efesus 2:19,20).

Peran Gereja dalam memberi solusi

Peran gereja dalam penyelesaian setiap permasalahan bangsa harus menyuarakan kenabiannya dengan kebijakan dan pendekatan yang bersifat persuasif, proaktif.  Komitment gereja untuk menyelesaikan masalah dengan menjalin komunikasi yang konstruktif, yaitu dengan menggunakan akal dan nalar sehatnya untuk berfikir dan bertindak rasional, produktif dan obyektif penuh dengan kearifan memberikan solusi terbaikalam menggelayuti kehidupan masyarakat.

Peran gereja terus berkontribusi dalam membangun dan menyelamatkan bangsa ini dengan tuntunan nilai-nilai agama dan ikut  aktif bersama umat agama lain. Gereja bersama umat pembawa perdamaian dan persaudaraan di tengah masyarakat. Gereja juga mewartakan nilai-nilai kehidupan. Gereja ada bukan untuk dirinya tapi untuk dunia. Itu sebabnya satu-satunya dasar gereja, apa pun dan di mana pun, dan kapan pun – termasuk juga yang di Indonesia, masih tetap sama juga, yakni Yesus Kristus! Yesus Kristus sungguh-sungguh menjadi dasar satu-satunya dari gereja. Dia tidak dapat ditawar-tawar. Justru Dialah yang telah menyatukan dan mengikat kelompok-kelompok yang berbeda menjadi ciptaan baru (cf. II Korintus 5:16,17).

Dengan demikian, gereja dalam menjawab tantangan zaman adalah gereja yang terus bergerak secara dinamis di bawah tuntunan Roh Kudus. Karena itu, dibutuhkan keterbukaan untuk menerima hal-hal baru yang sesuai dengan prinsip-prinsip firman Tuhan.

Akhirnya, hidup kita adalah suatu perjalanan. Kita berjalan bersama dengan yang lain sesama kita. Semoga dalam perjalanan hidup ini kita memiliki hati yang mudah tergerak oleh belaskasihan kepada sesama kita. Tuhan, sang pencipta saat menciptakan manusia, telah meletakkan cahaya-Nya dalam diri setiap diri” kita, tanpa melihat agama, suku dan ras.

Cahaya-Nya Tuhan dalam diri kita tsb bisa berbentuk: kreativitas, dorongan untuk selalu mencari alternative (jalan baru) memecahkan persoalan kehidupan atau harapan dan impian-impian indah tentang masa depan yang ditanamkan Tuhan dalam diri setiap insan manusia dan semangat yang berapi-api untuk memperjuangkan impian mencari solusi terbaik dalam permasalahan bangsa kita.

Gereja  bersama umat dan komponen bangsa semestinya mampu memberikan pemahaman yang komprehensif tentang kehidupan yang tertib, damai, dan toleran, sehingga tercipta masyarakat yang adil dan sejahtera. Semua umat menjadi penggerak kehidupan bangsa menuju bangsa yang damai, tenteram, adil, dan sejahtera.

Mari kita sadari bahwa kedamaian selalu bermula dari diri kita masing-masing sesuai dengan kapasitas dan peran yang kita miliki. Sehingga mulai sekarang dan seterusnya, kita bisa berkontribusi dalam mencari solusi setiap permasalahan bangsa yaitu dengan penuh kearifan dan kebijaksanaan menuju Indonesia yang sejahtera. Amin. (Penulis: Pendeta HKBP Resort Kalimantan Timur)