MELIHAT KESELAMATAN

MELIHAT KESELAMATAN

Nats: Lukas 2: 27-35

Oleh: Pdt Midian KH Sirait, MTh

Lukas mencatat Simeon, orang tua yang benar dan saleh, yang menantikan penghiburan bagi Israel (Luk 2:25). Ia adalah representasi dari ‘sisa Israel’ yang dengan rindu menantikan penggenapan janji penyelamatan dari Allah. Kelahiran Yesus yang telah dinubuatkan ratusan tahun sebelumnya, membuat Simeon yang penuh dengan hikmat Allah mewakili para nabi terdahulu bertemu dengan Mesias yang telah dijanjikan.

Sikap Simeon saat dia melihat bayi Yesus yang dibawa oleh Maria dan Yusuf ke Bait Allah mengungkapkan isi hatinya yang digenangi oleh perasaan syukur tak terkira, langsung mengenali bahwa bayi yang dibawa Maria dan Yusuf, adalah bayi yang ditunggu-tunggu kelahiranNya. Penantian dari generasi kegenerasi akan janji yang kudus itu, Simeon yang berhati tulus dan saleh hidupnya, bisa melihat bahwa kelahiran bayi Yesus tidak hanya membawa keselamatan bagi bangsa Yahudi tapi juga menjadi kemuliaan bagi bangsa Israel. Ia justru membawa kebangkitan bagi banyak orang Israel untuk menerima keselamatan. Digerakkan oleh Tuhan sendiri Simeon menanti di Bait Suci, dan meyambut Yesus yang dibawa masuk oleh kedua orang tuanya. Simeon berkata demikian: “Sekarang, Tuhan, biarkanlah hamba-Mu ini pergi dalam damai sejahtera, sesuai dengan firman-Mu, sebab mataku telah melihat keselamatan yang dari pada-Mu, yang telah Engkau sediakan di hadapan segala bangsa, yaitu terang yang menjadi penyataan bagi bangsa-bangsa lain dan menjadi kemuliaan bagi umat-Mu, Israel” (Luk. 2:29-32)

Firman Tuhan yang disampaikan melalui Simeon ini memberi tahukan kepada orang tua Yesus, dan juga kepada kita, bahwa Yesus akan menjadi keselamatan bagi segala bangsa. Sayangnya tidak semua bisa melihat apa yang dilihat Simeon tetapi karena karya Roh Kudus yang tidak pernah berhenti, kita dibawa kedalam pengertian satu ke pemahaman lainnya sehingga kita sampai pada pengenalan akan kasih Tuhan yang menyelamatkan. Dengan demikian khotbah ini ingin menyampaikan beberapa hal kepada kita semua, yaitu: Penjelasan khotbah Sebagai orang yang percaya akan karya Roh Kudus, tidak ada yang kebetulan terjadi dalam hidup kita. Simeon pun tidak tiba-tiba berada di Bait Allah, tapi karena pimpinan Roh Kudus, ia berkenan berjumpa dengan bayi Yesus.

Setiap orang yang percaya akan adanya Roh Kudus, percaya akan penyertaan Allah (Providentia Devina). Semua yang terjadi pasti membawa kita pada kebaikan untuk kembali kepada Tuhan. Hanya mereka yang mau mencari Tuhan dengan tulus dan menjaga hidupnya pasti bisa melihat apa yang dimaksud Simeon. Ia bisa mengenali penyertaan Tuhan senantiasa bahkan dalam setiap momen terkecil sekalipun dalam kesehariannya.

1. Harapan Yang Terwujud Simeon bersukacita karena harapan imannya terpenuhi. Dia diperkenankan Allah untuk melihat bahkan menatang bayi sang Messias. Di Luk. 2:25, harapan dan penantian Simeon sebenarnya sangat ditentukan oleh sikap hidupnya yang benar (“dikaios”) dan saleh (“eulabes”) di hadapan Allah. Pengertian kata “dikaios” dapat berarti: benar dan adil; sedang pengertian kata “ eulabes” berarti: saleh, sangat berhati-hati dan takut akan Tuhan. Sehingga pengertian “benar dan saleh” di sini menunjuk kepada suatu kedalaman hidup rohani yang dipraktekkan oleh Simeon sedemikian rupa sehingga sepanjang hidupnya dia senantiasa berlaku benar, adil, sangat berhati-hati, hidup saleh dan takut akan Tuhan. Arah hidupnya hanya ditujukan kepada penantian akan datangnya Messias yang diutus oleh Allah. Tidaklah mengherankan jikalau kehidupan Simeon senantiasa dipenuhi oleh Roh Kudus. Itu sebabnya pula secara sengaja Allah memperjumpakan Simeon dengan Messias yang dinantikan dan diharapkan di Bait Allah. Mata Simeon dapat melihat secara langsung wujud inkarnasi Firman Allah, dan juga kini dia dapat menatang dengan kedua tangannya sendiri. Bukankah benar bahwa hanya orang yang suci hatinya saja yang diperkenankan untuk melihat Allah (Mat. 5:8)? Kita sering melupakan bahwa harapan dan penantian pada hakikatnya tidak dapat dilepaskan dari hidup kudus dan benar. Padahal harapan dan penantian kita menjadi bermakna dan kokoh manakala diintegrasikan dengan hidup yang kudus. Itulah sebabnya harapan dan penantian yang jauh dari kekudusan tidak akan pernah menuntun kita kepada keselamatan Allah. Saat rohani kita cemar dan dinajiskan oleh dosa, maka mata fisik kita menjadi “buta” untuk melihat hal-hal yang rohaniah sehingga kita tidak dapat melihat kehadiran Allah dalam kehidupan kita. Jika demikian efektivitas mata rohaniah kita yang mampu melihat keselamatan dari Allah sangat ditentukan oleh keterbukaan diri terhadap proses pembaharuan dalam kehidupan kita. Semakin kita terbuka terhadap pekerjaan Roh Kudus dengan senantiasa hidup saleh dan benar seperti Simeon, maka kita dimampukan untuk melihat keselamatan Allah di setiap bidang dan peristiwa yang terjadi dalam kehidupan kita. Semakin hidup kita saleh dan benar, maka kita dimampukan untuk melihat secara jeli dan jernih karya Tuhan yang terjadi dalam kehidupan kita. Jadi dengan pola spiritualitas iman yang semakin jeli dan jernih, maka kita tidak akan jatuh dalam sikap yang mengasihani diri sendiri atau berputus-asa dengan apa yang menimpa kehidupan kita. Karena sikap yang demikian tentunya bertentangan dengan sikap iman dan spiritualitas yang dia hayati selama ini.

 2. Damai-sejahtera Yang Melampaui Maut Bagi Simeon dapat melihat dan menatang bayi Yesus sebagai Messias merupakan berkat keselamatan Allah yang tak terkira. Hatinya digenangi oleh damai-sejahtera yang berlimpah, sehingga dia tidak gentar apabila ajal menjemput. Simeon tidak takut menghadapi ajal yang akan menjemput sewaktu-waktu bukan karena dia telah lanjut usia dan bosan hidup, tetapi karena dia secara langsung telah mengalami keselamatan Allah dalam kehidupannnya. Itu sebabnya Simeon berkata: “Sekarang, Tuhan, biarkanlah hamba-Mu ini pergi dalam damai sejahtera, sesuai dengan firman-Mu, sebab mataku telah melihat keselamatan yang dari pada-Mu” (Luk. 2:29-30). Keselamatan Allah dialami oleh Simeon dalam suatu perasaan damai-sejahtera yang berlimpah. Inilah pengalaman “syaloom”, sebab keselamatan Allah terintegrasikan secara utuh dan eksistensial dengan damai-sejahtera. Bukankah pengalaman “syaloom” yang demikian merupakan kepenuhan hidup di mana makna dan tujuan hidup telah tercapai dalam perjumpaan manusia dengan Allah? Sikap yang sama diungkapkan oleh nabi Yesaya: “Aku bersukaria di dalam TUHAN, jiwaku bersorak-sorai di dalam Allahku, sebab Ia mengenakan pakaian keselamatan kepadaku dan menyelubungi aku dengan jubah kebenaran, seperti pengantin laki-laki yang mengenakan perhiasan kepala dan seperti pengantin perempuan yang memakai perhiasannya” (Yes. 61:10). Syaloom Allah dalam konteks ini seperti pakaian kebesaran yang dipakai oleh orang-orang yang layak mengenakannya, yaitu para “pengantin Allah”. Jelas realitas syaloom Allah bukan sesuatu yang datang dari dalam diri manusia, tetapi sesuatu yang dianugerahkan dari “luar”. Seperti Simeon yang memperoleh karunia untuk dapat melihat dan menatang bayi Messias, maka demikian pula umat Israel memperoleh pakaian keselamatan Allah dalam sejarah hidupnya. Dalam hidup sehari-hari kita justru sering merasa begitu jauh dari syaloom Allah. Bukan hanya kita tidak digenangi oleh damai-sejahtera yang berlimpah, tetapi justru kehidupan rohani kita begitu kering dan jauh dari perasaan damai-sejahtera. Sehingga kenyataan hidup sering dirasakan tanpa makna dan kering. Apabila Simeon dapat melihat dan menatang bayi Yesus, maka yang sering kita lihat dan tatang adalah berbagai persoalan, kegagalan, kesedihan dan penderitaan. Bukan pakaian keselamatan yang megah seperti pakaian indah yang dikenakan oleh sepasang pengantin, tetapi pakaian kabunglah yang sering kita kenakan. Dalam konteks ini kita perlu bertanya apakah kehidupan kita telah ditandai oleh jalan hidup yang benar dan saleh di hadapan Tuhan? Karena betapa banyak orang yang merasa hidupnya penuh dengan kesedihan dan penderitaan yang disebabkan karena jalan hidup mereka menyimpang dan jauh dari kebenaran. Mereka menderita dan mengalami kesusahan karena mereka menuai dari apa yang telah mereka tabur. Mereka tidak memecahkan persoalan yang menimpa hidup mereka, tetapi membiarkan diri mereka menjadi bagian dari persoalan. Tetapi seandainya kehidupan kita benar dan saleh seperti yang dilakukan oleh Simeon, bagaimanakah kita menyikapi dan memaknai penderitaan dan kesusahan yang terjadi? Seandainya hidup kita benar dan saleh seperti Simeon, maka pemaknaan tentang pakaian kabung dan kesedihan yang kita kenakan tergantung oleh sudut pandang dan seberapa jauh mata rohani kita mampu melihat berkat Allah yang tersembunyi di balik semua hal yang menyedihkan dan mendukakan itu?

3. Apakah Keselamatan Allah itu? Sosok kehadiran bayi Yesus tentunya bukan sekedar kehadiran seorang anak di tengah-tengah kehidupan umat manusia, tetapi juga merupakan wujud kehadiran dari karya keselamatan Allah yang mendatangkan damai-sejahtera. Namun pada saat yang bersamaan, kehadiran Kristus juga merupakan kehadiran dari misteri kasih Allah. Kristus yang adalah Tuhan, juga adalah manusia. Dia Allah yang mahatinggi sekaligus berkenan hadir merendahkan diriNya. Dia berkuasa atas seluruh semesta tetapi kini hadir dalam lingkup yang serba terbatas. Sehingga tidak mengherankan jikalau kehadiran dan karya Kristus sepanjang sejarah senantiasa diliputi oleh berbagai perbantahan karena tidaklah mudah bagi manusia untuk memahami rahasia dan jati-diri Kristus yang sesungguhnya. Karena itu iman kepada Kristus membutuhkan karunia atau anugerah dari Allah. Kita tidak mungkin dapat percaya kepada Kristus hanya karena pengertian dan akal-budi kita yang serba terbatas. Simeon yang diliputi oleh perasaan damai-sejahtera dan sukacita keselamatan saat menatang bayi Yesus menyadari permasalahan tersebut. Dia berkata kepada Maria, ibu Yesus: “Sesungguhnya Anak ini ditentukan untuk menjatuhkan atau membangkitkan banyak orang di Israel dan untuk menjadi suatu tanda yang menimbulkan perbantahan dan suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri–,supaya menjadi nyata pikiran hati banyak orang” (Luk. 2:34-35).

Kehadiran Kristus dan kedatanganNya ke dalam dunia bukan sekedar membawa suatu revolusi perubahan pemikiran dalam perjalanan sejarah, tetapi juga kedatangan Kristus membawa arah perjalanan sejarah bergerak ke arah dirinya. Kehidupan umat manusia bergerak ke arah diriNya. Ini berarti kehadiran, pemikiran, dan karya Kristus menjadi parameter atau tolok ukur yang terus-menerus menyeleksi dan memberi pencerahan kepada umat manusia sepanjang abad. Bahkan keselamatan dan hidup kekal tidak dapat dilepaskan dari iman kepadaNya. Itu sebabnya di hadapan Kristus setiap orang dipanggil untuk berani melepaskan segala kebanggaan dan kebenarannya.

Selama kita masih memiliki kebanggaan-kebanggaan duniawi dan kebenaran-kebenaran yang bertentangan dengan kehendak Allah, maka Kristus yang adalah batu penjuru Allah dapat berubah menjadi batu sentuhan bagi kita. Sebab kita tersandung jatuh karena kita berbenturan dengan Kristus. Tetapi sebaliknya bagi setiap orang yang rendah-hati, terbuka terhadap anugerah dan keselamatan Allah; maka kehadiran Kristus justru akan membangkitkan dia untuk menjadi alat Tuhan yang efektif.

Apabila kehidupan kita berproses ke arah keselamatan Kristus? Saat kita berjalan bersama dengan Kristus, maka segala pertanyaan dan perbantahan tentang Dia berubah menjadi sumber inspirasi, kekuatan dan pencerahan hidup yang menyegarkan. Dengan demikian saat kita berjalan bersama dengan Kristus, kita tidak hanya melihat keselamatan Allah, tetapi kita seperti Simeon diperkenankan untuk menatang keselamatan yang dianugerahkan Allah kepada kita. Akhirnya, dalam menmpersiapkan mengakhiri akhir tahun 2009 ini sambil menunggu memasuki tahun 2010 sikap dan hidup kita bisa belajar melalui sosok Simeon kita menemukan gambaran umat Allah yang hidup benar dan saleh serta senantiasa menantikan kedatangan Messias.

Selaku umat percaya dalam mengakhiri tahun 2009 ini, kita dipanggil untuk senantiasa hidup kudus, benar dan saleh dengan terus tertuju kepada Kristus yang akan datang di tahun 2010 dan sampai pada akhir zaman. Dengan spiritualitas yang demikian kita akan dimampukan oleh anugerah Allah untuk melihat keselamatan Allah dalam kehidupan sehari-hari. Amin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s