HENTIKAN KEKERASAN DENGAN KEBAIKAN DAN PENGAMPUNAN

HENTIKAN KEKERASAN DENGAN KEBAIKAN DAN PENGAMPUNAN

Oleh: Pdt Midian KH Sirait,MTh

Aksi kekerasan di tanah air seolah tiada hentinya. Masyarakat mengalami atau berada dimana ikatan sosial, solidaritas sosial dan segala bentuk kerja sama sosial yang terpelihara selama ini mengalami keretakan. Bangsa kita menghadapi berbagai permasalahan serius, yang terutama adalah kekerasan yang terus menghiasi pemberitaan media elektronik dan media televisi.

Sebagai orang-orang yang sudah menjadi anak-anak Tuhan, maka setiap orang Kristen dituntut untuk memperlihatkan karakter pembawa damai di tengah masyarakat yaitu mengalahkan kekerasan dengan kebaikan dan pengampunan.

Secara filosofis, fenomena kekerasan merupakan sebuah gejala kemunduran hubungan antarpribadi, di mana orang tidak lagi bisa duduk bersama untuk memecahkan masalah. Hubungan yang ada hanya diwarnai dengan ketertutupan, kecurigaan, dan ketidakpercayaan. Dalam hubungan seperti ini, tidak ada dialog, apalagi kasih. Semangat mematikan lebih besar daripada semangat menghidupkan, semangat mencelakakan lebih besar daripada semangat melindungi. Inti kekerasan adalah pembenaran mutlak diri sendiri atau peninggian mutlak diri sendiri disertai perendahan mutlak orang lain.

Peran gereja dan umat amat dibutuhkan perhatian dan kontribusi dalam menanganinya. jangan bersikap menunggu dalam berbuat. Ketegasan gereja dan umat menjadi kunci utamanya, yaitu menciptakan dan membangun Indonesia yang ditandai solidaritas dan perdamaian, terciptanya penghormatan, dialog, dan persaudaraan. Yaitu dengan cara membangun komitmen bersama diantara umat dan masyarakat lainnya sehingga terlihat kerjasama yang baik di dalam menggembalakan kawanan domba Allah di dunia ini.

Kekerasan dihadapi dengan kebaikan Gereja sebagai bagian dari masyarakat, tidak bisa mengacuhkan tanggung jawab sebagai pembawa damai. Ketika gereja secara proaktif mengupayakan dan mempromosikan perdamaian di tengah masyarakat, maka pada akhirnya dunia akan melihat gereja sebagai komunitas yang merepresentasikan karakteristik Allah yang senantiasa menghendaki perdamaian.

Ajaran agama tidak mungkin membenarkan kekerasan sebagai alat atau cara untuk mengakhiri sebuah kekerasan. “Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu” (Mat 5:44). Tidak membalas, merupakan sikap sejati yang diajarkan Tuhan Yesus. Kepada orang-orang yang menfitnah dan menganiayanya Ia berdoa supaya Tuhan mengampuni mereka sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat (Luk 23:34). Sebagai warga dan umat Kristen yang tinggal di Indonesia tentu berharap terciptanya kedamaian, ketentraman, persaudaraan, tidak ada lagi kerusuhan, semua persoalan tidak diselesaikan dengan kekerasan.

Hentikan kekerasan dengan kebaikan, lebih jeli untuk mengatasinya. Itulah idealnya. Perlu digunakan kearifan. perlu diupayakan dialog. Karena itu peristiwa-peristiwa kekerasan harus dijadikan pembelajaran agar bisa diambil jalan keluar yang memuaskan masing-masing pihak. Kekerasan dihadapi dengan pengampunan

Alkitab menggolongkan orang hidupnya penuh dengan kekerasan adalah orang yang tidak percaya memiliki keinginan merusak rencana Tuhan. Untuk menyelesaikan rencananya, yang diinginkannya menghancurkan benih kebenaran. Alkitab mengatakan, “Orang yang menggunakan kekerasan menyesatkan sesamanya, dan membawa dia di jalan yang tidak baik” (Ams 16:29). Janganlah meniru orang lalim dan janganlah memilih satupun dari jalannya (Ams 3 : 31). Orang lalim akan menderita karena kekerasan.

Kutipan Kitab Amsal ini ingin memberikan kepada kita saran mengatasi kekerasan kesabaran dan kelembutan untuk mengatasi masalah kekerasan. Dari kutipan nats di atas, maka Alkitab mengajarkan kita bahwa satu solusi terhadap kekerasan adalah pengampunan. Yesus mengajarkan murid-muridnya untuk berdoa. Ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami (Mat 6:12). Mengampuni memutus mata rantai tudingan dan sakit hati, memutus lingkaran setan kebencian.

Di Perjanjian Baru, kata dalam bahasa Yunani yang umum dipakai untuk pengampunan bermakna secara harfiah “melepaskan”, “membebaskan diri” dari sesuatu. Pengampunan karena kasih yang memampukan untuk tetap bertahan dan bertumbuh dalam kesabaran dan kelemah-lembutan adalah buah dari Roh Allah yang sangat dibutuhkan dalam mengatasi kekerasan. Mengampuni membawa kita untuk maju, tetapi mendendam mengikat kita pada masa lalu, kepahitan yang sudah terjadi, sakit hati yang sudah dialami, dan seterusnya.

Pengampunan, menawarkan sebuah jalan keluar. Ketika Yusuf mengampuni saudara-saudaranya di, dia berteriak dan menangis dengan suara nyaring (Kej 45). Pengampunan yang diberikannya adalah kemerdekaan bagi dirinya. Kekuatan dahsyat dari pengampunan adalah transformasi. Teladan pengampunan kita adalah Tuhan yang telah mengampuni kita, karena itu pengampunan kita juga tidak diberikan batas. Hanya pengalaman kasih Allah yang dapat mengubah hati manusia yang seperti batu, membebaskan manusia dari perhambaan dan membuatnya mampu untuk melepaskan diri dari struktur-struktur yang beku K

ekerasan dihadapi dengan akal sehat.  Bersama Allah, kita akan gagah perkasa. Dialah yang mengalahkan musuh kita. (Maz 60:12-13). “Ya Allah, tolonglah kami menghadapi musuh-musuh kami, karena bantuan manusia tidak berguna. Dengan pertolongan Allah kita akan melakukan perkara-perkara yang ajaib, karena Ia akan menginjak-injak musuh kita.” Bersama Allah kita akan mengajak masyarakat untuk tidak pesimistis dalam menyelesaikan permasalahan kekerasan karena tidak sedikit kasus yang menunjukkan jalan keluar atas ketidakadilan ketika Allah terdepan. Segala sesuatu mestinya bisa dibicarakan dan diatasi secara damai dan dengan akal sehat. Inilah solusinya dalam menjawab kerentanan sosial yang semakin meningkat karena masyarakat semakin frustrasi.

Kekerasan tidak mungkin dapat dipakai sebagai alat atau cara mengakhiri kekerasan. Yesus mengajarkan cinta damai sebagai salah satu nilai tertinggi dalam relasi antar-manusia. “Berbahagialah mereka yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah” (Matius 5:9). Kedamaian atau shalom selalu menjadi visi keagamaan. Karena itu, ajaran agama tidak mungkin membenarkan kekerasan sebagai alat atau cara untuk mengakhiri sebuah kekerasan. Akhirnya, kekerasan tidak mendapat tempat dalam dalam Alkitab. Sehingga peran gereja seharusnya terus dikedepankan dan ditonjolkan dalam membangun relasi antar-manusia dan antar-bangsa, sihingga dunia kita ini benar-benar menjadi dunia cinta damai.

Yesus mengajarkan kasih universal antara manusia, dan ketaatan pada kehendak Allah. Pembawa damai adalah orang-orang yang didorong oleh semangat dan komitmen untuk membawa perbaikan di tengah masyarakat yang sedang dilanda kekerasan. Hanya hati yang sudah diubah mampu membangun komunitas manusiawi yang baru, mampu melakukan yang baik.

Jadilah menjadi pembawa damai di setiap waktu dan tempat, mulai dari kesediaan mengembangkan bahasa kelembutan, membiasakan persahabatan hingga membudayakan perdamaian. “Jawaban yang lemah lembut meredakan kegeraman, tetapi perkataan yang pedas membangkitkan marah” (Amsal 15:1). Amin. (Penulis: Pendeta HKBP Resort Kalimantan Timur)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s