Renungan Paskah: Mewujudkan keberpihakan kepada manusia dengan berbagai pergumulan

Perayaan Paskah hendaknya mampu mendorong untuk lebih mewujudkan keberpihakan kepada manusia dengan berbagai pergumulan yang di hadapi di tengah kehidupan. Komitmen untuk mengangkat harkat dan martabat manusia, untuk memberi perspektif masa depan yang baru bagi manusia harus menjadi agenda dan fokus utama dari pelayanan gereja- gereja.

Perayaan Paskah hendaknya dimaknai secara baru dengan kesediaan dan keterbukaan untuk ditransformasi oleh kuasa kebangkitan Kristus, sehingga melaluiNya pemantapan persekutuan lintas denominasi makin terwujud, dan ikatan persaudaraan diantara sesama warga bangsa dapat terus-menerus ditumbuhkembangkan.

Pesan Paskah ini kami akhiri dengan menggarisbawahi Firman Allah : “Tetapi syukur kepada Allah, yang telah memberikan kepada kita kemenangan oleh Yesus Kristus, Tuhan kita. Karena itu, saudara-saudaraku yang kekasih, berdirilah teguh, jangan goyah, dan giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan! Sebab kamu tahu, bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia. (I Korintus 15 : 57, 58). (Pdt Midian KH Sirait,MTh)

Iklan

Renungan Jumat Agung:”Aku Tidak Mendapati Kesalahan Apa pun pada-Nya”

Oleh: Pdt. Midian KH Sirait, MTh
(Praeses HKBP Distrik X  Medan Aceh)

Pernyataan di atas ini menjadi penting ketika kita diingatkan oleh pernyataan Pilatus, sang algojo, hakim yang mengadili Yesus. “Aku tidak mendapat kesalahan apa pun pada-Nya.” Ucapan itu biasanya diingat umat Kristiani dalam setiap perayaan Jumat Agung. Tetapi ucapan itu juga mengingatkan umat manusia bahwa perjuangan menegakkan kebenaran dan keadilan bukanlah mudah. Tegasnya, banyak hambatan dan masih harus terus menerus diperjuangkan, apalagi ketika umat Kristen dalam memperirangi Jumat Agung, pasti akan diingatkan tugas yang amat mulia harus memperjuangankan kebenaran dan keadilan.

Kesaksian Kitab Injil mengenai proses pengadilan Yesus yang berakhir dengan vonis hukuman mati oleh Pilatus, penguasa Romawi setaraf Gubernur pada waktu itu (cf. Matius 27:1-44), Keempat Injil memberitakan bahwa para imam Jahudi bersekongkol untuk membunuh Yesus karena pekerjaan dan ucapan Yesus dianggap merongrong kewibawaan agama Jahudi. Yesus harus disalibkan dan orang Farisi mempengaruhi publik untuk membebaskan Barabas penyamun, dan menyalibkan Yesus. Pengadilan yang dilakukan oleh Pontius Pilatus pengadilan sandiwara dan formalitas saja. Hukuman sudah diputuskan sebelum sidang pengadilan itu berlangsung.
Pilatus berkata: “Aku tidak mendapati kesalahan apa pun pada-Nya”. Pernyataan itu membuyarkan pengadilan massa yang telah lebih dahulu menclaim, sang Yesus itu bersalah. Pilatus yang ditekan massa dan mendesak untuk dijatuhkan fonis hukuman. Gambaran kebrutalan manusia tanpa didasari kebenaran itu sempat meragukan Paulus, antara salah dan benar.
Gambaran itu menjadi jelas ketika film The Passion of the Christ, karya Mel Gibson ditonton. Keraguan dan pendirian yang  ambivalen (mendua) itu, menyelimuti hati dan pikirannya. Bisikan sang istri turut mempengaruhinya, agar keputusan yang dijatuhkan Pilatus tidak dipengaruhi oleh amukan masa. Namun yang terpentingkan ialah, keputusan yang keluar dari mata hati.
Mungkin akan muncul pertanyaan, mengapa Paulus ragu? Keraguan itu mencuat ketika ia dihadapkan antara kepentingannya secara pribadi dengan kepentingan yang lain. Orang yang ragu melakukan dan bertentangan dengan mata hati atau kata hati, hasilnya juga akan mempengaruhi identitas dan integrity seseorang, termasuk Paulus. Ia di satu sisi ingin memnduduki dan memiliki jabatan terhormat, di sisi lain ia bergumul antara kebenaran dan ketidakbenaan. Aneh tampaknya! .
Memang benar, manusia akan menjadi aneh ketika ia tidak lagi berpihak kepada kebenaran. Kebenaran itu hanya ada di dalam diri Yesus. Menghukum atau menjatuhkan kesalahan, ponis, menjadi pergulatan antara salah dan benar. Tentu memperjuangkan agar berpihak kepada yang benar dan berkadilan, tidaklah mudah. Ia butuh proses. Yaitu proses untuk menjembatani antara kebutuhan pribadi dengan kebtuhan Tuhan sendiri.
Amat disayangkan, ternyata Pilatus bukan penguasa yang memiliki pribadi yang tegas, katakan salah jika salah dan benar jika benar. Tampak di sana, ketidakkonsistenan Pilatus, yang telah diukir dalam sejarah perjalanan hidupnya. Akibat dari semua penampakan integrity sang pemimpin menjadi lemah, sarat dengan kelemahan dan mengakibatkan kewibawaaannya diragukan. Sebagai penguasa dan tokoh pemerintahan, jelas dia adalah seorang politikus. Mengenai Yesus yang dihadapkan oleh para pemuka agama kepadanya untuk diadili, Pilatus dalam hati kecilnya sebenarnya yakin bahwa Yesus tidak bersalah apapun, sehingga tidak seharusnya dipidana. Namun demi mempertahankan popularitasnya di kalangan rakyat, dan berkaitan dengan itu kedudukan dan jabatannya di pemerintahan, akhirnya dia tega mengorbankan Yesus dan menghukum-Nya.
Sungguh teramat aneh, dalam hal ini Yesus telah menjadi korban dari fanatisme dan manipulasi para pemuka agama, yang tak mustahil sebenarnya hanyalah wujud dari egoisme, ambisi dan arogansi pribadi dan golongan belaka. orang yang dijuluki penguasa dan sipengendali teriorial itu mendesak, agar Yesus memberi jawab atas tuduhan dan pertanyaan yang dilontarkan kepada Yesus. “Engkau inikah Raja Orang Yahudi?”, dan pertanyaan teologis/filosofis: “Apakah kebenaran itu?”, kata Pilatus dalam sidang pengadilan kepada sang Yesus. Sejarah mencatat, Orang Nazaret itu mesti dihukum mati demi memuaskan keinginan para pemimpin agama beserta massa pengikut mereka, dan mengamankan jabatan politik sang penguasa, Pilatus. Dan Pilatus membasuh tangannya! Pilatus memilih mengingkari kebenaran dan keadilan. Dalam hal ini Yesus telah menjadi korban ambisi dan oportunisme politik penguasa, demi popularitas dan kelestarian kedudukannya
Pengadilan pun memutuskan, bahwa Yesus bersalah, meski Pilatus sendiri berkata: “Aku tidak mendapat kesalahan apa pun pada-Nya”. Memang logika hukum dan kenyataan keadilan tidak selalu berjalan seiring. Antara praktek dan kenyataan sering tidak sejalan. Kenyataan itu mengingatkan kita dalam Jumat Agung saat ini. Perjuangan kita masih panjang. Maka seruan untuk tidak berputus asa rasanya tepat untuk dikemukakan. Dalam pernyataan teologi, Jumat Agung mengingatkan kita, penderitaan bukan kata akhir, meski Yesus harus menjalani hal itu. proses pengadilan Yesus tersebut, Yesus telah menjadi korban dari keadaan, di mana fanatisme sempit dan kelicikan para pemuka agama, oportunisme dan ambisi penguasa, serta emosi massa yang terhasut dan tak terkendali, secara bersama-sama telah melahirkan vonis pidana mati yang sewenang-wenang dan tidak adil itu.
Di sana, di kayu salib tergantung selama tiga jam, memberi sinyal kepada kita bahkan untuk saat ini umat Kristen diingatkan untuk terus berupaya untuk menghentikan kekerasan, diskriminasi, ketidakadilan, ketidakjujuran, dan eksploitasi manusia. idup manusia lekat dengan kekerasan. Hal ini ditandai dengan makin maraknya bentuk kekerasan yang terjadi di sekitar kita. Tema konflik yang muncul kepermukaan ditandai dengan tindak kekerasan. Bumi penuh dengan aroma kekerasan. Benar ungkapan Jacques Ellul: kekerasan yang satu akan melahirkan bentuk kekerasan yang lain.
Sebab, fokus salib itu adalah dialamatkan kepada manusia dan kemanusiaan akan mendorong untuk menghentikan hukum yang menindas, yang pada gilirannya akan memampukan kita meyakini membangun kesejahteraan, kebudayaan dan pengetahuan yang luhur, mengurangi kemiskinan, keterbelakangan, dan pengangguran.
Akhirnya, hidup Yesus juga lekat dengan kekerasan, meskipun Yesus tidak pernah melakukan tindak kekerasan. Tangan Yesus selalu penuh dengan cinta kasih, menolong orang yang membutuhkan, dan melakukan kebaikan. Tetapi dunia riil, di sekitar Yesus bukanlah dunia yang steril tanpa noda. Di akhir periode hidup Yesus pun, akhirnya Ia menjadi korban tindak kekerasan dari orang- orang yang amat dikasihiNya. Tindakan yang sangat biadab untuk zaman itu, dan mengkambing-hitamkan orang yang tidak bersalah dengan disalibkan. Namun roh dan semangat pembaharuan yang dihembuskan oleh Yesus mengusik kemapanan mereka. Dalam sekejap, berkembang cepat menjadi suatu tragedi. Yesus datang membawa misi religiusNya, yaitu misi Allah. Tujuannya, menghadirkan suasana “Kerajaan Allah” di dunia. Wujudnya, damai sejahtera yang bercirikan kebenaran dan keadilan menjadi suatu kenyataan dalam hidup sehari-hari (Lukas 4:16-20).
Dengan demikian, penderitaan, kesengsaraan dan wafat-Nya itu bukan merupakan kekalahan dan kegagalan missi-Nya (Injil Matius 16:21-28; 17:22,23; 20:17-19; 26:1-5). Semasa hidup-Nya di dunia ini Yesus berkali-kali telah menyatakan kepada para pengikut-Nya bahwa demi karya penyelamayan-Nya bagi dunia dan umat manusia, Dia harus mengorbankan Diri dengan menjalani penderitaan dan kesengsaraan sampai mati. Mari kita hindari integritas Paulus yang mendua itu agar kita lebih memilih Yesus yang memberi dirinya untuk korban orang lain, agar mereka selamat. Amin

Renungan Paskah: Kebangkitan dan kemenangan Kristus

Oleh: Pdt. Midian KH Sirait, MTh

(Praeses HKBP Distrik X Medan Aceh)

 

D

Dalam suasana penuh rasa syukur dan sukacita yang menggempita, hari-hari ini umat Kristen Indonesia dan seluruh dunia memasuki hari raya Paskah, hari peringatan kebangkitan Kristus dari kematian. Syukurlah, dalam hal ini penderitaan, kesengsaraan dan kematian yang dijalani Yesus mempunyai makna penebusan bagi manusia. Karena manusia sendiri tidak mampu melakukannya, maka melalui penderitaan, kesengsaraan dan kematian-Nya, Yesus menggantikan manusia yang oleh dosa-dosanya seharusnya menerima hukuman berupa penderitaan, kesengsaraan dan kematian itu.

Dengan demikian, penderitaan, kesengsaraan dan kematian yang harus dijalani Yesus demi tergenapinya missi penyelamatan-Nya itu, bukan kelemahan, kekalahan ataupun kegagalan. Dan ini dibuktikan dengan kebangkitan-Nya dari kubur di Hari Paskah. Kalau karya Yesus benar- benar berhenti atau dihentikan oleh kematian-Nya, memang missi penyelamatan-Nya boleh dikatakan tidak lengkap dan bahkan gagal. Tetapi syukur kepada Tuhan, karya Yesus tidak berhenti hanya sampai salib di Jumat Agung. Dengan kematian dan selanjutnya kebangkitan-Nya itu, dinyatakanlah betapa besar kasih, pengorbanan dan pengampunan, yang adalah juga manifestasi dan wujud dari kemahakuasaan-Nya yang melampaui segala kuasa dan keperkasaan yang bersifat manusiawi dan duniawi.

Paskah tahun 2007 ini menginspirasikan dan memotivasi kita untuk memusatkan perhatian dan pemikiran kepada makna Kebangkitan Kristus pada masa kini di dalam sejarah kehidupan kita. Paskah yang dipahami sebagai kebangkitan Kristus dari kematian, mendorong kita untuk mewujudkan keadaan yang kondusif dan damai. Kita percaya bahwa Yesus Kristus telah hidup dari kematian, kini Dia menciptakan kemanusiaan baru; kemanusiaan yang adil dan yang memiliki tanggung jawab dalam mengukir masa depan.

Kita meyakini bahwa momentum Paskah selalu memberikan secercah optimisme, sekalipun pada saat ini rasa kemanusiaan kita sedang terusik. Pada saat ini, kemanusiaan akan menjadi wacana penting sewaktu kita menyaksikan keadaan dunia menunjukkan ketidakberuntungan, bencana alam, dan dampak buruk globalisasi yang langsung atau pun tidak langsung, berimbas kepada masyarakat Indonesia terutama kaum muda dan anak-anak. Efek dari penggambaran sengsara Yesus selayaknya menjadi simbol yang menawarkan undangan untuk setiakawan dengan saudara-saudari yang menderita, yang menjadi korban.

Misteri Paskah tidak berhenti pada kayu salib, melainkan diikuti tindakan Allah yang membangkitkan Yesus dari alam maut, dan menganugerahkan roh yang satu dan sama dengan Roh yang menghidupi Yesus. Anugerah penebusan bagi umat beriman kristiani berarti menerima panggilan untuk menjalani hidup mengikuti Yesus, ikut memperjuangkan apa yang dikatakan dan yang dilakukan oleh Yesus, untuk menemukan Yesus pada yang paling hina, yang lapar, haus, telanjang, tak punya tumpangan, sakit, dan tersingkirkan. Misteri Paskah membawa undangan untuk ikut serta secara kreatif bekerja demi nilai-nilai yang diperjuangkan dan dibela oleh Yesus dengan menanggung risiko kematian di kayu salib. Dari perspektif misteri Paskah, ukuran untuk menilai adalah apa yang diperjuangkan dan dibela oleh Yesus dengan risiko sampai kematian di salib, yang dibenarkan oleh Allah dengan membangkitkan dari alam maut.

Paskah adalah pilihan, pilihan yang ditempuh Yesus Kristus dan pilihan itu adalah pilihan moral, pilihan yang bertolak dari kebebasan dan kata hati-Nya. Dalam peristiwa Paskah kita diingatkan bahwa Yesus Kristus telah memilih dengan kata hati untuk menempuh kematian demi membebaskan umat manusia dari kuasa dosa dan kuasa maut. Paskah adalah simbol dan meterai menangnya keberanan Allah atas kebatilan manusia. Paskah adalah menangnya kehidupan atas kematian. Paskah adalah menangnya kepentingan bersama umat manusia atas egoisme dan pementingan pribadi, keluarga dan kelompok sendiri. Paskah adalah menangnya pilihan kata hati atas pilihan karena suap dan bujuk rayu kesenangan materialisme.

Paskah berarti kemenangan. Paskah adalah happy end dari cerita penderitaan yang dipilih oleh Yesus Kristus. Kebangkitan adalah kemenangan atas kuasa kematian sekaligus proklamasi kemenangan atas kuasa doa: “Maut telah ditelan dalam kemenangan. Hai maut di manakah kemenanganmu? Hai maut di manakah sengatmu?” Kemenangan hidup atas kematian yang ditandai dan dimeteraikan oleh kebangkitan Yesus Kristus, memaknai setiap pilihan yang diambil dan ditempuh oleh setiap orang percaya.

Paskah – kebangkitan dan kemenangan Kristus – adalah dasar iman Gereja. Rasul Paulus menegaskan hal ini dalam suratnya kepada jemaat Korintus, dengan mengatakan, “Tetapi andaikata Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah pemberitaan kami dan sia-sialah juga kepercayaan kamu.” (1 Korintus 15:14) Penghormatan Gereja terhadap Paskah (termasuk peristiwa Jumat Agung di dalamnya) telah dimulai sejak zaman Gereja perdana dulu. Ibadah-ibadah Paskah selalu menempati tempat penting dalam kehidupan Gereja. Pemahaman dan penghargaan kita atas karya keselamatan Kristus semestinya bertumbuh dan berkembang sepanjang perjalanan kita bersama Dia. Ini berarti seharusnya pertumbuhan dan perkembangan iman kita terjadi setiap hari

Gereja-gereja dan umat Kristen Indonesia dapat belajar banyak dari penderitaan dan kebangkitan yang telah dijalani oleh Yesus Kristus. Penderitaan yang dijalani Yesus memberi makna bagaimana Ia memiliki komitmen tinggi terhadap pembaruan kemanusiaan; bahwa Ia sedia mengambil alih penderitaan yang mestinya dijalani manusia menjadi bagian dari sejarah hidup-Nya, dan tanggung jawab-Nya. Tuhan Yesus berkata: “Karena engkau telah melihat Aku, maka engkau percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya.” (Ayat 29) Tampaknya bukan hanya Tomas yang perlu mendapat peringatan itu, melainkan juga kita. Selamat Paskah!

KERUKUNAN MEMBAWA BERKAT

 Oleh: Pdt. Midian KH Sirait, MTh

Praeses HKBP Distik X Medan Aceh

Kerukunan adalah kata yang indah dan akan lebih indah lagi, jika kata itu menjadi kenyataan dalam kehidupan kita. Bagaimana Tuhan memandang kerukunan dalam kehidupan manusia? Jelas dan pasti bahwa Tuhan amat berkenan dengan kerukunan manusia itu. Bahkan, Tuhan akan memerintahkan berkat-Nya kepada siapa saja yang hidup dalam kerukunan. Berikutnya, kerukunan juga diharapkan hadir dalam kehidupan masyarakat sehingga ada kesatuan dalam usaha untuk membangun kehidupan bersama seluruh warga masyarakat. Dengan demikian kerukunan dalam hidup bernegara akan membela kehormatan kita bersama. Tegasnya, kerukunan adalah kehendak Tuhan Allah!

Harus diakui, bahwa tidak mudah untuk mewujudkan kerukunan tsb. Namun jika orang memahami tingginya nilai-nilai kerukunan tsb, pasti kita akan menghargai kerukunan sebagai harga mati. Sebabnya, hidup rukun berarti terciptanya kedamaian dan persdamaian. Lebih dari itu, nilai kerukunan akan menstabilitaskan kehidupan kemasyarakatan kita. Di sana akan tercipta, saling menghargai, saling menghormati dan terakhir akan saling mengasihi. Tuhan Yesus sendiri memberi pesan dari kesepuluh hukum Taurat, bahwa tiap orang yang ingin memikul salibNya, harus mengasihi Allah dan mengasihi sesama (Mat 22:37-39). Bahkan stressing Yesus di sana tampak hukum kasih itu harus menjadi yang terutama. Jadi, kerukunan sayratnya harus ada saling menghasihi.

Tak mengherankan, ketika rasa saling yang dimaksudkan di atas bisa terwujud ditengah-tengah komunitas kita bersama, maka sudah barang tentu, hidup kita akan aman dan tentram. Di sana ada rasa aman, maka hak-hak azasi manusia akan sangat dihargai dan saling menghargai. Sayang, dalam praktiknya banyak peristiwa yang menunjukkan betapa sering orang kurang menghargai sesamanya di mana mereka ada. Mereka beranggapan hidup didunia ini dapat sendirian. Pada hal, manusia dicipta Allah untuk saling berkomunikasi (Kej 1). Bahkan dalam hukum pernikahan kudus, tidak baik kalau manusia itu seorang diri saja, Aku akan memberi dia penolong. Itu dimaksudkan Allah kepada Adama agar Hawa menjadi penolong, sesuai dengan kehendak Tuhan. Itu tandanya Allah menghendaki kerukunan tsb.

Kurangnya perhatian atas kerukunan atau hidup rukun, bagi umat Kristen diartikan karena kurang iman. Penulis Ibrani (Ibr11:1), menyebutkan, iman adalah dasar dari segala sesuatu. Jadi iman ukuran ada tidaknya rasa saling mengasihi dan rasa saling menghormati ditentukan oleh iman seseorang. Ketika orang kurang iman, tak mengherankan orang seperti itu akan sering menciptakan masalah. Misalnya, akibat kurang menghargai sesamanya akan sulit punya wacana hidup yang bernilai orang lain itu adalah wajah dari Tuhan sendiri.

Kita menyadari bahwa setiap orang apapun agama yang dianutnya ialah ciptaan Allah, sebagaimana Tuhan menciptakan dunia ini dari yang tidak ada menjadi ada (creation ex nihillo). Tak salah kalau kita menyebut pribadi manusia secara utuh adalah gambar Allah atau imago Dei. Sebagai gambar Allah dalam tindakannya mewujudkan kehendak Allah. Salah satu kehendak Allah dari tiap pribadi manusia itu, harus bisa menciptakan hidup rukun. Hidup rukun adalah pilar untuk menguasai dunia ini dengan segala perobahan yang ada di dalamnya. Menurut Mazmur 133:1, syarat untuk hidup rukun, ialah harus bias duduk bersama. Dukud di sini maksuddnya, ketika menghadapi berbagai persoalan hidup akan dimampukan untukan menyelesaikan masalah. Jadi, ciri umat Kristen harus menghadapi setiap persoalan yang ada bukan sebaliknya menghindar dan membiarkan masalah tetap menjadi masalah.

Tak heran kalau Salomo menyebut, agar tiap orang beriman dapat hidup rukun, jemaatNya, punya hikmat dan kebijaksanaan, ia harus takut akan Tuhan (Amsal 1:7).Pengertian takut di sini, sebagaimana kita mestir maksud Yesaya, rancanganmu bukan rancanganKu. Selama rancangan yang kita terapkan dalam hidup ini adalah rancangan Tuhan, sudah barang tentu kita akan dimampukan untuk hidup rukun. Sebab kerukunan itu sendiri harus dijamin lewat kebutuhan. Kebutuhan kita, ialah hidup bersama orang lain. Artinya, kebutuhan kita secara hakekat kemanusiaan kita ialah kita hidup bukan untuk diri sendiri tetapi untuk orang lain. Itu yang dimaksudkan, hidup kita akan bernilai kalau yang  dicitacitakan itu bermanfaat bagi orang lain. Kita tentu setuju bahwa tak ada seorang manusia normal yang dapat hidup sendirian di dalam dunia ini. Manusia sebagai homo socius, mahluk social, tiap manusia pasti butuh orang lain. Sebagai makhluk social ia akan bersekutu dengan yang lainnya. Di sanalah, nilai-nilai kerukunan menjadi amat penting dalam hidup kita.

Mazmur menyebut, tujuan hidup rukun itu agar hidup kita mendapatkan berkat (Maz. 133:3). Hingga kerukunan harus diyakini sebagai rahmat Allah dari Allah yang rahimi, yang mencurahkan segala isi hatinya demi kebaikan dari manusia itu. Kerukunan menghadirkan berkat Tuhan, demikian kesimpulan kita. Karenanya kita adalah satu dalam kesatuan bangsa dan hidup di negeri yang sama sebaiknya semua potensi yang dimiliki mendahulukan bahkan membudayakan hidup rukun, melalui tema persaudaraan yang rukun. Dengan tema seperti itu, hidup kita akan diberkati Tuhan, juga bangsa yang rukun, akan mendapatkan berkat lewat kesejahteraan, jasmani dan rohani.

Akhirnya, pesan Tuhan tidak berhenti hanya agar kita hidup dalam kerukunan, karena ternyata Tuhan juga berjanji memerintahkan berkat-Nya untuk kehidupan yang langgeng ke tengah mereka yang hidup rukun. Berkat Tuhan dapat berupa keberhasilan, kesejahteraan atau kesentosaan hidup dalam kurun waktu yang panjang yang pasti bermanfaat bagi kehidupan kita masing-masing. Amin

Gereja Harus Pandai Meraih Hati Masyarakat

Pdt Midian KH Sirait,MTh pada Seminar Oikumene  dan Misi Lintas Budaya GBKP Balikpapan:

Balikpapan – Kehadiran gereja di dunia ini diutus untuk menjadi gereja bagi orang lain. Hal itu didasari ketika Yesus mengajar murid-muridNya bahwa persekutuan bagian dari sebuah keluarga, menjadi saudara di dalam Kristus, untuk melayani Yesus. Artinya, gereja menjadi tempat bagi kita untuk bersekutu dan saling menolong satu sama lain, demikian awal paparan Pdt Midian KH Sirait,MTh Ketua BKSGB Balikpapan yang juga Pelaksana Praeses HKBP Distrik Borneo dalam paparan ceramahnya di Gereja Batak Karo Protestan (GBKP) Balikpapan, pada hari Sabtu 25/2,2012.

Seminar yang diberi judul “Oikumene dan Kerjasama Antar Gereja dalam Lintas Budaya”, dengan moderator Pdt David Tarigan,STh yang diikuti oleh pengerja GBKP dari Samarinda dan Balikpapan, menurut Pdt Midian KH Sirait, Pendeta HKBP Resort Balikpapan bahwa Gereja bagi orang lain itu adalah gambaran dari suatu keyakinan teologis dan ikrar bahwa Yesus adalah manusia bagi orang lain. Selanjutnya dikatakan, manusia bagi orang lain berarti menurut kepercayaan Kristiani justru karena Dia mau menjadi manusia bagi orang lain maka Dia sampai mengorbankan diriNya. Dengan pemikiran seperti ini, gereja harus melakukan hal yang sama, tandas Sirait.

Dalam hubungannya dengan lintas budaya, sebaiknya gereja harus mempedomani dan pandai-pandai meraih hati tentangga dan masyarakat di sekitar bagian dari kehidupan berbudaya dan beragama. Hanya dengan itu maka perbedaan tidak lagi menjadi penghalang dalam berkomunikasih dengan orang lain. Hubungan dalam lintas budaya membuktikan gereja dapat bekerjasama dan menciptakaan solidaritas serta mampu hidup bertolerasi dengan yang lainnya, termasuk dengan GBKP yang letaknya 10 Km dari Kota Balikpapan, demikian jawaban Penceramah Pdt Midian KHSirait,MTh  yang juga sebagai Pelaksana Praeses HKBP Persiapan Distrik Borneo  atas pertanyaan H Sinulingga dalam diskusi interaktif dengan peserta Seminar.