KERUKUNAN MEMBAWA BERKAT

 Oleh: Pdt. Midian KH Sirait, MTh

Praeses HKBP Distik X Medan Aceh

Kerukunan adalah kata yang indah dan akan lebih indah lagi, jika kata itu menjadi kenyataan dalam kehidupan kita. Bagaimana Tuhan memandang kerukunan dalam kehidupan manusia? Jelas dan pasti bahwa Tuhan amat berkenan dengan kerukunan manusia itu. Bahkan, Tuhan akan memerintahkan berkat-Nya kepada siapa saja yang hidup dalam kerukunan. Berikutnya, kerukunan juga diharapkan hadir dalam kehidupan masyarakat sehingga ada kesatuan dalam usaha untuk membangun kehidupan bersama seluruh warga masyarakat. Dengan demikian kerukunan dalam hidup bernegara akan membela kehormatan kita bersama. Tegasnya, kerukunan adalah kehendak Tuhan Allah!

Harus diakui, bahwa tidak mudah untuk mewujudkan kerukunan tsb. Namun jika orang memahami tingginya nilai-nilai kerukunan tsb, pasti kita akan menghargai kerukunan sebagai harga mati. Sebabnya, hidup rukun berarti terciptanya kedamaian dan persdamaian. Lebih dari itu, nilai kerukunan akan menstabilitaskan kehidupan kemasyarakatan kita. Di sana akan tercipta, saling menghargai, saling menghormati dan terakhir akan saling mengasihi. Tuhan Yesus sendiri memberi pesan dari kesepuluh hukum Taurat, bahwa tiap orang yang ingin memikul salibNya, harus mengasihi Allah dan mengasihi sesama (Mat 22:37-39). Bahkan stressing Yesus di sana tampak hukum kasih itu harus menjadi yang terutama. Jadi, kerukunan sayratnya harus ada saling menghasihi.

Tak mengherankan, ketika rasa saling yang dimaksudkan di atas bisa terwujud ditengah-tengah komunitas kita bersama, maka sudah barang tentu, hidup kita akan aman dan tentram. Di sana ada rasa aman, maka hak-hak azasi manusia akan sangat dihargai dan saling menghargai. Sayang, dalam praktiknya banyak peristiwa yang menunjukkan betapa sering orang kurang menghargai sesamanya di mana mereka ada. Mereka beranggapan hidup didunia ini dapat sendirian. Pada hal, manusia dicipta Allah untuk saling berkomunikasi (Kej 1). Bahkan dalam hukum pernikahan kudus, tidak baik kalau manusia itu seorang diri saja, Aku akan memberi dia penolong. Itu dimaksudkan Allah kepada Adama agar Hawa menjadi penolong, sesuai dengan kehendak Tuhan. Itu tandanya Allah menghendaki kerukunan tsb.

Kurangnya perhatian atas kerukunan atau hidup rukun, bagi umat Kristen diartikan karena kurang iman. Penulis Ibrani (Ibr11:1), menyebutkan, iman adalah dasar dari segala sesuatu. Jadi iman ukuran ada tidaknya rasa saling mengasihi dan rasa saling menghormati ditentukan oleh iman seseorang. Ketika orang kurang iman, tak mengherankan orang seperti itu akan sering menciptakan masalah. Misalnya, akibat kurang menghargai sesamanya akan sulit punya wacana hidup yang bernilai orang lain itu adalah wajah dari Tuhan sendiri.

Kita menyadari bahwa setiap orang apapun agama yang dianutnya ialah ciptaan Allah, sebagaimana Tuhan menciptakan dunia ini dari yang tidak ada menjadi ada (creation ex nihillo). Tak salah kalau kita menyebut pribadi manusia secara utuh adalah gambar Allah atau imago Dei. Sebagai gambar Allah dalam tindakannya mewujudkan kehendak Allah. Salah satu kehendak Allah dari tiap pribadi manusia itu, harus bisa menciptakan hidup rukun. Hidup rukun adalah pilar untuk menguasai dunia ini dengan segala perobahan yang ada di dalamnya. Menurut Mazmur 133:1, syarat untuk hidup rukun, ialah harus bias duduk bersama. Dukud di sini maksuddnya, ketika menghadapi berbagai persoalan hidup akan dimampukan untukan menyelesaikan masalah. Jadi, ciri umat Kristen harus menghadapi setiap persoalan yang ada bukan sebaliknya menghindar dan membiarkan masalah tetap menjadi masalah.

Tak heran kalau Salomo menyebut, agar tiap orang beriman dapat hidup rukun, jemaatNya, punya hikmat dan kebijaksanaan, ia harus takut akan Tuhan (Amsal 1:7).Pengertian takut di sini, sebagaimana kita mestir maksud Yesaya, rancanganmu bukan rancanganKu. Selama rancangan yang kita terapkan dalam hidup ini adalah rancangan Tuhan, sudah barang tentu kita akan dimampukan untuk hidup rukun. Sebab kerukunan itu sendiri harus dijamin lewat kebutuhan. Kebutuhan kita, ialah hidup bersama orang lain. Artinya, kebutuhan kita secara hakekat kemanusiaan kita ialah kita hidup bukan untuk diri sendiri tetapi untuk orang lain. Itu yang dimaksudkan, hidup kita akan bernilai kalau yang  dicitacitakan itu bermanfaat bagi orang lain. Kita tentu setuju bahwa tak ada seorang manusia normal yang dapat hidup sendirian di dalam dunia ini. Manusia sebagai homo socius, mahluk social, tiap manusia pasti butuh orang lain. Sebagai makhluk social ia akan bersekutu dengan yang lainnya. Di sanalah, nilai-nilai kerukunan menjadi amat penting dalam hidup kita.

Mazmur menyebut, tujuan hidup rukun itu agar hidup kita mendapatkan berkat (Maz. 133:3). Hingga kerukunan harus diyakini sebagai rahmat Allah dari Allah yang rahimi, yang mencurahkan segala isi hatinya demi kebaikan dari manusia itu. Kerukunan menghadirkan berkat Tuhan, demikian kesimpulan kita. Karenanya kita adalah satu dalam kesatuan bangsa dan hidup di negeri yang sama sebaiknya semua potensi yang dimiliki mendahulukan bahkan membudayakan hidup rukun, melalui tema persaudaraan yang rukun. Dengan tema seperti itu, hidup kita akan diberkati Tuhan, juga bangsa yang rukun, akan mendapatkan berkat lewat kesejahteraan, jasmani dan rohani.

Akhirnya, pesan Tuhan tidak berhenti hanya agar kita hidup dalam kerukunan, karena ternyata Tuhan juga berjanji memerintahkan berkat-Nya untuk kehidupan yang langgeng ke tengah mereka yang hidup rukun. Berkat Tuhan dapat berupa keberhasilan, kesejahteraan atau kesentosaan hidup dalam kurun waktu yang panjang yang pasti bermanfaat bagi kehidupan kita masing-masing. Amin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s