Renungan Jumat Agung:”Aku Tidak Mendapati Kesalahan Apa pun pada-Nya”

Oleh: Pdt. Midian KH Sirait, MTh
(Praeses HKBP Distrik X  Medan Aceh)

Pernyataan di atas ini menjadi penting ketika kita diingatkan oleh pernyataan Pilatus, sang algojo, hakim yang mengadili Yesus. “Aku tidak mendapat kesalahan apa pun pada-Nya.” Ucapan itu biasanya diingat umat Kristiani dalam setiap perayaan Jumat Agung. Tetapi ucapan itu juga mengingatkan umat manusia bahwa perjuangan menegakkan kebenaran dan keadilan bukanlah mudah. Tegasnya, banyak hambatan dan masih harus terus menerus diperjuangkan, apalagi ketika umat Kristen dalam memperirangi Jumat Agung, pasti akan diingatkan tugas yang amat mulia harus memperjuangankan kebenaran dan keadilan.

Kesaksian Kitab Injil mengenai proses pengadilan Yesus yang berakhir dengan vonis hukuman mati oleh Pilatus, penguasa Romawi setaraf Gubernur pada waktu itu (cf. Matius 27:1-44), Keempat Injil memberitakan bahwa para imam Jahudi bersekongkol untuk membunuh Yesus karena pekerjaan dan ucapan Yesus dianggap merongrong kewibawaan agama Jahudi. Yesus harus disalibkan dan orang Farisi mempengaruhi publik untuk membebaskan Barabas penyamun, dan menyalibkan Yesus. Pengadilan yang dilakukan oleh Pontius Pilatus pengadilan sandiwara dan formalitas saja. Hukuman sudah diputuskan sebelum sidang pengadilan itu berlangsung.
Pilatus berkata: “Aku tidak mendapati kesalahan apa pun pada-Nya”. Pernyataan itu membuyarkan pengadilan massa yang telah lebih dahulu menclaim, sang Yesus itu bersalah. Pilatus yang ditekan massa dan mendesak untuk dijatuhkan fonis hukuman. Gambaran kebrutalan manusia tanpa didasari kebenaran itu sempat meragukan Paulus, antara salah dan benar.
Gambaran itu menjadi jelas ketika film The Passion of the Christ, karya Mel Gibson ditonton. Keraguan dan pendirian yang  ambivalen (mendua) itu, menyelimuti hati dan pikirannya. Bisikan sang istri turut mempengaruhinya, agar keputusan yang dijatuhkan Pilatus tidak dipengaruhi oleh amukan masa. Namun yang terpentingkan ialah, keputusan yang keluar dari mata hati.
Mungkin akan muncul pertanyaan, mengapa Paulus ragu? Keraguan itu mencuat ketika ia dihadapkan antara kepentingannya secara pribadi dengan kepentingan yang lain. Orang yang ragu melakukan dan bertentangan dengan mata hati atau kata hati, hasilnya juga akan mempengaruhi identitas dan integrity seseorang, termasuk Paulus. Ia di satu sisi ingin memnduduki dan memiliki jabatan terhormat, di sisi lain ia bergumul antara kebenaran dan ketidakbenaan. Aneh tampaknya! .
Memang benar, manusia akan menjadi aneh ketika ia tidak lagi berpihak kepada kebenaran. Kebenaran itu hanya ada di dalam diri Yesus. Menghukum atau menjatuhkan kesalahan, ponis, menjadi pergulatan antara salah dan benar. Tentu memperjuangkan agar berpihak kepada yang benar dan berkadilan, tidaklah mudah. Ia butuh proses. Yaitu proses untuk menjembatani antara kebutuhan pribadi dengan kebtuhan Tuhan sendiri.
Amat disayangkan, ternyata Pilatus bukan penguasa yang memiliki pribadi yang tegas, katakan salah jika salah dan benar jika benar. Tampak di sana, ketidakkonsistenan Pilatus, yang telah diukir dalam sejarah perjalanan hidupnya. Akibat dari semua penampakan integrity sang pemimpin menjadi lemah, sarat dengan kelemahan dan mengakibatkan kewibawaaannya diragukan. Sebagai penguasa dan tokoh pemerintahan, jelas dia adalah seorang politikus. Mengenai Yesus yang dihadapkan oleh para pemuka agama kepadanya untuk diadili, Pilatus dalam hati kecilnya sebenarnya yakin bahwa Yesus tidak bersalah apapun, sehingga tidak seharusnya dipidana. Namun demi mempertahankan popularitasnya di kalangan rakyat, dan berkaitan dengan itu kedudukan dan jabatannya di pemerintahan, akhirnya dia tega mengorbankan Yesus dan menghukum-Nya.
Sungguh teramat aneh, dalam hal ini Yesus telah menjadi korban dari fanatisme dan manipulasi para pemuka agama, yang tak mustahil sebenarnya hanyalah wujud dari egoisme, ambisi dan arogansi pribadi dan golongan belaka. orang yang dijuluki penguasa dan sipengendali teriorial itu mendesak, agar Yesus memberi jawab atas tuduhan dan pertanyaan yang dilontarkan kepada Yesus. “Engkau inikah Raja Orang Yahudi?”, dan pertanyaan teologis/filosofis: “Apakah kebenaran itu?”, kata Pilatus dalam sidang pengadilan kepada sang Yesus. Sejarah mencatat, Orang Nazaret itu mesti dihukum mati demi memuaskan keinginan para pemimpin agama beserta massa pengikut mereka, dan mengamankan jabatan politik sang penguasa, Pilatus. Dan Pilatus membasuh tangannya! Pilatus memilih mengingkari kebenaran dan keadilan. Dalam hal ini Yesus telah menjadi korban ambisi dan oportunisme politik penguasa, demi popularitas dan kelestarian kedudukannya
Pengadilan pun memutuskan, bahwa Yesus bersalah, meski Pilatus sendiri berkata: “Aku tidak mendapat kesalahan apa pun pada-Nya”. Memang logika hukum dan kenyataan keadilan tidak selalu berjalan seiring. Antara praktek dan kenyataan sering tidak sejalan. Kenyataan itu mengingatkan kita dalam Jumat Agung saat ini. Perjuangan kita masih panjang. Maka seruan untuk tidak berputus asa rasanya tepat untuk dikemukakan. Dalam pernyataan teologi, Jumat Agung mengingatkan kita, penderitaan bukan kata akhir, meski Yesus harus menjalani hal itu. proses pengadilan Yesus tersebut, Yesus telah menjadi korban dari keadaan, di mana fanatisme sempit dan kelicikan para pemuka agama, oportunisme dan ambisi penguasa, serta emosi massa yang terhasut dan tak terkendali, secara bersama-sama telah melahirkan vonis pidana mati yang sewenang-wenang dan tidak adil itu.
Di sana, di kayu salib tergantung selama tiga jam, memberi sinyal kepada kita bahkan untuk saat ini umat Kristen diingatkan untuk terus berupaya untuk menghentikan kekerasan, diskriminasi, ketidakadilan, ketidakjujuran, dan eksploitasi manusia. idup manusia lekat dengan kekerasan. Hal ini ditandai dengan makin maraknya bentuk kekerasan yang terjadi di sekitar kita. Tema konflik yang muncul kepermukaan ditandai dengan tindak kekerasan. Bumi penuh dengan aroma kekerasan. Benar ungkapan Jacques Ellul: kekerasan yang satu akan melahirkan bentuk kekerasan yang lain.
Sebab, fokus salib itu adalah dialamatkan kepada manusia dan kemanusiaan akan mendorong untuk menghentikan hukum yang menindas, yang pada gilirannya akan memampukan kita meyakini membangun kesejahteraan, kebudayaan dan pengetahuan yang luhur, mengurangi kemiskinan, keterbelakangan, dan pengangguran.
Akhirnya, hidup Yesus juga lekat dengan kekerasan, meskipun Yesus tidak pernah melakukan tindak kekerasan. Tangan Yesus selalu penuh dengan cinta kasih, menolong orang yang membutuhkan, dan melakukan kebaikan. Tetapi dunia riil, di sekitar Yesus bukanlah dunia yang steril tanpa noda. Di akhir periode hidup Yesus pun, akhirnya Ia menjadi korban tindak kekerasan dari orang- orang yang amat dikasihiNya. Tindakan yang sangat biadab untuk zaman itu, dan mengkambing-hitamkan orang yang tidak bersalah dengan disalibkan. Namun roh dan semangat pembaharuan yang dihembuskan oleh Yesus mengusik kemapanan mereka. Dalam sekejap, berkembang cepat menjadi suatu tragedi. Yesus datang membawa misi religiusNya, yaitu misi Allah. Tujuannya, menghadirkan suasana “Kerajaan Allah” di dunia. Wujudnya, damai sejahtera yang bercirikan kebenaran dan keadilan menjadi suatu kenyataan dalam hidup sehari-hari (Lukas 4:16-20).
Dengan demikian, penderitaan, kesengsaraan dan wafat-Nya itu bukan merupakan kekalahan dan kegagalan missi-Nya (Injil Matius 16:21-28; 17:22,23; 20:17-19; 26:1-5). Semasa hidup-Nya di dunia ini Yesus berkali-kali telah menyatakan kepada para pengikut-Nya bahwa demi karya penyelamayan-Nya bagi dunia dan umat manusia, Dia harus mengorbankan Diri dengan menjalani penderitaan dan kesengsaraan sampai mati. Mari kita hindari integritas Paulus yang mendua itu agar kita lebih memilih Yesus yang memberi dirinya untuk korban orang lain, agar mereka selamat. Amin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s