Renungan Jumat Agung:”Aku Tidak Mendapati Kesalahan Apa pun pada-Nya”

Oleh: Pdt. Midian KH Sirait, MTh
(Praeses HKBP Distrik X  Medan Aceh)

Pernyataan di atas ini menjadi penting ketika kita diingatkan oleh pernyataan Pilatus, sang algojo, hakim yang mengadili Yesus. “Aku tidak mendapat kesalahan apa pun pada-Nya.” Ucapan itu biasanya diingat umat Kristiani dalam setiap perayaan Jumat Agung. Tetapi ucapan itu juga mengingatkan umat manusia bahwa perjuangan menegakkan kebenaran dan keadilan bukanlah mudah. Tegasnya, banyak hambatan dan masih harus terus menerus diperjuangkan, apalagi ketika umat Kristen dalam memperirangi Jumat Agung, pasti akan diingatkan tugas yang amat mulia harus memperjuangankan kebenaran dan keadilan.

Kesaksian Kitab Injil mengenai proses pengadilan Yesus yang berakhir dengan vonis hukuman mati oleh Pilatus, penguasa Romawi setaraf Gubernur pada waktu itu (cf. Matius 27:1-44), Keempat Injil memberitakan bahwa para imam Jahudi bersekongkol untuk membunuh Yesus karena pekerjaan dan ucapan Yesus dianggap merongrong kewibawaan agama Jahudi. Yesus harus disalibkan dan orang Farisi mempengaruhi publik untuk membebaskan Barabas penyamun, dan menyalibkan Yesus. Pengadilan yang dilakukan oleh Pontius Pilatus pengadilan sandiwara dan formalitas saja. Hukuman sudah diputuskan sebelum sidang pengadilan itu berlangsung.
Pilatus berkata: “Aku tidak mendapati kesalahan apa pun pada-Nya”. Pernyataan itu membuyarkan pengadilan massa yang telah lebih dahulu menclaim, sang Yesus itu bersalah. Pilatus yang ditekan massa dan mendesak untuk dijatuhkan fonis hukuman. Gambaran kebrutalan manusia tanpa didasari kebenaran itu sempat meragukan Paulus, antara salah dan benar.
Gambaran itu menjadi jelas ketika film The Passion of the Christ, karya Mel Gibson ditonton. Keraguan dan pendirian yang  ambivalen (mendua) itu, menyelimuti hati dan pikirannya. Bisikan sang istri turut mempengaruhinya, agar keputusan yang dijatuhkan Pilatus tidak dipengaruhi oleh amukan masa. Namun yang terpentingkan ialah, keputusan yang keluar dari mata hati.
Mungkin akan muncul pertanyaan, mengapa Paulus ragu? Keraguan itu mencuat ketika ia dihadapkan antara kepentingannya secara pribadi dengan kepentingan yang lain. Orang yang ragu melakukan dan bertentangan dengan mata hati atau kata hati, hasilnya juga akan mempengaruhi identitas dan integrity seseorang, termasuk Paulus. Ia di satu sisi ingin memnduduki dan memiliki jabatan terhormat, di sisi lain ia bergumul antara kebenaran dan ketidakbenaan. Aneh tampaknya! .
Memang benar, manusia akan menjadi aneh ketika ia tidak lagi berpihak kepada kebenaran. Kebenaran itu hanya ada di dalam diri Yesus. Menghukum atau menjatuhkan kesalahan, ponis, menjadi pergulatan antara salah dan benar. Tentu memperjuangkan agar berpihak kepada yang benar dan berkadilan, tidaklah mudah. Ia butuh proses. Yaitu proses untuk menjembatani antara kebutuhan pribadi dengan kebtuhan Tuhan sendiri.
Amat disayangkan, ternyata Pilatus bukan penguasa yang memiliki pribadi yang tegas, katakan salah jika salah dan benar jika benar. Tampak di sana, ketidakkonsistenan Pilatus, yang telah diukir dalam sejarah perjalanan hidupnya. Akibat dari semua penampakan integrity sang pemimpin menjadi lemah, sarat dengan kelemahan dan mengakibatkan kewibawaaannya diragukan. Sebagai penguasa dan tokoh pemerintahan, jelas dia adalah seorang politikus. Mengenai Yesus yang dihadapkan oleh para pemuka agama kepadanya untuk diadili, Pilatus dalam hati kecilnya sebenarnya yakin bahwa Yesus tidak bersalah apapun, sehingga tidak seharusnya dipidana. Namun demi mempertahankan popularitasnya di kalangan rakyat, dan berkaitan dengan itu kedudukan dan jabatannya di pemerintahan, akhirnya dia tega mengorbankan Yesus dan menghukum-Nya.
Sungguh teramat aneh, dalam hal ini Yesus telah menjadi korban dari fanatisme dan manipulasi para pemuka agama, yang tak mustahil sebenarnya hanyalah wujud dari egoisme, ambisi dan arogansi pribadi dan golongan belaka. orang yang dijuluki penguasa dan sipengendali teriorial itu mendesak, agar Yesus memberi jawab atas tuduhan dan pertanyaan yang dilontarkan kepada Yesus. “Engkau inikah Raja Orang Yahudi?”, dan pertanyaan teologis/filosofis: “Apakah kebenaran itu?”, kata Pilatus dalam sidang pengadilan kepada sang Yesus. Sejarah mencatat, Orang Nazaret itu mesti dihukum mati demi memuaskan keinginan para pemimpin agama beserta massa pengikut mereka, dan mengamankan jabatan politik sang penguasa, Pilatus. Dan Pilatus membasuh tangannya! Pilatus memilih mengingkari kebenaran dan keadilan. Dalam hal ini Yesus telah menjadi korban ambisi dan oportunisme politik penguasa, demi popularitas dan kelestarian kedudukannya
Pengadilan pun memutuskan, bahwa Yesus bersalah, meski Pilatus sendiri berkata: “Aku tidak mendapat kesalahan apa pun pada-Nya”. Memang logika hukum dan kenyataan keadilan tidak selalu berjalan seiring. Antara praktek dan kenyataan sering tidak sejalan. Kenyataan itu mengingatkan kita dalam Jumat Agung saat ini. Perjuangan kita masih panjang. Maka seruan untuk tidak berputus asa rasanya tepat untuk dikemukakan. Dalam pernyataan teologi, Jumat Agung mengingatkan kita, penderitaan bukan kata akhir, meski Yesus harus menjalani hal itu. proses pengadilan Yesus tersebut, Yesus telah menjadi korban dari keadaan, di mana fanatisme sempit dan kelicikan para pemuka agama, oportunisme dan ambisi penguasa, serta emosi massa yang terhasut dan tak terkendali, secara bersama-sama telah melahirkan vonis pidana mati yang sewenang-wenang dan tidak adil itu.
Di sana, di kayu salib tergantung selama tiga jam, memberi sinyal kepada kita bahkan untuk saat ini umat Kristen diingatkan untuk terus berupaya untuk menghentikan kekerasan, diskriminasi, ketidakadilan, ketidakjujuran, dan eksploitasi manusia. idup manusia lekat dengan kekerasan. Hal ini ditandai dengan makin maraknya bentuk kekerasan yang terjadi di sekitar kita. Tema konflik yang muncul kepermukaan ditandai dengan tindak kekerasan. Bumi penuh dengan aroma kekerasan. Benar ungkapan Jacques Ellul: kekerasan yang satu akan melahirkan bentuk kekerasan yang lain.
Sebab, fokus salib itu adalah dialamatkan kepada manusia dan kemanusiaan akan mendorong untuk menghentikan hukum yang menindas, yang pada gilirannya akan memampukan kita meyakini membangun kesejahteraan, kebudayaan dan pengetahuan yang luhur, mengurangi kemiskinan, keterbelakangan, dan pengangguran.
Akhirnya, hidup Yesus juga lekat dengan kekerasan, meskipun Yesus tidak pernah melakukan tindak kekerasan. Tangan Yesus selalu penuh dengan cinta kasih, menolong orang yang membutuhkan, dan melakukan kebaikan. Tetapi dunia riil, di sekitar Yesus bukanlah dunia yang steril tanpa noda. Di akhir periode hidup Yesus pun, akhirnya Ia menjadi korban tindak kekerasan dari orang- orang yang amat dikasihiNya. Tindakan yang sangat biadab untuk zaman itu, dan mengkambing-hitamkan orang yang tidak bersalah dengan disalibkan. Namun roh dan semangat pembaharuan yang dihembuskan oleh Yesus mengusik kemapanan mereka. Dalam sekejap, berkembang cepat menjadi suatu tragedi. Yesus datang membawa misi religiusNya, yaitu misi Allah. Tujuannya, menghadirkan suasana “Kerajaan Allah” di dunia. Wujudnya, damai sejahtera yang bercirikan kebenaran dan keadilan menjadi suatu kenyataan dalam hidup sehari-hari (Lukas 4:16-20).
Dengan demikian, penderitaan, kesengsaraan dan wafat-Nya itu bukan merupakan kekalahan dan kegagalan missi-Nya (Injil Matius 16:21-28; 17:22,23; 20:17-19; 26:1-5). Semasa hidup-Nya di dunia ini Yesus berkali-kali telah menyatakan kepada para pengikut-Nya bahwa demi karya penyelamayan-Nya bagi dunia dan umat manusia, Dia harus mengorbankan Diri dengan menjalani penderitaan dan kesengsaraan sampai mati. Mari kita hindari integritas Paulus yang mendua itu agar kita lebih memilih Yesus yang memberi dirinya untuk korban orang lain, agar mereka selamat. Amin
Iklan

Kritis berpikir, Santun Berkarya

Oleh: Pdt. Midian KH Sirait, MTh

 

Banyak orang ingin sukses tapi tidak santun. Ada orang pintar karena tidak santun maka sulit diterima keberadaannya. Ada pemimpin karena pribadinya tidak santun maka kepemimpinannya juga sulit diterima kehadirannya. Dalam hal hubungannya dengan iman Kristen aktifitas berkirir yang kritis itu dan dalam upaya unt

uk berkarya, maka judul di atas erat kaitannya dalam kerangka untuk mengerti dan melakukan kehendak Tuhan.

Dalam kerangka itulahlah tiap orang Kristen harus kritis dan berkarya. Oleh sebab itu judul tsb menarik untuk dibaca bagi mereka yang hidupnya ingin sukses. Sebab berbicara tentang kata “kritis” dan “karya”, adalah dua kata yang saling melengkapi. Misalnya, Firman Tuhan berkata, “Sebab itu, janganlah kamu bodoh, tetapi usahakanlah supaya kamu mengerti kehendak Tuhan” (Efesus 5:17). Tetapi juga kita dituntut untuk berkarya. Firman Tuhan berkata:  “Apa pun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia” (Kol.3:23).

Ke dua nats di atas ini, tujuannya agar agar hari-hari hidup setiap umat dapat bermakna dan bernilai. Tegasnya, menjadi orang yang paling sukses. Kesuksesan yang akan kita capai tidak bergantung pada bukan berapa banyak uang yang kita kumpulkan, atau berapa besar karya-karya yang akan kita capai. Kesuksesan juga bukan terletak pada berapa banyak pekerjaan yang kita lakukan, atau berapa tingginya posisi yang kita miliki. Kesuksesan kita diukur dari seberapa jauh kita mengerti dan melakukan kehendak Tuhan.

Kritis berpikir dan santun berkarya tujuannya agar kita mengerti dan melakukan kehendak Tuhan. Bagaimana kita bisa mengerti kehendak Tuhan kalau kita tidak memahami dan hidup di dalam Firman Tuhan tsb? Tak heran kalau Yesus sendiri berpesan kepada semua pengikut-Nya sepanjang zaman, agar jangan takut.  Kita perlu terus belajar, terus menambah pengetahuan dan belajar dari kegagalan atau keberhasilan, pada waktu sulit atau tenang, bahkan diharuskan untuk belajar atas perubahan yang ada, bukan lihai atau licik, tapi cerdik.

Jadi, dalam mengkritisi zaman ini agar orang-orang percaya jangan hanyut terbawa arus atau tergilas atau ketinggalan, tercecer, dalam perkembangan zaman. Para pemimpin gereja harus membantu umatnya menyadari bahaya zaman ini dengan melengkapi mereka melalui upaya perlengkapan iman yang terus bertumbuh dewasa, agar mampu mengahadapi serigala zaman ini.

Dengan demikian hidup beragama itu ialah berpikir dan berkarya berdasarkan Kitab Suci atau Alkitab. Di dalam Firman tsb dijelaskan, manusia tidak diciptakan Tuhan Allah seperti robot yang kemampuan berpikirnya sebatas yang terprogram. Tetapi diciptakan dengan penuh kesadaran akan dirinya, alam dan Tuhannya. Maksudnya, beragama yang benar, atau beriman kepada Tuhan Pencipta langit dan bumi dengan segala isinya, tujuannya agar dalam memelihara ciptaanNya tiap orang Kristen terpanggil untuk  setia dan mengasihinya dengan caraNya sendiri.

Di sanalah sifat santun itu menjadi penting. Yaitu, mengkiritisi panggilanNya agar membawa pengenalan akan Tuhan secara benar (Kel 3:13 – 4:1ff).  Semuan itu diarahkan agar iman kepercayaan kita semakin bertumbuh dan bekerkembang sesuai dengan talenta yang dimilikinya. Demikianlah proses mengerti dan melakukan kehendak Allah. Manusia tidak berjalan dalam kehendak yang kaku, tetapi selalu ada di dalam pembaruan, baik itu kebudayaan, ilmu pengetahuan, teknologi dan sebagainya.

Lebih dari itu, berpikir kritis, santun berkarya bagaikan kompas hidup yang tepat bagi manusia melihat pemandangan yang  luas (ke depan) dan beragam objek yang memukau perhatian dan sekaligus mengundang banyak pertanyaan tentang objek-objek yang terpapar di depan kita. Tuhan menghendaki agar kita membangun pekerjaan dan pelayanan yang sungguh-sungguh berkenan kepada-Nya. Itu berarti kita tidak bekerja atau melayani secara sembarangan, atau mengambil muka kepada pimpinan (Ef.6:6), tetapi “dengan rela menjalankan pelayanannya seperti orang-orang yang melayani Tuhan, bukan manusia.”

Atas dasar itulah, sifat mengkritisi harus ditopang sikap santun agar karya-karya yang kita lakukan menjadi berkat bagi diri kita sendiri, tentu juga bagi orang lain. Dalam hal ini, kita dapat belajar dari hamba Tuhan abad 1 itu, Yaitu Rasul Paulus. Karena dia juga berpikir kritis terhadap tradisi umat Israel yang sangat dikenalnya dan diihayatinya itu, tetapi dia terbuka pada tuntutan baru dari iman yang berpusat pada  Yesus Kristus yang mati dan bangkit itu, sehingga dia melihat dan percaya bahwa kita tidak dapat diselamatkan oleh Taurat (Yahudi), melainkan hanya oleh Yesus Kristus sebagai penggenapan Hukum Taurat itu. Berdasarkan pernyataannya itulah, kepada orang-orang percaya sepanjang zaman dia menyerukan melalui tulisannya kepada jemaat Tessalonika itu : “ujilah  segala sesuatu dan peganglah yang baik  ( 1 Tes 5 : 21 ).

Berpikir kritis adalah senana dengan tuntutan Alkitab itu sendiri, seperti kita lihat dalam sikap Rasul Paulus di atas. Mengkritisi dengan demikian agar kita bertindak hati-hati atau waspada (santun). Sebagai gereja yang memang berpusat pada Alkitab – ingat prinsip dasar Martin Luther “Sola Scriptura” abad XVI itu  Dengan kata lain, Alkitab adalah buku kesaksian iman, bukan buku tentang fakta-fakta historis (historia), fakta-fakta biologis, antropologis atau fakta-fakta  ilmu-ilmu lainnya.

Berpikir Kritis dan santu berkarya sangat tepat dihubungkan dengan merespons  Firman Tuhan. Itu yang dimaksudkan dengan  tetap selalu memegang yang baik. Yaitu, adanya kesadaran dan tindakan menjadi sesuatu yang urgen dalam tata sosial dan orde kehidupan kita agar lebih beradab dan bermartabat, sekaligus menjadi daya hidup dan autentisitas iman agar hidup semakin bermakna.

Tuhan menghendaki agar kita makin mengenal dan mengasihi Dia, serta semakin dewasa seperti Kristus (Efesus 4:13 dan 5:21). Hal itu juga yang ditegaskan Allah melalui Nabi Yeremia: “… Barangsiapa mau bermegah, baiklah bermegah karena yang berikut, bahwa Ia memahami dan mengenal Aku” (9:24).  Seruan itu telah menjadi kerinduan dan ambisi rasul Paulus: “Yang kukehendaki adalah mengenal Dia” (Fil.3:10).

Akhirnya,  berpikir kritis, dan santun berkarya, kita akan menguji segala sesuatu dengan tujuan  supaya kita memegang yang baik, melakukannya dalam tindakantindakan konkrit dalam pelayanan di gereja. Sebab gereja dan umat Kristen  yang menyatakan Ktistus mestilah seirama dengan tindakan Kristus di dunia  ini. Oleh karena itu, betapa pun sibuknya, jangan melalaikan hubungan pribadi dengan Tuhan. Pelihara dan tingkatkan kualitas saat teduh. Tuhan menghendaki agar kita membangun keluarga yang berpusatkan Kristus (Efesus 5:21-6:4). Amin.

MEMBANGUN MASYARAKAT YANG JUJUR DAN BENAR

MEMBANGUN MASYARAKAT YANG JUJUR DAN BENAR

Oleh: Pdt Midian KH Sirait, MTh

Banyak tugas dan tanggungjawab orang Kristen yang dapat dilakukan untuk membangun bangsa Indonesia. Kita harus memperjuangkan kondisi dan situasi masyarakat yang adil, damai dan sejahtera.Kita tidak akan pernah bisa tergerak untuk melakukan peran aktif demi kejujuran dan kebenaran apabila kita tidak mengasihi sesama dimana kita tinggal. Tugas yang menjadi prioritas yaitu mempromosikan kebenaran dan keadilan, karena bangsa kita sedang dilanda persoalan-persoalan yang di dalamnya termasuk korupsi yang marak mendapat perbincangan di Republik ini, seperti yang ditayangkan media cetak dan televisi swasta akhir-akhir ini.

Keadilan dan kebenaran merupakan anugrah Tuhan. Hal itu dinyatakan oleh Tuhan Yesus ke dunia menjamin adanya kebebasan dan perdamaian yang benar, baik dalam keluarga, komunitas gereja maupun masyarakat dunia. Firman Tuhan Yesus berkata, “berikan kepada Kaisar yang wajib kamu berikan kepada Kaisar, dan berikanlah kepada Allah yang wajib kamu berikan kepada Allah”. Dengan kata lain, Yesus tidak mengizinkan para pengikutnya melakukan tindakan manipulasi karena berkolusi dengan kejahatan sehingga melakukan tindakan korupsi yang merugikan pemerintah dan mengecewakan Allah.

Adil berarti tidak berat sebelah, berpihak kepada yang benar dan berpegang pada kebenaran. Orang mengakui hak sesamanya tanpa pilih kasih. Keadilan tidak hanya mengatur kehidupan perorangan melainkan dan terutama kehidupan bersama. Keadilan adalah suatu prinsip menata dan membangun masyarakat yang damai sejahtera. Sejahtera adalah keseluruhan kondisi hidup masyarakat,yang memungkinkan individu atau kelompok agar dapat lebih lancar mencapai kesempurnaan mereka sendiri. Sejahtera adalah hak untuk memiliki sesuatu yang menjamin martabatnya sebagai manusia.

Dipanggil untuk berperan aktif

Tuhan Yesus yang telah mendamaikan kita dengan diri-Nya, menghendaki agar manusia hidup dalam damai sejahtera dengan sesamanya. Juruselamat akan membangun Kerajaan-Nya di bumi,dimana manusia akan mangalami kesejahteraan lahir dan batin. Dengan demikian tiap orang Kristen dipanggil untuk berperan aktif dalam membangun Kerajaan Allah di dunia. Dalam dinamika kondisi seperti itu gereja juga terpanggil untuk melaksanakan dan mewujudkan amanat Yesus Kristus, yaitu untuk membawa kejujuran dan kebenaran.

Peran itu untuk menjawab kecemasan warga dan masyarakat zaman sekarang, yang juga merupakan keprihatinan gereja. Oleh karena itu yang perlu diusahakan membangun masyarakat dalam mencita-citakan keajujuran dan kebenaran tsb dengan memberdayakan mereka yang menjadi korban ketidakadilan, dengan memberikan kesaksian hidup melalui keterlibatan untuk menciptakan keadilan dalam diri sendiri terlebih dahulu. Usaha memperjuangkan keadilan dan kesetiakawanan bersama dengan mereka yang diperlakukan tidak adil, tidak boleh dilakukan dengan kekerasan. Meskipun untuk membangunnya pasti ada kendala-kendala yang harus dihadapi, yaitu  adanya anggota masyarakat yang bersikap acuh tak acuh dan pasrah saja. Ada kelemahan – kelemahan manusiawi yang dapat menyulitkan dalam memperjuangkan keadilan.

Membangun masyarakat berperadaban

Dengan usaha mengembangkan tugas tsb menjadi kewajiban kita semua untuk ikut serta ambil peran dalam usaha bersama bangsa kita untuk mewujudkan masyarakat berperadaban, yaitu benar dan jujur, dinegara kita tercinta Republik Indonesia. Karena terbentuknya masyarakat yang berperadaban itu adalah bagian mutlak dari wujud cita-cita kenegaraan, yaitu mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 menyatakan hasrat dan keinginan rakyat Indonesia untuk hidup dalam suatu negara yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur. Kita sudah merdeka, bersatu dan berdaulat.

Kunci dari upaya semuanya untuk keluar dari krisis sekarang ini adalah mengembalikan kepercayaan, kepercayaan kita pada diri sendiri. Kita memang harus lugas dan realistis dalam melihat keadaan yang berat tersebut. Tetapi kita tidak boleh  putus  asa  dan pesimis. Masyarakat berperadaban memerlukan adanya pribadi-pribadi yang dengan tulus mengikatkan nuraninya kepada wawasan kejujuran dan kebenaran. Dan tindakan kebaikan kepada sesama manusia harus didahului dengan diri sendiri menempuh hidup kebaikan, seperti dipesankan Allah. Pengawasan sosial adalah konsekuensi langsung dari itikad baik yang diwujudkan dalam tindakan kebaikan.

Membangun potensi untuk kesejahteraan kota

Keadilan adalah suatu syarat atau keadaan hidup di kerajaan Allah. Berdasarkan pandangan yang optimis-positif itu, kita harus memandang bahwa setiap orang mempunyai potensi untuk benar dan baik. Karena itu, setiap orang mempunyai potensi untuk menyatakan pendapat dan untuk didengar. Inilah yang harus diperjuangkan bersama semua orang yang percaya kepada Yesus Kristus. Sebab diyakini bahwa keadilan dan kejujuran adalah bagian tabiat Allah. Ada dalam Alkitab,”Ia tidak akan kenyimpang dari kebenaran dan kesetiaan, seperti ikat pinggang tetap terikat pada pinggang”. (Yes 11:5).. Orang yang hidup dalam kebenaran, yang berbicara dengan jujur, yang menolak untung hasil pemerasan, yang mengebaskan tangannya, supaya jangan menerima suap, yang menutup telinganya, supaya jangan mendengarkan rencana penumpahan darah, yang menutup matanya, supaya jangan melihat kejahatan” (Yesaya 33:15).

Yesus sendiri sangat menentang ketidakjujuran dan ketidak adilan. Kebenaran ini ialah kebenaran yang dicapai Kristus sendiri dalam ketaatan-Nva yang sempurna pada kehendak Bapak dalam hidup dan mati, dalam mana Ia memikul kutuk Allah akibat pelanggaran-pelanggaran hukum ilahi. Bahkan jauh sebelum itu Yeremia sebagai nabi Allah mengidam-idamkan agar tercipta masyarakat kota yang sejahtera. Keunikan isi surat nabi Yeremia tersebut adalah mampu memberikan solusi yang lebih kongkrit, lebih realistis dan lebih positif.  Sejahtera dalam arti di dalamnya berlaku kejujuran dan kebenaran. Kata nabi, “Usahakanlah kesejahteraan kota ke mana kamu Aku buang, dan berdoalah untuk kota itu kepada TUHAN, sebab kesejahteraannya adalah kesejahteraanmu.” (Yer 29:7). Ini adalah seruan Tuhan bagi kita untuk mengusahakan sesuatu untuk kota dimana kita ditempatkan. Artinya di tengah-tengah situasi yang paling buruk sekalipun, kita selaku umat percaya dipanggil oleh Tuhan untuk ambil bagian secara bersengaja mewujudkan kesejahteraan dan keselamatan bagi orang-orang di sekitar kita.

Kita tidak akan pernah bisa tergerak untuk melakukan peran aktif demi kejujuran dan kebenaran apabila kita tidak mengasihi sesama dimana kita tinggal. Alkitab mengatakan: “Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya.” (Efesus 2:10). Pekerjaan baik sudah dipersiapkan Allah lewat Kristus, ini termasuk dalam mengusahakan keadilan dan kebenaran. Dan Tuhan mengatakan bahwa Dia mau kita hidup di dalamnya. Kesejahteraan kota akan sangat menentukan seberapa jauh kesejahteraan kita.

Membangun dan siap mengemban misi Kristus

Akhirnya, melalui Kristus, Allah menyatakan diriNya dan karyaNya yang menyelamatkan. Sehingga ke manapun Kristus hadir, di situlah karya pemulihan Allah terjadi. Karya Kristus senantiasa menciptakan keselamatan dan kesejahteraan bagi umat manusia. Selaku gereja atau umat Allah hidup seperti Kristus, ke manapun kita pergi dan hadir, seharusnya kita menciptakan keselamatan dan kesejahteraan bagi banyak orang. Ketika kita hadir, seharusnya orang-orang di sekitar kita  merasa tenang, teduh dan sejahtera. Pada sisi yang lain ketika mereka mendengar ucapan, pemikiran dan nasihat-nasihat kita, seharusnya menimbulkan pengharapan dan inspirasi baru yang membuat sesama kita makin bertumbuh dan berkualitas.

Dalam keadaan apapun, sebagai umat Allah, sebagai warga gereja, dan juga sebagai warga negara, mempunyai tugas khusus sebagai saksi Kristus dalam hal memprakarsai lahirnya masyarakat baru yang berasaskan kebenaran dan keadilan. Menjadi orang Kristen berarti siap mengemban misi Kristus, menjadi terang di tengah-tengah kegelapan dan juga menjadi saksi Kristus di tengah-tengah dunia ini. Bagaimanapun sulitnya tetap harus tetap berusaha menjadi garam yang masih asin rasanya dan menjadi terang yang bersinar di tengah-tengah kegelapan, (Mat 5:13+15).

TANAH BATAK DIJAMAN NOMENSEN

TANAH BATAK DIJAMAN NOMENSEN

Semua orang batak pasti mengenal nama Nomensen, karena sejarah gereja ditanah batak sangat berhubungan erat dengan pelayanan Nomensen. Orang-orang pertama yang percaya kepada Kristus dizaman pelayanan Nomensen adalah orang-orang yang haus mengenal firman Tuhan, sangat bersemangat untuk berdoa, dan sangat bersemangat untuk menceritakan Kristus kepada semua orang. Ketika mengalami Kristus dan mengenal Kristus secara pribadi, mereka begitu bersemangat untuk datang kepada saudara-saudaranya dan menceritakan Kristus yang telah mati dan bangkit untuk menyelamatkan mereka dan secara nyata menunjukkan bagaimana Kristus sudah mengubah hidup mereka. Mereka juga adalah orang yang senang belajar, senang membaca Alkitab dan mendiskusikannya

Jika melihat semangat jemaat Batak yang mula-mula, maka kita dapat belajar tentang bagaimana seharusnya kita menghargai anugerah Tuhan, bagaimana bertumbuh dan berubah menjadi serupa Kristus. Menjadi orang yang penuh kasih, bergantung pada Allah dan melayani. (Pdt Midian KH Sirait)

Hello world!

Welcome to WordPress.com. After you read this, you should delete and write your own post, with a new title above. Or hit Add New on the left (of the admin dashboard) to start a fresh post.

Here are some suggestions for your first post.

  1. You can find new ideas for what to blog about by reading the Daily Post.
  2. Add PressThis to your browser. It creates a new blog post for you about any interesting  page you read on the web.
  3. Make some changes to this page, and then hit preview on the right. You can always preview any post or edit it before you share it to the world.