SPIRITUALITAS DAN HUBUNGAN YANG HARMONIS SESAMA PELAYAN

SPIRITUALITAS DAN HUBUNGAN YANG HARMONIS SESAMA PELAYAN

Oleh: Pdt Midian KH Sirait, MTh

PENDAHULUAN

Rapat Pendeta se-HKBP, sekali dalam 4 tahun, akan digelar pada bulan Augustus 2009 mendatang di Semanirum Sipoholon. Untuk menyambut Rapat Pendeta dimaksud, maka dalam Aturan dan Peraturan HKBP di tiap Distrik akan menggelar Rapat ditingkat Distrik. Sub-Tema dari Rapat Pendeta HKBP tsb menyoroti tentang hubungan sesama pelayan Walaupun “Parhahamaranggion” antar Pendeta sudah sering disinggung dalam rapat-rapat Pendeta yang lalu, tetapi tidak kurang pentingnya bagi kita untuk mendiskusikannya lagi saat ini. Hal ini sangat perlu untuk mengingatkan, agar kita selalu berusaha membangun dan memelihara hubungan yang harmonis antar Pendeta, bahkan sesama Pelayan. Parhahamaranggion atau hubungan yang harmonis hanya dapat terwujud apabila didukung spiritualitas Pendeta yang tinggi. Dan hendaknyalah setiap Pendeta memikirkan ini, dan selalu berusaha meningkatkan hidup spiritualitas demi terwujudnya parhahamaranggion yang harmonis antar sesama pelayan. Hal ini merupakan harapan kita semua sekaligus memenuhi harapan warga gereja yang tentunya sangat mendukung pelayanan kita di tengah-tengah gereja.

PENGERTIAN SPIRITUALITAS

Kata “Spiritualitas” sering dan banyak dipergunakan disana-sini, tetapi setiap orang memberi arti yang berbeda-beda. Spiritualitas bukanlah perilaku yang lahiriah yang hanya dapat dilihat, tetapi lebih dari situ, bahkan tidak dapat dilihat. Andar Ismael mengatakan : “Spiritualitas adalah getaran hati yang religius atau cita rasa religius”. Lebih lanjut dikatakan, bahwa spiritualitas adalah sebuah unsur untuk agama. Tanpa spiritualitas maka hidup keberagaman kita hanya terikat pada hal-hal lahiriah belaka. Kemungkinan sekali itulah yang dimaksudkan oleh Yesus kepada perempuan Samaria; Allah itu Roh dan barangsiapa menyembah Dia, harus menyembahNya dalam Roh dan Kebenaran (Yoh.4 : 24). Itulah spiritualitas katanya. Sekali lagi, spiritualitas adalah getaran hati yang halus atau cita rasa yang halus tentang yang Ilahi, yang terdapat dalam hati sanubari seseorang.

Spiritualitas adalah riak getaran insani yang timbul karena merasakan sentuhan halus dari yang Ilahi. Hal ini mengingatkankan kita, bahwa Allah itu Roh. Allah itu halus, tidak tampak dan tidak dapat diraba. Karena Allah itu halus, sepatutnya perilaku beragama kita pun halus. Selanjutnya dalam kamus Bahasa Inggris, Spiritualitas-Spirit berarti rohani-kerohanian. Agaknya itulah yang dimaksud dalam bahasa Batak : “Marpartondiaon”. Dalam tugas pelayanan sebagai Pendeta, apakah kita benar-benar “Mapartondion”, berkerohanian (Spiritualitas), berdedikasi yang disertai dengan kelemahlembutan dan cinta kasih yang adalah buah Roh Kudus (Gal.5 : 22).

ARTI DAN MAKNA SPIRITUALITAS BAGI PENDETA

Sukidi dalam buku New Age-nya mengutip perkataan Schumacher penulis buku Small Is Beautiful : “Segala krisis justru berangkat dari krisis spiritual dan krisis pengenalan diri kita terhadap yang absolut, Tuhan”. Kalau kita renungkan perkataan ini ada benarnya. Tidak dapat dipungkiri, bahwa Gereja menginginkan supaya Pendetanya berpendidikan tinggi, namun bukan hanya itu satu-satunya yang menjadi syarat utama, tetapi disamping itu harus memiliki spiritualitas ataupu “Marpartondion”. Apabila seseorang Pendeta tidak memiliki spiritualitas yang tinggi akan berakibat fatal terhadap diri, tugas pelayanannya, juga terhadap gereja kita. Oleh karena itu, sudah sepantasnya kita memelihara dan meningkatkan hidup spiritualitas kita sebagai Pendeta yang mengandung arti dan makna penting bagi diri, tugas kita sebagai pelayan, mencakup hubungan kita sesama pelayan. Tidak baik kalau kita hanya menggembalakan anggota jemaat melalui kotbah dan pengajaran, tetapi tidak menggembalakan diri kita sendiri dalam arti tidak memelihara dan meningkatkan hidup spiritualitas kita. Dalam Matius 7 : 29 dikatakan; “Sebab Ia (Yesus) mengajar mereka sebagai orang yang berkuasa, tidak seperti ahli-ahli Taurat-Ai marsahala do pangajarionna…!”. Yesus ‘marsahala’ karena kotbahNya sepadan dengan hidupNya.

Kalau tidak salah mengingat, itulah sebabnya ompui DR.J.Sihombing(+) pernah mengatakan; “Jamitana i do dihangoluhon, jala ngolunai do dijamitahon”. Banyak hal-hal yang menyebabkan seseorang hamba Tuhan jatuh. Salah satu diantaranya ialah karena dia tidak memiliki spiritualitas yang tinggi, dan tidak memiliki iman yang tangguh sehingga tidak mampu mengendalikan diri dan hawa nafsunya. Memang kita bukan manusia sempurna, tetapi setidaknya kita seharusnya menampilkan seperti itu. Demikian dikatakan oleh Merlin Carothers. Oleh karenanya, sebagai seorang Pendeta yang memiliki spiritualitas yang tinggi kita harus bisa menampilkan diri kita sebagai TELADAN.

Dalam Tata Kebaktian Penahbisan Pendeta dikatakan ; …..Hendaklah menjadi teladan bagi mereka yang dipercayakan bagi saudara. Pendeta tua dapat menempatkan diri mereka sebagai teladan kepda yang lebih muda, dan pendeta yang muda bersikap hormat kepada yang lebih tua misalnya. Supaya kita dapat menjadi teladan, kita harus memandang kepada Yesus, dimana Dia datang bukan untuk dilayani tetapi melayani (Mat.20 : 28, Mark.10 : 45) Selanjutnya, sebagai hamba Tuhan, kita harus mampu menampilkan diri kita sebagai ‘pelopor kasih’. Ompui DR.J.Sihombing(+) dalam ceramahnya pada rapat Pendeta mengutip ucapan Martin Luther; “Ia holong, ido puncu, ido mual ni nasa na targoar hadaulaton”. Didok muse; Sahalak Pandita na so adong holong ido na gabe basir-basir di dirina, ulaonna pe ndang tagamon marparbue. Ai nang pe godang halojaonna, godang parbinotoanna, malo marorganisasi, magopo do sudenai molo so adong holong. Kemudian seorang Pendeta harus mampu menunjukkan sikap yang penuh kerendahan hati. Ketika Yesus membasuh kaki murid-muridNya dengan sukarela dan rendah hati Dia mengambil peran seorang hamba (Yoh.13 : 1-7). Hal ini merupakan contoh bukan saja hanya kepada murid-muridNya tetapi juga kepada para Pendeta. Bagaikan seorang pelayan yang menghidangkan makanan di atas meja, demikianlah Pendeta menghidangkan makanan rohani anggota jemaat melalui pemberitaan firman Tuhan Allah.

TERCIPTANYA HUBUNGAN YANG HARMONIS ANTAR PELAYAN

Sejak dahulu sudah merupakan suatu kommit, bahwa hubungan sesama Pendeta HKBP adalah didalam hubungan “PARHAHAMARANGGION” tanpa memandang latar belakang kehidupan dan pendidikan. Hal ini perlu mendapat perhatian dari kita bersama; apakah masih tebal ‘parhahamaranggion’ atau apakah sudah semakin menipis (erosi). Tidak dapat dipungkiri, bahwa kadar spiritualitas seorang Pendeta sangat menentukan bagaimana dia bersikap kepada temannya Pendeta juga kepada sesama teman pelayan lainnya, apakah dia tinggal di kota metropolitan, kota dan semi kota, di huta-huta atau di pispisri. Apabila seseorang Pendeta memiliki spiritualitas yang tinggi, dia itu tidak pernah melihat dirinya lebih hebat atau lebih super dari temannya (Band.Pil.2 : 3), melainkan jauh dari segala bentuk kesombongan, keangkuhan, dan kecongkakan yang adalah merupakan racun didalam pergaulan. Selanjutnya, seorang Pendeta hendaknyalah memiliki spiritualitas yang tinggi yang didalamnya terkandung kerendahan hati. Dan didalam kerendahan hati sesama Pendeta ataupun sesama pelayan dapat saling menerima, saling menghargai, dan saling menghormati, sehingga terciptalah hubungan yang harmonis antar pelayan. Sehingga secara tidak langsung hilanglah anggapan orang; Ai so binoto be angka pandita on, ai nasida pe ndang sada be, ndang masihormatan be, isara na umposo tu na matua, jala nunga olo masiparoaan. Walaupun ada anggapan seperti itu, semuanya itu akan hilang apabila setiap Pendeta tetap menjaga dan memelihara hubungan ataupun parhahamaranggion yang harmonis.

Disinilah perlunya peningkatan hidup spiritualitas bagi seorang Pendeta. Kemudian di pihak lain, Yesus menunjukkan persaudaraan yang lebih dekat karena firman Allah daripada persaudaraan karena hubungan darah (Luk.8 : 18-21). Hal ini memberikan suatu gambaran bagi kita; Alangkah indahnya hubungan sesama pelayan apabila didasari dan dilandasi kedekatan kepada Tuhan melalui penghayatan yang mendalam akan firmanNya yang intinya adalah kasih. Apabila para Pendeta memiliki hidup spiritualitas atau hidup kerohanian yang tinggi-marpartondion, sudah barang tentu hubungan kita sesama Pendeta ataupun antar pelayan akan diikat cinta kasih, dan kita jauh dari saling menjelek-jelekkan, tetapi sebaliknya saling mencintai, seperasaan-sapangkilalaan, solidaritas atau kesetiakawanan semakin nampak dan nyata.

KESIMPULAN

Dari uraian-uraian di atas dapat kita tarik kesimpulan, bahwa : Hidup spiritualitas seorang Pendeta sangat menentukan akan hubungan yang harmonis sesama Pendeta yang pada akhirnya sesama pelayan. Sudah barang tentu, sangat diperlukan peningkatan spiritualitas Pendeta, sehingga dengan demikian kita dimampukan menjauhkan gaya hidup yang diwarnai kesombongan, dan mampu menempatkan diri menjadi teladan disertai sikap yang penuh kasih dan kerendahan hati. Sebagai hamba Tuhan, tidak saatnya lagi saling menjelek-jelekkan (masiparoaroaan-masihatahataan), tetapi dengan didasari cinta kasih dari Tuhan dapat saling menerima, saling menghormati, dan saling menghargai. Amin.

Renungan Paskah: Mewujudkan keberpihakan kepada manusia dengan berbagai pergumulan

Perayaan Paskah hendaknya mampu mendorong untuk lebih mewujudkan keberpihakan kepada manusia dengan berbagai pergumulan yang di hadapi di tengah kehidupan. Komitmen untuk mengangkat harkat dan martabat manusia, untuk memberi perspektif masa depan yang baru bagi manusia harus menjadi agenda dan fokus utama dari pelayanan gereja- gereja.

Perayaan Paskah hendaknya dimaknai secara baru dengan kesediaan dan keterbukaan untuk ditransformasi oleh kuasa kebangkitan Kristus, sehingga melaluiNya pemantapan persekutuan lintas denominasi makin terwujud, dan ikatan persaudaraan diantara sesama warga bangsa dapat terus-menerus ditumbuhkembangkan.

Pesan Paskah ini kami akhiri dengan menggarisbawahi Firman Allah : “Tetapi syukur kepada Allah, yang telah memberikan kepada kita kemenangan oleh Yesus Kristus, Tuhan kita. Karena itu, saudara-saudaraku yang kekasih, berdirilah teguh, jangan goyah, dan giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan! Sebab kamu tahu, bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia. (I Korintus 15 : 57, 58). (Pdt Midian KH Sirait,MTh)

Renungan Jumat Agung:”Aku Tidak Mendapati Kesalahan Apa pun pada-Nya”

Oleh: Pdt. Midian KH Sirait, MTh
(Praeses HKBP Distrik X  Medan Aceh)

Pernyataan di atas ini menjadi penting ketika kita diingatkan oleh pernyataan Pilatus, sang algojo, hakim yang mengadili Yesus. “Aku tidak mendapat kesalahan apa pun pada-Nya.” Ucapan itu biasanya diingat umat Kristiani dalam setiap perayaan Jumat Agung. Tetapi ucapan itu juga mengingatkan umat manusia bahwa perjuangan menegakkan kebenaran dan keadilan bukanlah mudah. Tegasnya, banyak hambatan dan masih harus terus menerus diperjuangkan, apalagi ketika umat Kristen dalam memperirangi Jumat Agung, pasti akan diingatkan tugas yang amat mulia harus memperjuangankan kebenaran dan keadilan.

Kesaksian Kitab Injil mengenai proses pengadilan Yesus yang berakhir dengan vonis hukuman mati oleh Pilatus, penguasa Romawi setaraf Gubernur pada waktu itu (cf. Matius 27:1-44), Keempat Injil memberitakan bahwa para imam Jahudi bersekongkol untuk membunuh Yesus karena pekerjaan dan ucapan Yesus dianggap merongrong kewibawaan agama Jahudi. Yesus harus disalibkan dan orang Farisi mempengaruhi publik untuk membebaskan Barabas penyamun, dan menyalibkan Yesus. Pengadilan yang dilakukan oleh Pontius Pilatus pengadilan sandiwara dan formalitas saja. Hukuman sudah diputuskan sebelum sidang pengadilan itu berlangsung.
Pilatus berkata: “Aku tidak mendapati kesalahan apa pun pada-Nya”. Pernyataan itu membuyarkan pengadilan massa yang telah lebih dahulu menclaim, sang Yesus itu bersalah. Pilatus yang ditekan massa dan mendesak untuk dijatuhkan fonis hukuman. Gambaran kebrutalan manusia tanpa didasari kebenaran itu sempat meragukan Paulus, antara salah dan benar.
Gambaran itu menjadi jelas ketika film The Passion of the Christ, karya Mel Gibson ditonton. Keraguan dan pendirian yang  ambivalen (mendua) itu, menyelimuti hati dan pikirannya. Bisikan sang istri turut mempengaruhinya, agar keputusan yang dijatuhkan Pilatus tidak dipengaruhi oleh amukan masa. Namun yang terpentingkan ialah, keputusan yang keluar dari mata hati.
Mungkin akan muncul pertanyaan, mengapa Paulus ragu? Keraguan itu mencuat ketika ia dihadapkan antara kepentingannya secara pribadi dengan kepentingan yang lain. Orang yang ragu melakukan dan bertentangan dengan mata hati atau kata hati, hasilnya juga akan mempengaruhi identitas dan integrity seseorang, termasuk Paulus. Ia di satu sisi ingin memnduduki dan memiliki jabatan terhormat, di sisi lain ia bergumul antara kebenaran dan ketidakbenaan. Aneh tampaknya! .
Memang benar, manusia akan menjadi aneh ketika ia tidak lagi berpihak kepada kebenaran. Kebenaran itu hanya ada di dalam diri Yesus. Menghukum atau menjatuhkan kesalahan, ponis, menjadi pergulatan antara salah dan benar. Tentu memperjuangkan agar berpihak kepada yang benar dan berkadilan, tidaklah mudah. Ia butuh proses. Yaitu proses untuk menjembatani antara kebutuhan pribadi dengan kebtuhan Tuhan sendiri.
Amat disayangkan, ternyata Pilatus bukan penguasa yang memiliki pribadi yang tegas, katakan salah jika salah dan benar jika benar. Tampak di sana, ketidakkonsistenan Pilatus, yang telah diukir dalam sejarah perjalanan hidupnya. Akibat dari semua penampakan integrity sang pemimpin menjadi lemah, sarat dengan kelemahan dan mengakibatkan kewibawaaannya diragukan. Sebagai penguasa dan tokoh pemerintahan, jelas dia adalah seorang politikus. Mengenai Yesus yang dihadapkan oleh para pemuka agama kepadanya untuk diadili, Pilatus dalam hati kecilnya sebenarnya yakin bahwa Yesus tidak bersalah apapun, sehingga tidak seharusnya dipidana. Namun demi mempertahankan popularitasnya di kalangan rakyat, dan berkaitan dengan itu kedudukan dan jabatannya di pemerintahan, akhirnya dia tega mengorbankan Yesus dan menghukum-Nya.
Sungguh teramat aneh, dalam hal ini Yesus telah menjadi korban dari fanatisme dan manipulasi para pemuka agama, yang tak mustahil sebenarnya hanyalah wujud dari egoisme, ambisi dan arogansi pribadi dan golongan belaka. orang yang dijuluki penguasa dan sipengendali teriorial itu mendesak, agar Yesus memberi jawab atas tuduhan dan pertanyaan yang dilontarkan kepada Yesus. “Engkau inikah Raja Orang Yahudi?”, dan pertanyaan teologis/filosofis: “Apakah kebenaran itu?”, kata Pilatus dalam sidang pengadilan kepada sang Yesus. Sejarah mencatat, Orang Nazaret itu mesti dihukum mati demi memuaskan keinginan para pemimpin agama beserta massa pengikut mereka, dan mengamankan jabatan politik sang penguasa, Pilatus. Dan Pilatus membasuh tangannya! Pilatus memilih mengingkari kebenaran dan keadilan. Dalam hal ini Yesus telah menjadi korban ambisi dan oportunisme politik penguasa, demi popularitas dan kelestarian kedudukannya
Pengadilan pun memutuskan, bahwa Yesus bersalah, meski Pilatus sendiri berkata: “Aku tidak mendapat kesalahan apa pun pada-Nya”. Memang logika hukum dan kenyataan keadilan tidak selalu berjalan seiring. Antara praktek dan kenyataan sering tidak sejalan. Kenyataan itu mengingatkan kita dalam Jumat Agung saat ini. Perjuangan kita masih panjang. Maka seruan untuk tidak berputus asa rasanya tepat untuk dikemukakan. Dalam pernyataan teologi, Jumat Agung mengingatkan kita, penderitaan bukan kata akhir, meski Yesus harus menjalani hal itu. proses pengadilan Yesus tersebut, Yesus telah menjadi korban dari keadaan, di mana fanatisme sempit dan kelicikan para pemuka agama, oportunisme dan ambisi penguasa, serta emosi massa yang terhasut dan tak terkendali, secara bersama-sama telah melahirkan vonis pidana mati yang sewenang-wenang dan tidak adil itu.
Di sana, di kayu salib tergantung selama tiga jam, memberi sinyal kepada kita bahkan untuk saat ini umat Kristen diingatkan untuk terus berupaya untuk menghentikan kekerasan, diskriminasi, ketidakadilan, ketidakjujuran, dan eksploitasi manusia. idup manusia lekat dengan kekerasan. Hal ini ditandai dengan makin maraknya bentuk kekerasan yang terjadi di sekitar kita. Tema konflik yang muncul kepermukaan ditandai dengan tindak kekerasan. Bumi penuh dengan aroma kekerasan. Benar ungkapan Jacques Ellul: kekerasan yang satu akan melahirkan bentuk kekerasan yang lain.
Sebab, fokus salib itu adalah dialamatkan kepada manusia dan kemanusiaan akan mendorong untuk menghentikan hukum yang menindas, yang pada gilirannya akan memampukan kita meyakini membangun kesejahteraan, kebudayaan dan pengetahuan yang luhur, mengurangi kemiskinan, keterbelakangan, dan pengangguran.
Akhirnya, hidup Yesus juga lekat dengan kekerasan, meskipun Yesus tidak pernah melakukan tindak kekerasan. Tangan Yesus selalu penuh dengan cinta kasih, menolong orang yang membutuhkan, dan melakukan kebaikan. Tetapi dunia riil, di sekitar Yesus bukanlah dunia yang steril tanpa noda. Di akhir periode hidup Yesus pun, akhirnya Ia menjadi korban tindak kekerasan dari orang- orang yang amat dikasihiNya. Tindakan yang sangat biadab untuk zaman itu, dan mengkambing-hitamkan orang yang tidak bersalah dengan disalibkan. Namun roh dan semangat pembaharuan yang dihembuskan oleh Yesus mengusik kemapanan mereka. Dalam sekejap, berkembang cepat menjadi suatu tragedi. Yesus datang membawa misi religiusNya, yaitu misi Allah. Tujuannya, menghadirkan suasana “Kerajaan Allah” di dunia. Wujudnya, damai sejahtera yang bercirikan kebenaran dan keadilan menjadi suatu kenyataan dalam hidup sehari-hari (Lukas 4:16-20).
Dengan demikian, penderitaan, kesengsaraan dan wafat-Nya itu bukan merupakan kekalahan dan kegagalan missi-Nya (Injil Matius 16:21-28; 17:22,23; 20:17-19; 26:1-5). Semasa hidup-Nya di dunia ini Yesus berkali-kali telah menyatakan kepada para pengikut-Nya bahwa demi karya penyelamayan-Nya bagi dunia dan umat manusia, Dia harus mengorbankan Diri dengan menjalani penderitaan dan kesengsaraan sampai mati. Mari kita hindari integritas Paulus yang mendua itu agar kita lebih memilih Yesus yang memberi dirinya untuk korban orang lain, agar mereka selamat. Amin

Renungan Paskah: Kebangkitan dan kemenangan Kristus

Oleh: Pdt. Midian KH Sirait, MTh

(Praeses HKBP Distrik X Medan Aceh)

 

D

Dalam suasana penuh rasa syukur dan sukacita yang menggempita, hari-hari ini umat Kristen Indonesia dan seluruh dunia memasuki hari raya Paskah, hari peringatan kebangkitan Kristus dari kematian. Syukurlah, dalam hal ini penderitaan, kesengsaraan dan kematian yang dijalani Yesus mempunyai makna penebusan bagi manusia. Karena manusia sendiri tidak mampu melakukannya, maka melalui penderitaan, kesengsaraan dan kematian-Nya, Yesus menggantikan manusia yang oleh dosa-dosanya seharusnya menerima hukuman berupa penderitaan, kesengsaraan dan kematian itu.

Dengan demikian, penderitaan, kesengsaraan dan kematian yang harus dijalani Yesus demi tergenapinya missi penyelamatan-Nya itu, bukan kelemahan, kekalahan ataupun kegagalan. Dan ini dibuktikan dengan kebangkitan-Nya dari kubur di Hari Paskah. Kalau karya Yesus benar- benar berhenti atau dihentikan oleh kematian-Nya, memang missi penyelamatan-Nya boleh dikatakan tidak lengkap dan bahkan gagal. Tetapi syukur kepada Tuhan, karya Yesus tidak berhenti hanya sampai salib di Jumat Agung. Dengan kematian dan selanjutnya kebangkitan-Nya itu, dinyatakanlah betapa besar kasih, pengorbanan dan pengampunan, yang adalah juga manifestasi dan wujud dari kemahakuasaan-Nya yang melampaui segala kuasa dan keperkasaan yang bersifat manusiawi dan duniawi.

Paskah tahun 2007 ini menginspirasikan dan memotivasi kita untuk memusatkan perhatian dan pemikiran kepada makna Kebangkitan Kristus pada masa kini di dalam sejarah kehidupan kita. Paskah yang dipahami sebagai kebangkitan Kristus dari kematian, mendorong kita untuk mewujudkan keadaan yang kondusif dan damai. Kita percaya bahwa Yesus Kristus telah hidup dari kematian, kini Dia menciptakan kemanusiaan baru; kemanusiaan yang adil dan yang memiliki tanggung jawab dalam mengukir masa depan.

Kita meyakini bahwa momentum Paskah selalu memberikan secercah optimisme, sekalipun pada saat ini rasa kemanusiaan kita sedang terusik. Pada saat ini, kemanusiaan akan menjadi wacana penting sewaktu kita menyaksikan keadaan dunia menunjukkan ketidakberuntungan, bencana alam, dan dampak buruk globalisasi yang langsung atau pun tidak langsung, berimbas kepada masyarakat Indonesia terutama kaum muda dan anak-anak. Efek dari penggambaran sengsara Yesus selayaknya menjadi simbol yang menawarkan undangan untuk setiakawan dengan saudara-saudari yang menderita, yang menjadi korban.

Misteri Paskah tidak berhenti pada kayu salib, melainkan diikuti tindakan Allah yang membangkitkan Yesus dari alam maut, dan menganugerahkan roh yang satu dan sama dengan Roh yang menghidupi Yesus. Anugerah penebusan bagi umat beriman kristiani berarti menerima panggilan untuk menjalani hidup mengikuti Yesus, ikut memperjuangkan apa yang dikatakan dan yang dilakukan oleh Yesus, untuk menemukan Yesus pada yang paling hina, yang lapar, haus, telanjang, tak punya tumpangan, sakit, dan tersingkirkan. Misteri Paskah membawa undangan untuk ikut serta secara kreatif bekerja demi nilai-nilai yang diperjuangkan dan dibela oleh Yesus dengan menanggung risiko kematian di kayu salib. Dari perspektif misteri Paskah, ukuran untuk menilai adalah apa yang diperjuangkan dan dibela oleh Yesus dengan risiko sampai kematian di salib, yang dibenarkan oleh Allah dengan membangkitkan dari alam maut.

Paskah adalah pilihan, pilihan yang ditempuh Yesus Kristus dan pilihan itu adalah pilihan moral, pilihan yang bertolak dari kebebasan dan kata hati-Nya. Dalam peristiwa Paskah kita diingatkan bahwa Yesus Kristus telah memilih dengan kata hati untuk menempuh kematian demi membebaskan umat manusia dari kuasa dosa dan kuasa maut. Paskah adalah simbol dan meterai menangnya keberanan Allah atas kebatilan manusia. Paskah adalah menangnya kehidupan atas kematian. Paskah adalah menangnya kepentingan bersama umat manusia atas egoisme dan pementingan pribadi, keluarga dan kelompok sendiri. Paskah adalah menangnya pilihan kata hati atas pilihan karena suap dan bujuk rayu kesenangan materialisme.

Paskah berarti kemenangan. Paskah adalah happy end dari cerita penderitaan yang dipilih oleh Yesus Kristus. Kebangkitan adalah kemenangan atas kuasa kematian sekaligus proklamasi kemenangan atas kuasa doa: “Maut telah ditelan dalam kemenangan. Hai maut di manakah kemenanganmu? Hai maut di manakah sengatmu?” Kemenangan hidup atas kematian yang ditandai dan dimeteraikan oleh kebangkitan Yesus Kristus, memaknai setiap pilihan yang diambil dan ditempuh oleh setiap orang percaya.

Paskah – kebangkitan dan kemenangan Kristus – adalah dasar iman Gereja. Rasul Paulus menegaskan hal ini dalam suratnya kepada jemaat Korintus, dengan mengatakan, “Tetapi andaikata Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah pemberitaan kami dan sia-sialah juga kepercayaan kamu.” (1 Korintus 15:14) Penghormatan Gereja terhadap Paskah (termasuk peristiwa Jumat Agung di dalamnya) telah dimulai sejak zaman Gereja perdana dulu. Ibadah-ibadah Paskah selalu menempati tempat penting dalam kehidupan Gereja. Pemahaman dan penghargaan kita atas karya keselamatan Kristus semestinya bertumbuh dan berkembang sepanjang perjalanan kita bersama Dia. Ini berarti seharusnya pertumbuhan dan perkembangan iman kita terjadi setiap hari

Gereja-gereja dan umat Kristen Indonesia dapat belajar banyak dari penderitaan dan kebangkitan yang telah dijalani oleh Yesus Kristus. Penderitaan yang dijalani Yesus memberi makna bagaimana Ia memiliki komitmen tinggi terhadap pembaruan kemanusiaan; bahwa Ia sedia mengambil alih penderitaan yang mestinya dijalani manusia menjadi bagian dari sejarah hidup-Nya, dan tanggung jawab-Nya. Tuhan Yesus berkata: “Karena engkau telah melihat Aku, maka engkau percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya.” (Ayat 29) Tampaknya bukan hanya Tomas yang perlu mendapat peringatan itu, melainkan juga kita. Selamat Paskah!

KERUKUNAN MEMBAWA BERKAT

 Oleh: Pdt. Midian KH Sirait, MTh

Praeses HKBP Distik X Medan Aceh

Kerukunan adalah kata yang indah dan akan lebih indah lagi, jika kata itu menjadi kenyataan dalam kehidupan kita. Bagaimana Tuhan memandang kerukunan dalam kehidupan manusia? Jelas dan pasti bahwa Tuhan amat berkenan dengan kerukunan manusia itu. Bahkan, Tuhan akan memerintahkan berkat-Nya kepada siapa saja yang hidup dalam kerukunan. Berikutnya, kerukunan juga diharapkan hadir dalam kehidupan masyarakat sehingga ada kesatuan dalam usaha untuk membangun kehidupan bersama seluruh warga masyarakat. Dengan demikian kerukunan dalam hidup bernegara akan membela kehormatan kita bersama. Tegasnya, kerukunan adalah kehendak Tuhan Allah!

Harus diakui, bahwa tidak mudah untuk mewujudkan kerukunan tsb. Namun jika orang memahami tingginya nilai-nilai kerukunan tsb, pasti kita akan menghargai kerukunan sebagai harga mati. Sebabnya, hidup rukun berarti terciptanya kedamaian dan persdamaian. Lebih dari itu, nilai kerukunan akan menstabilitaskan kehidupan kemasyarakatan kita. Di sana akan tercipta, saling menghargai, saling menghormati dan terakhir akan saling mengasihi. Tuhan Yesus sendiri memberi pesan dari kesepuluh hukum Taurat, bahwa tiap orang yang ingin memikul salibNya, harus mengasihi Allah dan mengasihi sesama (Mat 22:37-39). Bahkan stressing Yesus di sana tampak hukum kasih itu harus menjadi yang terutama. Jadi, kerukunan sayratnya harus ada saling menghasihi.

Tak mengherankan, ketika rasa saling yang dimaksudkan di atas bisa terwujud ditengah-tengah komunitas kita bersama, maka sudah barang tentu, hidup kita akan aman dan tentram. Di sana ada rasa aman, maka hak-hak azasi manusia akan sangat dihargai dan saling menghargai. Sayang, dalam praktiknya banyak peristiwa yang menunjukkan betapa sering orang kurang menghargai sesamanya di mana mereka ada. Mereka beranggapan hidup didunia ini dapat sendirian. Pada hal, manusia dicipta Allah untuk saling berkomunikasi (Kej 1). Bahkan dalam hukum pernikahan kudus, tidak baik kalau manusia itu seorang diri saja, Aku akan memberi dia penolong. Itu dimaksudkan Allah kepada Adama agar Hawa menjadi penolong, sesuai dengan kehendak Tuhan. Itu tandanya Allah menghendaki kerukunan tsb.

Kurangnya perhatian atas kerukunan atau hidup rukun, bagi umat Kristen diartikan karena kurang iman. Penulis Ibrani (Ibr11:1), menyebutkan, iman adalah dasar dari segala sesuatu. Jadi iman ukuran ada tidaknya rasa saling mengasihi dan rasa saling menghormati ditentukan oleh iman seseorang. Ketika orang kurang iman, tak mengherankan orang seperti itu akan sering menciptakan masalah. Misalnya, akibat kurang menghargai sesamanya akan sulit punya wacana hidup yang bernilai orang lain itu adalah wajah dari Tuhan sendiri.

Kita menyadari bahwa setiap orang apapun agama yang dianutnya ialah ciptaan Allah, sebagaimana Tuhan menciptakan dunia ini dari yang tidak ada menjadi ada (creation ex nihillo). Tak salah kalau kita menyebut pribadi manusia secara utuh adalah gambar Allah atau imago Dei. Sebagai gambar Allah dalam tindakannya mewujudkan kehendak Allah. Salah satu kehendak Allah dari tiap pribadi manusia itu, harus bisa menciptakan hidup rukun. Hidup rukun adalah pilar untuk menguasai dunia ini dengan segala perobahan yang ada di dalamnya. Menurut Mazmur 133:1, syarat untuk hidup rukun, ialah harus bias duduk bersama. Dukud di sini maksuddnya, ketika menghadapi berbagai persoalan hidup akan dimampukan untukan menyelesaikan masalah. Jadi, ciri umat Kristen harus menghadapi setiap persoalan yang ada bukan sebaliknya menghindar dan membiarkan masalah tetap menjadi masalah.

Tak heran kalau Salomo menyebut, agar tiap orang beriman dapat hidup rukun, jemaatNya, punya hikmat dan kebijaksanaan, ia harus takut akan Tuhan (Amsal 1:7).Pengertian takut di sini, sebagaimana kita mestir maksud Yesaya, rancanganmu bukan rancanganKu. Selama rancangan yang kita terapkan dalam hidup ini adalah rancangan Tuhan, sudah barang tentu kita akan dimampukan untuk hidup rukun. Sebab kerukunan itu sendiri harus dijamin lewat kebutuhan. Kebutuhan kita, ialah hidup bersama orang lain. Artinya, kebutuhan kita secara hakekat kemanusiaan kita ialah kita hidup bukan untuk diri sendiri tetapi untuk orang lain. Itu yang dimaksudkan, hidup kita akan bernilai kalau yang  dicitacitakan itu bermanfaat bagi orang lain. Kita tentu setuju bahwa tak ada seorang manusia normal yang dapat hidup sendirian di dalam dunia ini. Manusia sebagai homo socius, mahluk social, tiap manusia pasti butuh orang lain. Sebagai makhluk social ia akan bersekutu dengan yang lainnya. Di sanalah, nilai-nilai kerukunan menjadi amat penting dalam hidup kita.

Mazmur menyebut, tujuan hidup rukun itu agar hidup kita mendapatkan berkat (Maz. 133:3). Hingga kerukunan harus diyakini sebagai rahmat Allah dari Allah yang rahimi, yang mencurahkan segala isi hatinya demi kebaikan dari manusia itu. Kerukunan menghadirkan berkat Tuhan, demikian kesimpulan kita. Karenanya kita adalah satu dalam kesatuan bangsa dan hidup di negeri yang sama sebaiknya semua potensi yang dimiliki mendahulukan bahkan membudayakan hidup rukun, melalui tema persaudaraan yang rukun. Dengan tema seperti itu, hidup kita akan diberkati Tuhan, juga bangsa yang rukun, akan mendapatkan berkat lewat kesejahteraan, jasmani dan rohani.

Akhirnya, pesan Tuhan tidak berhenti hanya agar kita hidup dalam kerukunan, karena ternyata Tuhan juga berjanji memerintahkan berkat-Nya untuk kehidupan yang langgeng ke tengah mereka yang hidup rukun. Berkat Tuhan dapat berupa keberhasilan, kesejahteraan atau kesentosaan hidup dalam kurun waktu yang panjang yang pasti bermanfaat bagi kehidupan kita masing-masing. Amin

Gereja Harus Pandai Meraih Hati Masyarakat

Pdt Midian KH Sirait,MTh pada Seminar Oikumene  dan Misi Lintas Budaya GBKP Balikpapan:

Balikpapan – Kehadiran gereja di dunia ini diutus untuk menjadi gereja bagi orang lain. Hal itu didasari ketika Yesus mengajar murid-muridNya bahwa persekutuan bagian dari sebuah keluarga, menjadi saudara di dalam Kristus, untuk melayani Yesus. Artinya, gereja menjadi tempat bagi kita untuk bersekutu dan saling menolong satu sama lain, demikian awal paparan Pdt Midian KH Sirait,MTh Ketua BKSGB Balikpapan yang juga Pelaksana Praeses HKBP Distrik Borneo dalam paparan ceramahnya di Gereja Batak Karo Protestan (GBKP) Balikpapan, pada hari Sabtu 25/2,2012.

Seminar yang diberi judul “Oikumene dan Kerjasama Antar Gereja dalam Lintas Budaya”, dengan moderator Pdt David Tarigan,STh yang diikuti oleh pengerja GBKP dari Samarinda dan Balikpapan, menurut Pdt Midian KH Sirait, Pendeta HKBP Resort Balikpapan bahwa Gereja bagi orang lain itu adalah gambaran dari suatu keyakinan teologis dan ikrar bahwa Yesus adalah manusia bagi orang lain. Selanjutnya dikatakan, manusia bagi orang lain berarti menurut kepercayaan Kristiani justru karena Dia mau menjadi manusia bagi orang lain maka Dia sampai mengorbankan diriNya. Dengan pemikiran seperti ini, gereja harus melakukan hal yang sama, tandas Sirait.

Dalam hubungannya dengan lintas budaya, sebaiknya gereja harus mempedomani dan pandai-pandai meraih hati tentangga dan masyarakat di sekitar bagian dari kehidupan berbudaya dan beragama. Hanya dengan itu maka perbedaan tidak lagi menjadi penghalang dalam berkomunikasih dengan orang lain. Hubungan dalam lintas budaya membuktikan gereja dapat bekerjasama dan menciptakaan solidaritas serta mampu hidup bertolerasi dengan yang lainnya, termasuk dengan GBKP yang letaknya 10 Km dari Kota Balikpapan, demikian jawaban Penceramah Pdt Midian KHSirait,MTh  yang juga sebagai Pelaksana Praeses HKBP Persiapan Distrik Borneo  atas pertanyaan H Sinulingga dalam diskusi interaktif dengan peserta Seminar.

Makna Mengucapkan Amin dan Haleluyah

“Kedua puluh empat tua-tua dan keempat makhluk itu sujud dan menyembah Allah yang duduk di atas takhta itu, dan mereka berkata, ‘Amin, Haleluyah'”. Wahyu 19 : 4

Kata Amin dan Haleluyah merupakan dua kata yang begitu populer dan berkuasa dalam kekristenan ini. Walaupun sebagian orang Kristen ada yang masih enggan untuk mengucapkan kedua kata ini dalam kehidupan sehari-hari. Dalam ayat di atas kita membaca bahwa kata Amin dan Haleluyah diekspresikan di sorga pada pesta perkawinan Anak Domba. Kenapa kita perlu mengikuti pola surga? Surga adalah tujuan kita! Surga adalah model kekristenan di dunia ini. Surga adalah satu keadaan yang real, yang nanti kita alami. Tetapi suasana sorga dapat juga kita alami di bumi. 

Kata A m i n

Amin dalam bahasa Ibrani disebut “ammen” artinya setuju, teguh, benar, setia. Amin adalah suatu respon kepada kebenaran. Wahyu 3:14….inilah firman dari Amin, Saksi yang setia dan benar….” Amin adalah gelar dari Tuhan. Jadi apabila kita mengucapkan amin berarti menyebutkan Tuhan yang adalah benar.

Dalam Ulangan 27:15, 17-26 dijelaskan bahwa semua orang Israel harus menjawab amin apabila ada firman Tuhan dalam bentuk peringatan. Gunanya adalah supaya peringatan Tuhan itu diingat. Jadi keliru besar jika ada orang menggunakan atau mengucapkan kata amin itu hanya untuk mengakhiri sebuah doa. Kita harus membiasakan mengatakan Amen, bilamana pengkhotbah atau pemimpin ibadah menyatakan suatu kebenaran firman Tuhan. Kita katakan Amin bilamana ada firman atau nubuatan atau kata-kata berkat. Amin harus diucapkan! Mengucapkan amin berarti kita memberikan respon kepada Firman Tuhan. (Mazmur 106:48).

Kata H a l e l u y a  h

Haleluyah dalam bahasa Ibrani disebut “halelluyah” yang terdiri dari dua kata yaitu halel dan Yahweh yang berarti pujilah Tuhan. Dan dalam bahasa Yunani disebut denan “aleluya” yang artinya pujilah Tuhan.

Wahyu 19:1,3,4,6. Di sorga kata haleluyah adalah kata pujian dan sembahan yang ditujukan kepada Allah yang Mahatinggi. Kata haleluyah adalah kata yang penuh dengan kuasa. Iblis sering memperdaya sebagian orang Kristen untuk tidak mengucapkan kata amin dan haleluyah, karena iblis tahu bahwa kedua kata ini mempunyai kuasa yang sangat besar. Dengan ilhaman Roh Kudus pemazmur menekankan betapa pentingnya mengucapkan haleluyah. Mazmur 146:1; 147:1; 148:1;149:1; 150:1,6. Semua yang bernafas selalu harus memuji Tuhan dan selalu mengatakan : Haleluyah!

Oleh sebab itu jadikanlah pengucapan “Amin” dan “Haleluyah” sebagai gaya hidup kita. Saudara akan diberkati lewat mengucapkan kedua kata ini. Tuhan Yesus memberkati!

HENTIKAN KEKERASAN DENGAN KEBAIKAN DAN PENGAMPUNAN

HENTIKAN KEKERASAN DENGAN KEBAIKAN DAN PENGAMPUNAN

Oleh: Pdt Midian KH Sirait,MTh

Aksi kekerasan di tanah air seolah tiada hentinya. Masyarakat mengalami atau berada dimana ikatan sosial, solidaritas sosial dan segala bentuk kerja sama sosial yang terpelihara selama ini mengalami keretakan. Bangsa kita menghadapi berbagai permasalahan serius, yang terutama adalah kekerasan yang terus menghiasi pemberitaan media elektronik dan media televisi.

Sebagai orang-orang yang sudah menjadi anak-anak Tuhan, maka setiap orang Kristen dituntut untuk memperlihatkan karakter pembawa damai di tengah masyarakat yaitu mengalahkan kekerasan dengan kebaikan dan pengampunan.

Secara filosofis, fenomena kekerasan merupakan sebuah gejala kemunduran hubungan antarpribadi, di mana orang tidak lagi bisa duduk bersama untuk memecahkan masalah. Hubungan yang ada hanya diwarnai dengan ketertutupan, kecurigaan, dan ketidakpercayaan. Dalam hubungan seperti ini, tidak ada dialog, apalagi kasih. Semangat mematikan lebih besar daripada semangat menghidupkan, semangat mencelakakan lebih besar daripada semangat melindungi. Inti kekerasan adalah pembenaran mutlak diri sendiri atau peninggian mutlak diri sendiri disertai perendahan mutlak orang lain.

Peran gereja dan umat amat dibutuhkan perhatian dan kontribusi dalam menanganinya. jangan bersikap menunggu dalam berbuat. Ketegasan gereja dan umat menjadi kunci utamanya, yaitu menciptakan dan membangun Indonesia yang ditandai solidaritas dan perdamaian, terciptanya penghormatan, dialog, dan persaudaraan. Yaitu dengan cara membangun komitmen bersama diantara umat dan masyarakat lainnya sehingga terlihat kerjasama yang baik di dalam menggembalakan kawanan domba Allah di dunia ini.

Kekerasan dihadapi dengan kebaikan Gereja sebagai bagian dari masyarakat, tidak bisa mengacuhkan tanggung jawab sebagai pembawa damai. Ketika gereja secara proaktif mengupayakan dan mempromosikan perdamaian di tengah masyarakat, maka pada akhirnya dunia akan melihat gereja sebagai komunitas yang merepresentasikan karakteristik Allah yang senantiasa menghendaki perdamaian.

Ajaran agama tidak mungkin membenarkan kekerasan sebagai alat atau cara untuk mengakhiri sebuah kekerasan. “Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu” (Mat 5:44). Tidak membalas, merupakan sikap sejati yang diajarkan Tuhan Yesus. Kepada orang-orang yang menfitnah dan menganiayanya Ia berdoa supaya Tuhan mengampuni mereka sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat (Luk 23:34). Sebagai warga dan umat Kristen yang tinggal di Indonesia tentu berharap terciptanya kedamaian, ketentraman, persaudaraan, tidak ada lagi kerusuhan, semua persoalan tidak diselesaikan dengan kekerasan.

Hentikan kekerasan dengan kebaikan, lebih jeli untuk mengatasinya. Itulah idealnya. Perlu digunakan kearifan. perlu diupayakan dialog. Karena itu peristiwa-peristiwa kekerasan harus dijadikan pembelajaran agar bisa diambil jalan keluar yang memuaskan masing-masing pihak. Kekerasan dihadapi dengan pengampunan

Alkitab menggolongkan orang hidupnya penuh dengan kekerasan adalah orang yang tidak percaya memiliki keinginan merusak rencana Tuhan. Untuk menyelesaikan rencananya, yang diinginkannya menghancurkan benih kebenaran. Alkitab mengatakan, “Orang yang menggunakan kekerasan menyesatkan sesamanya, dan membawa dia di jalan yang tidak baik” (Ams 16:29). Janganlah meniru orang lalim dan janganlah memilih satupun dari jalannya (Ams 3 : 31). Orang lalim akan menderita karena kekerasan.

Kutipan Kitab Amsal ini ingin memberikan kepada kita saran mengatasi kekerasan kesabaran dan kelembutan untuk mengatasi masalah kekerasan. Dari kutipan nats di atas, maka Alkitab mengajarkan kita bahwa satu solusi terhadap kekerasan adalah pengampunan. Yesus mengajarkan murid-muridnya untuk berdoa. Ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami (Mat 6:12). Mengampuni memutus mata rantai tudingan dan sakit hati, memutus lingkaran setan kebencian.

Di Perjanjian Baru, kata dalam bahasa Yunani yang umum dipakai untuk pengampunan bermakna secara harfiah “melepaskan”, “membebaskan diri” dari sesuatu. Pengampunan karena kasih yang memampukan untuk tetap bertahan dan bertumbuh dalam kesabaran dan kelemah-lembutan adalah buah dari Roh Allah yang sangat dibutuhkan dalam mengatasi kekerasan. Mengampuni membawa kita untuk maju, tetapi mendendam mengikat kita pada masa lalu, kepahitan yang sudah terjadi, sakit hati yang sudah dialami, dan seterusnya.

Pengampunan, menawarkan sebuah jalan keluar. Ketika Yusuf mengampuni saudara-saudaranya di, dia berteriak dan menangis dengan suara nyaring (Kej 45). Pengampunan yang diberikannya adalah kemerdekaan bagi dirinya. Kekuatan dahsyat dari pengampunan adalah transformasi. Teladan pengampunan kita adalah Tuhan yang telah mengampuni kita, karena itu pengampunan kita juga tidak diberikan batas. Hanya pengalaman kasih Allah yang dapat mengubah hati manusia yang seperti batu, membebaskan manusia dari perhambaan dan membuatnya mampu untuk melepaskan diri dari struktur-struktur yang beku K

ekerasan dihadapi dengan akal sehat.  Bersama Allah, kita akan gagah perkasa. Dialah yang mengalahkan musuh kita. (Maz 60:12-13). “Ya Allah, tolonglah kami menghadapi musuh-musuh kami, karena bantuan manusia tidak berguna. Dengan pertolongan Allah kita akan melakukan perkara-perkara yang ajaib, karena Ia akan menginjak-injak musuh kita.” Bersama Allah kita akan mengajak masyarakat untuk tidak pesimistis dalam menyelesaikan permasalahan kekerasan karena tidak sedikit kasus yang menunjukkan jalan keluar atas ketidakadilan ketika Allah terdepan. Segala sesuatu mestinya bisa dibicarakan dan diatasi secara damai dan dengan akal sehat. Inilah solusinya dalam menjawab kerentanan sosial yang semakin meningkat karena masyarakat semakin frustrasi.

Kekerasan tidak mungkin dapat dipakai sebagai alat atau cara mengakhiri kekerasan. Yesus mengajarkan cinta damai sebagai salah satu nilai tertinggi dalam relasi antar-manusia. “Berbahagialah mereka yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah” (Matius 5:9). Kedamaian atau shalom selalu menjadi visi keagamaan. Karena itu, ajaran agama tidak mungkin membenarkan kekerasan sebagai alat atau cara untuk mengakhiri sebuah kekerasan. Akhirnya, kekerasan tidak mendapat tempat dalam dalam Alkitab. Sehingga peran gereja seharusnya terus dikedepankan dan ditonjolkan dalam membangun relasi antar-manusia dan antar-bangsa, sihingga dunia kita ini benar-benar menjadi dunia cinta damai.

Yesus mengajarkan kasih universal antara manusia, dan ketaatan pada kehendak Allah. Pembawa damai adalah orang-orang yang didorong oleh semangat dan komitmen untuk membawa perbaikan di tengah masyarakat yang sedang dilanda kekerasan. Hanya hati yang sudah diubah mampu membangun komunitas manusiawi yang baru, mampu melakukan yang baik.

Jadilah menjadi pembawa damai di setiap waktu dan tempat, mulai dari kesediaan mengembangkan bahasa kelembutan, membiasakan persahabatan hingga membudayakan perdamaian. “Jawaban yang lemah lembut meredakan kegeraman, tetapi perkataan yang pedas membangkitkan marah” (Amsal 15:1). Amin. (Penulis: Pendeta HKBP Resort Kalimantan Timur)